Edisi 07-12-2018
Akademi Komunitas Dirintis di Pesantren


SEMARANG –Pondok pesantren (ponpes) akan diarahkan untuk membuka akademi komunitas. Lembaga pendidikan diploma di pesantren ini akan diharapkan mampu meningkatkan jumlah lulusan tenaga terampil di Indonesia.

Saat ini telah banyak pon dok pesantren yang memiliki jenjang pendidikan SMA/SMK. Ke depan, pemerintah ingin mendorong pesantren tidak hanya mengajar santri untuk kelas pendidikan dasar dan me - nengah, tapi juga pendidikan tinggi. Pesantren dinilai me - miliki peranan penting di area pendidikan, sebab tidak hanya tempat pembelajaran agama Islam, namun juga mencetak manusia yang handal dan mam - pu bersaing di era global. “Kita tingkatkan kualitas - nya ke pendidikan tinggi me - lalui jembatan yang namanya aka demi komunitas. Saya me - nar get kan akan ada 30-40 pon - dok pesantren yang memiliki aka demi komunitas pada ta hun 2019-2020,” kata Menteri Riset TeknologidanPen didik anTinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasirsaatmem bukaacaraSosial - isasi dan peluncuran Akademi Komuni tas Berbasis Pesantren diKantorGubernurJawaTengah, Semarang, kemarin.

Akademi komunitas me - rupa kan salah satu bentuk per - guruan tinggi yang membuka pendidikan vokasi jenjang di - ploma I dan II. Mantan Rektor Universitas Diponegoro (Undip) ini meyakini bahwa semakin banyak lulusan terampil, maka indeks daya saing Indonesia akan semakin meningkat. Indeks ini terutama di bidang pendidikan tinggi dan pelatihan. Pen didikan vokasi di pe san - tren akan ditentukan sesuai dengan potensi di daerah ma - sing-masing sehingga memiliki kekhasan lokal. Dia tidak ingin pesantren hanya terbatas pada jurusan elektro, mesin, atau kom puter. Hal ini agar bisa me - ningkatkan daya saing tenaga kerja dan juga pengembangan potensi daerah.

Bekerja sama dengan Kon - sorsium Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama dan Yayasan Penabulu, Kemen ris - tek dikti menyosialisasikan ben tuk dan persyaratan pen - dirian pendidikan tinggi aka - demi komunitas pada 99 per - wakilan pesantren di Provinsi Jawa Tengah. Saat ini terdapat lebih dari 90 pondok pesantren di Provinsi Jawa Tengah dan lebih dari 70 pondok pesantren di Provinsi Jawa Timur me - miliki pen didik an SMK, tetapi baru ada dua akademi ko mu - nitas di pondok pesantren yang berdiri di Jawa Tengah. Ke depan, Menristek dikti akan mendorong lebih banyak lagi pondok pesantren untuk me - miliki akademi komunitas. Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen meng apre - siasi tumbuhnya aka demi ko - mu nitas pesantren di Jawa Tengah.

Menurutnya, hal itu tidak hanya men dorong santri SMK untuk melanjutkan ke D1, tapijugabisamendoronglulusan men jadi siap bekerja atau ber - wira usaha sesuai dengan ling - kungan sekitarnya. “Presiden meminta untuk menggenjot pembangunan infrastruktur, baru kemudian SDM-nya. Kami harap melalui akademi ko mu - nitasdapatme ningkatkan softskill agar ter bentuk SDM be r kualitas,” katanya.

Standar Baru SMK

Sementara itu, Mendikbud Muhadjir Effendy menyam pai - kan bahwa Kemendikbud ber - sama Kementerian Koor di - nator Perekonomian meng - ubah strategi pembelajaran di SMK yang semula supply driven menjadi demand driven. Se be - lumnya, SMK dibangun dengan tidak memperhatikan peng - guna lulusan SMK, yaitu dunia usaha-dunia industri (DUDI). “Kita susun sesuai kemauan sendiri, reka-reka sendiri, se - olah-olah inilah bidang yang akan diserap dunia usaha dan dunia industri. Itu sekarang kita balik. Kita minta supaya pihak pengguna, pemanfaat lulusan SMK yang menen tu kan, mulai dari kurikulum dan juga proses pembelajaran,” kata nya saat Rembuk Pen didikan Kejuruan SMK di Jakarta.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dalam paparannya menekankan perlunya Kemendikbud menetap kan standar bagi pendirian SMK baru, meski perizinan pen - dirian SMK ada di pemerintah daerah. “Kalau pemerintah dae - rah tidak punya pegangan, tidak ada monitoring, tidak ada enforcement terhadap standar itu, maka semua akan bikin me nurut kemampuan. Padahal tidak bisa seperti itu,” ungkapnya. Darmin mengatakan, Pre - siden Joko Widodo memiliki perhatian besar terhadap SMK karena tingkat pengangguran lulusan sekolah menengah ini berada di posisi teratas. Kon disi itu perlu dibenahi melalui pe - rombakan besar-besaran dalam pendidikandanpelatih anvokasi, khususnya SMK.

“Perlu kom po - sisi yang baik antara kurikulum normatif, adaptif, dan produk - tif. Antara belajar di kelas, be lajar praktik, dan magang di lapang an, juga harus diubah kom po sisi - nya,” katanya.

Neneng zubaidah