Edisi 07-12-2018
NU Struktural versus NU Kultural


Pemilihan presiden/pilpres dan pemilu legislatif/ pileg 2019 akan diselenggarakan serentak pada April 2019.

Ada dua calon presiden (capres) yang berkontestasi di ajang pertarungan Pilpres 2019, yaitu Joko Widodo/Jokowi (calon petahana berpasangan dengan calon wakil presiden/cawapres KH Ma’ruf Amin) yang diusung PDIP dan mitra koalisinya serta Prabowo Subianto (ber pa sa - ngan dengan cawapres San dia - ga Salahuddin Uno) yang di dukung Gerindra dan koa lisinya. Pasangan Jokowi-Ma’ruf men dapat nomor urut 01, sedangkan pasangan Prabowo- Sandi memperoleh nomor urut 02. Kegiatan kampanye pun sudah dimulai sejak dua bulan lalu. Kontestasi politik Jokowi- Prabowo di Pilpres 2019 me ru - pakan per ta ru ngan ulang yang dalam Pilpres 2014 . Kedua pasangan ter se but melakukan kampanye in tensif dan ekstensif, antara lain me ngincar dan hendak me rebut suara massa Nah dla tul Ulama (NU) yang besar.

Ba sis massa NU ba - nyak ter kon sen trasi di pondok pesantren yang berjumlah ri - buan dan tersebar di seluruh In - donesia. Kiai dan ulama NU merupakan pengasuh dan panutan bagi para santri yang menuntut il mu agama di pondok pesantren. Kalkulasi politik Jokowi menggandeng Ma’ruf Amin (terkenal sebagai ulama, tokoh senior NU, dan Rais ëAm Syu - riah PBNU) adalah selain menepis isu terhadap dirinya dan kubunya yang dituding kubu la - wan melakukan “krimi na li sasi” ulama, juga mengeduk suara mas sa NU yang besar itu. Se telah resmi maju sebagai cawapres mendampingi capres Jokowi, Ma’ruf melepaskan jabatannya sebagai Rais ‘Am Syuriah PBNU.

Struktural Versus Kultural

Skenario awal, Prof Dr Mah - fud MD disebut sebagai ba kal ca wapres yang akan men dam - pingi capres petahana Jo kowi. PBNU tampak tidak sreg kalau Mahfud yang maju se bagai ca - wa pres. Alasannya, pro fesor ke lahiran Madura itu bukan “kader” NU (tidak men du duki ja batan struktural di IPNU, GP Ansor, PMII, dan NU). Saya me nyebut PBNU yang mem be rikan restu dan du ku - ngan po litik kepada KH Ma’ruf Amin menjadi cawapres se ba - gai ke lompok “NU struk tru ral.” Me nurut kategorisasi dan versi saya, termasuk para pen du - kung kelompok NU struktural ini adalah Yenny Wa hid (putri KH Abdurrahman Wahid/Gus Dur dan cicit pen diri NU KH Ha syim Asy’ari), Ro ma hur muziy (Ketum PPP hasil Muk tamar Surabaya), Saifullah Yusuf (Wagub Jatim), dan Mu haimin Iskandar (Ketum PKB).

Ke lompok NU struk tural ini mem be ri - kan duku ng an politik secara kuat kepada pa sangan Jo ko wi- Ma’ruf di Pilpres 2019. Munculnya kelompok yang disebut kelompok NU struk - tural di atas memicu bang kit nya kelompok lain yang saya se but kelompok “NU kultural.” Ke - lompok NU kultural ini ti dak menduduki jabatan struk tural penting di jajaran ke pe ng urus - an NU. Mereka dikenal sebagai dzurriyah (keturunan) pendiri NU KH Hasyim Asy’ari, misal - nya KH Irfan Yusuf Ha syim/ Gus Irfan (putra KH Yusuf Hasyim dan cucu KH Hasyim Asy’ari).

