Edisi 07-12-2018
Bandwagon Effect


Istilah bandwagon mu lai diperk enalkan pada pertengahan abad ke-19 di Amerika Serikat, mengacu pada sebuah parade musik dan sirkus.

Di situ terdapat ke reta khusus yang membawa alat mu sik dan para pemainnya untuk me - nyemarakkan suasana parade. Kereta musik (band wagon) ini sangat menarik per hatian orang banyak, baik ka rena alun - an musiknya mau pun pe nam - pilan para pe main nya se hingga orang yang men dengar lalu da - tang berduyun-duyun ikut me - ramaikanparadesam bilme nik - mati permainan mu sik. Jalanan menjadi semakin ra mai, suasana kian meriah, se hingga parade menjadi suc - cess story yang disukai rak yat dan ingin diadakan setiap ta - hun, terutama oleh para politisi untuk merebut hati dan sua - ra rakyat. Sejak itu muncul istilah tu - runannya, yaitu jump on the bandwagon.

Politisi yang ingin dikenal publik akan berebut lon cat dan naik ke atas kereta mu sik, mengingat sorot mata ma syarakat akan tertuju ke sa - na. Dengan berdiri di atas bandwagon, maka seorang politisi berharap nama dan wajahnya semakin terkenal. Kemeriahan panggung mu sik dan tontonan ini melahirkan fe - nomena turunannya disebut bandwagon ef fect yang sangat di - sadari kalangan politisi dan pebisnis. Ke tika sebuah produk dan mo del tertentu dipakai oleh seo - rang selebritas di atas bandwagon, ma ka orang banyak akan meng - iku tinya. Masyarakat luas akan ikut-ikutan dan berusaha me mi - liki produksertamodelyangsama agar ikut keren se per ti selebritas. Ketika seseorang menge na - kan produk yang dipakai ka - lang an oleh selebritas, maka dia merasa seakan menjadi bagian dari mereka.

Namun, ketika pe - makai produk itu telah masif dan tak lagi esklusif, maka pro - dusen dan desainer segera akan mengeluarkan produk baru. Pe - ri laku ikut-ikutan inilah dimak - sud dengan bandwagon effect yang secara sadar dan terencana diciptakan oleh kalangan pe bis - nis dan politisi. Lalu, bagaimana implikasi bandwagon effect dalam politik? Ti dak jauh berbeda dari dunia bisnis, dalam dunia politik para politisi ingin meraih hati dan suara rakyat mesti sering-se - ring menyelenggarakan parade serta panggung hiburan atau - pun orasi politik yang mampu menyedot perhatian publik se - cara masif. Tokoh politisi dan selebritas di tampilkan untuk menarik mas sa.

Makanya, tidak meng - he rankan jika setiap menjelang pilkada dan pemilu ber munculan panggung politik diselingi penampilan musik dan artis ter - nama dalam mendulang suara. Tidak hanya panggung orasi dan musik, bermunculan juga baliho-baliho mem per ke nal - kan wajah tokoh-tokoh politik yang tengah bertarung dengan harapan foto itu akan terekam dalam memori calon pemilih se - hingga ketika tiba hari pen co - blos an suara mereka akan me - milihnya. Foto-foto itu dibuat secantik dan setampan mung - kin agar menarik. Dalam teori psikologi massa, masyarakat cenderung ber ang - gap an bahwa apapun yang di la - ku kan orang banyak akan di ang - gap bagus dan benar.

Ukuran benar dan salah, baik dan buruk, akan ditimbang berdasarkan banyaknya massa yang men du - kung nya, bukan berdasarkan hasil pemikiran logis dan kritis. Dengan kata lain, massa lebih menyukai sikap emosional ber - da sarkan perasaan suka dan ti - dak suka, bukannya pemikiran logis dan tidak logis. Efek bandwagon lebih bersifat emosional ketimbang rasional. Apakah bandwagon effect itu salah? Jawabnya bisa iya , bisa tidak, perlu dikaji kasus dan pe - ristiwanya. Hal yang perlu di - garisbawahi, mereka termakan bandwagon effect adalah orangorang yang tidak punya pe nge - tahuan cukup untuk membuat keputusan rasional dan tegas.

Dalam istilah politik, mereka ma suk kategori floating mass atau massa mengambang. Atau mereka masih ragu-ragu se - hing ga membuatnya mantap atas pilihannya. Akhir-akhir ini di saat menjelang pemilu, kita akan disuguhi berbagai pang - gung politik untuk menarik massa sebanyak-banyaknya dengan harapan agar terjadi bandwagon effect.

PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah