Edisi 07-12-2018
Krisis Politik Pukul Pariwisata Sri Lanka


COLOMBO - Industri travel Sri Lanka mulai menderita akibat krisis politik yang terjadi saat musim puncak turis. Krisis politik memicu pembatalan kunjungan untuk bisnis dan liburan.

Pariwisata menyum - bang sekitar 5% dari total eko - nomi Sri Lanka sebe sar USD87 miliar. Pemecatan perdana men teri (PM) oleh presiden pada Oktober lalu memicu kri - sis yang membuat berbagai lem baga rating kredit menya ta - kan krisis politik telah me mu - kul pertumbuhan ekonomi. “Kita memiliki pembatalan di kawasan itu sekitar 20%,” ungkap Chandra Mohotti, Ma - na ger Hotel Galle Face di ibu kota Colombo. Hotel mewah itu memiliki sekitar 200 kamar. “Biasanya hotel kami penuh. Kami me na - war kan diskon karena kha wa - tir kamar-kamar itu tidak akan terisi,” ujar Chandra pada kan - tor berita Reuters.

Puncak musim liburan dari para turis asal Eropa menjadi sumber utama pendapatan Sri Lanka, selain turis asal India dan China yang biasa datang sejak Desember hingga Maret. Sejumlah pemesanan tiket pen - erbangan telah dibatalkan, ter - utama dari Eropa yang men jadi sumber pendapatan mas ka pai nasional SriLankan Airlines. “Krisis dimulai saat para turis mengambil keputusan ke mana akan pergi. Ini telah mem buat banyak dari mereka mem batalkannya,” kata sum - ber dari SriLankan Airlines. Mahinda Rajapaksa yang menggantikan Ranil Wickre - me singhe sebagai PM tidak men dapat dukungan dari sua - ra mayoritas parlemen dan dice gah Mahkamah Agung (MA) untuk memegang ja bat - an itu.

Kondisi ini meng aki bat - kan pe nundaan anggaran 2019 dan me micu terjadinya perke la hi an di ruang sidang parlemen. Data resmi pemerintah me - nun jukkan jumlah turis naik 16,8% pada November dengan pengunjung dari Eropa naik 37%, meski jumlah turis dari China, Jepang, Timur Tengah, dan Asia Tenggara turun. “Tahun lalu, lebih dari 2,1 juta orang mengunjungi Sri Lanka,” kata otoritas pari wi sa - ta Sri Lanka. Perjalanan bisnis juga ter ke - na dampak krisis itu. Se jum lah perusahaan memindahkan tem pat pertemuan ke negara lain di Asia Tenggara. “Ada se - jum lah pembatalan dan be bera - pa pindah ke Singapura dan In - donesia,” ujar Sanath Ukwatte, Presiden Asosiasi Hotel Sri Lanka.

Dia me nam bahkan pe - me sanan konferensi dan pa me - r an terkena dampak terburuk. Presiden Asosiasi Operator Tur Sri Lanka Harith Perera menyatakan juga melihat pem - ba talan di sektor korporasi. “Saat ini pemesanan turun dan itu mengkhawatirkan. Jika kri - sis sekarang terus terjadi, maka dampaknya akan besar. Pem - ba talan tidak hanya dari para turis Eropa tapi juga tempat lain,” ujar Harith Perera.

Muh shamil