KH Yusuf Hasyim (tokoh terkenal NU era 1960-an sampai 1980-an dan politisi PPP) adalah putra pen diri NU dan pendiri Pondok Pe santren Tebuireng (Jombang, Jatim) Hadratussyaikh KH Ha syim Asy’ari. Setelah KH Ha syim Asy’ari wafat, KH Yusuf Hasyim menggantikan ayah nya sebagai pengasuh dan pe mim pin Pon - dok Pesantren Te buireng. Menurut kategorisasi dan versi saya, termasuk dalam ke - lompok NU kultural ini adalah KH Hasyim Karim (Gus Aying), KH Fahmi Amrullah (Gus Fahmi), dan KHA Bai dho - wi (Gus Dhowi). Ketiganya ada lah dzurriyah KH Hasyim Asy’ari. KH Hasib Wahab dan KH Rohmat Wahab (putra to - koh dan pendiri NU KHA Wa - hab Hasbullah) serta Gus Billy (cicit KH Bisri Syansuri) juga termasuk dalam kelompok ini.

Semua kiai yang tergabung dalam kelompok NU kultural ini secara resmi memberikan dukungan politik kepada pa sa - ngan capres-cawapres Pra - bowo-Sandi di Pilpres 2019. Secara organisasional, NU me rupakan satu jam’iyah ij ti - mai yah yang utuh. Walau de mi - kian, menjelang Pilpres 2019 muncul dua kelompok saya sebut kelompok NU struktural (dimotori PBNU) yang mem - berikan dukungan politik ke - pada pasangan capres-ca wa - pres Jokowi-Ma’ruf dan ke lom - pok NU kultural (di nakhodai KH Irfan Yusuf dkk) yang mem - berikan dukungan politik ke pa - da pasangan ca pres-cawapres Prabowo-San di.

Terlepas kelom pok mana lebih dominan dalam mem be rikan dukungan kepada capres-cawa pres masingma sing, fakta mem per li hat kan secara jelas bah wa ke lom pok NU struktural dan ke lom pok NU kultural mem pu nyai panda - ngan serta pilihan po li tik ber se - berangan. Ma sing-masing ke - lompok tentu ingin ber kon tribusi besar untuk me me nang - kan pa sangan ca pres-cawapres pi lih an nya sendiri.

Godaan Politik

Sejak 1984, NU men de klara si kan diri kembali ke khittah 1926, yaitu kembali ke garis perjuangan awal sebagai or ga - ni sasi sosial kemasyarakatan, meninggalkan politik praktis, dan tidak memiliki hubungan politik dengan parpol mana pun. Dalam praktiknya, NU di - ha dapkan dengan “godaan” po - li tik terutama menjelang pemilu/pilpres. Godaan politik ini merupakan tantangan ter ha - dap NU dalam me lak sa na kan khittah-nya. Di tengah kam pa - nye Pilpres 2019, mun cul dua ke lompok yang saya sebut NU struktural dan NU kultural. Ke - dua kelompok ini memiliki pi - lih anpolitik ber se berangan.

Kelompok NU struk tural men du - kung Jo ko wi-Ma’ruf, se dang - kan ke lom pok NU kultural men - dukung Prabowo-Sandi. Ter - lihat ada rivalitas dan kon tes - tasi antara kelompok NU struk - tu ral ver sus kelompok NU kul - tu ral da lam memilih dan mem - be rikan dukungan politik ke pa - da pa sangan capres-cawapres. Sesuai spirit khittah 1926, hak-hak politik warga NU se ha - rusnya diserahkan kepada pribadi masing-masing untuk menyalurkan aspirasi po li tik - nya tanpa membawa nama atau mengatasnamakan NU. Demi kemurnian dan kon sis tensi khit tah 1926, NU dalam kon te - tasi politik seharusnya netral serta menjaga jarak yang sama terhadap parpol mana pun dan terhadap pasangan ca pres-ca - wa pres mana pun.

Pemberian dukungan politik secara resmi dan terbuka (baik oleh kelompok NU struktural maupun oleh NU kultural) ter hadap pasa ngan capres-ca wa pres tertentu di Pilpres 2019, menurut saya, tidak konsisten dengan visi dan misi khittah NU.

FAISAL ISMAIL
Guru Besar Pascasarjana FIAI Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta





Berita Lainnya...