Edisi 07-12-2018
Tersisihnya Isu-Isu HAM (Catatan 14 Tahun Kasus Munir)


Tidak terasa, sudah 14 tahun lebih Munir dibunuh. Seperti diketahui, Mu nir diracun dalam pener ba ngan dari Jakarta ke Ams ter dam.

Munir naik pesawat GA-974 yang berangkat dari Ja karta pada 6 September 2004, pukul 21.55 WIB, tiba di Si ngapura pada 7 September 2004 pukul 00.40 waktu se tempat. Munir meninggal se ki tar dua jam se - belum pesawat mendarat di Bandara Schipol, Amsterdam, pada pukul 08.10 waktu set em - pat, 7 September 2004. Dari hasil autopsi Lem baga Forensik Belanda (NFI), ditemukan dosis arsenik yang mematikan dalam jasad Munir. Sebenarnya sudah ada proses peradilan atas pembunuh Munir. Pengadilan telah menja tuhkan vonis 14 tahun pen - jara kepada Pollycarpus B u dihari Pri yanto, pilot Garuda yang ber ada dalam pe ner bangan yang sama dengan Munir, se ba gai pelaku pembunuhan Munir.

Fak ta persidangan juga menye but dugaan keterlibatan pe ting gi Badan Intelijen Ne - gara (BIN). Namun pada 13 De - sem ber 2008, mantan Deputi V BIN Mayjen Purn Muchdi Pur - woprandjono yang juga menjadi terdakwa dalam kasus ini jus - tru divonis bebas. Inilah yang membuat Suciwati, istri Munir, dan kalangan aktivis HAM ti - dak puas. Maka sejak kematiannya, tiap tahun pada 7 September, ju ga pada tiap ultah Munir pada 8 De sember, selalu digelar pe ri - nga tan oleh teman-teman Mu - nir serta siapa pun yang pe dudi hak asasi manusia (HAM). Pe ri - nga tan ini merupakan per juang an melawan lupa (Milan Kundera).

Tersisihnya HAM

Selain itu peringatan de mi - kian juga punya beberapa mak - na atau pesan penting yang perlu kita refleksikan. Pesan pertama, kematian Mu nir selalu menjadi utang be - sar bagi bangsa, pemerintah, dan kita semua. Ternyata mem - ba ngun kehidupan atau per - ada b an pro hak asasi manusia itu tidak mudah. Di balik sukses di ber ba gai bidang, rezim se - karang terus terang gagal da - lam mene gak kan HAM. Isu-isu HAM kerap tersisih. Simak saja dari Aceh hingga Papua, masih kerap ter jadi beragam pelang - gar an HAM. Atas nama inves - tasi atau eks plo rasi tambang, ada banyak HAM warga sipil diabaikan.

Bah kan aktivis yang berani me nyua rakan pelang - gar an HAM bisa dikri mi na li - sasi atau dibunuh seperti Mu - nir. Kita ingat kasus pe m bu - nuhan Salim Kancil di L u maj - ang oleh aparat desa pada 26 September 2015 karena be rani menentang penambangan pa - sir di desanya. Salim dike ro yok 40 preman suruhan Har yo no, Kades Selok Awar-Awar. Kemudian pesan penting berikut tentu saja agar peme - rintah berani mengusut tuntas dan mengungkap siapa dalang sesungguhnya di balik pem bu - nuhan Munir. Dalang sesungguhnya harus diadili.

Jalan Terjal

Pesan lain yang penting, ke - matian Munir selalu me ng - ingat kan kita pada kematian para pe juang keadilan di bumi ini, mulai dari tokoh Palestina seperti Arafat, yang konon juga tewas diracun hingga Uskup Kolombia Isaias Duarte Can - cino yang te was ditembak di Cali (16/3/ 2002). Beberapa hari se be lum ditembak, Uskup Duarte me nga takan “Tak ada jalan nyaman yang harus di le - wati oleh siapa pun yang be r - komitmen pada per juangan penegakan ke adil an, bahkan sering kali harus melewati jalan terjal dan tragis!” Kalimat itu terasa relevan untuk menggambarkan akhir hidup Munir. Itulah akhir me - ngenaskan bagi sosok yang se - lama era Soeharto hingga Me - ga wati selalu peduli pada hak asasi sesamanya.

Sekadar flashback, Munir lahir pada 8 Desember 1965, suatu periode ketika negeri ini banjir darah akibat tragedi 1965. Konon tragedi itu me - renggut sejuta korban manusia Indonesia. Hingga kini Tragedi 1965 tetap mennjadi kasus pelanggaran HAM terberat. Tragedi 1965 rupanya ikut me - mengaruhi hidup Munir. Memang minat Munir pada isu-isu HAM tampak mulai ter - gu gah sejak ia menjadi m a ha - siswa di Malang pada era 1980- an. Skripsinya saja soal nasib kaum buruh. Visi HAM-nya tam pak pada nama yang di be - rikan ke pada anak pertamanya Sul than Alif Allende. Idola Mu - nir adalah Nabi Muhammad SAW yang tampak pada nama Alif.

Mu nir menganggap Nabi Muhammad adalah pemimpin umat Islam yang berusaha me - ne gak kan masyarakat madani dengan membebaskan para budak. Mu nir juga mengagumi Sal vador Allende, mantan Pre - siden Cile dari Partai Sosialis, yang digulingkan dan tewas ketika Jenderal Pinochet mengudeta Allende. Visi itu bukan jadi teori, tapi sungguh terimplementasi di sepanjang hidup Munir. Ia di - kenal sebagai sosok yang be - rani. Ia tidak pernah mundur da lam perjuangannya mem - bela para korban pelanggaran HAM dari Aceh hingga Papua. Meski cara kematian Munir yang tak wajar itu amat kita se - sali, tetapi justru dengan ke ma - tiannya, Munir benar-benar la - yak menyandang sebutan sebagai pejuang HAM se jati.

Sebab kematian Munir itu menjadi sim bol bahwa dia menyatu de - ngan para korban, khususnya me reka yang sudah mati akibat ke kerasan oleh ne gara sejak Or ba mulai berkuasa pada 1965 silam. Dengan kematiannya, Mu - nir terhindar dari sebutan pe - juang HAM palsu. Simak ka - dang ada yang mengklaim se - bagai pe juang HAM, tetapi maaf, per jua ngan itu hanya se - kadar “alat” untuk menutupi “mo tif-motif pribadi”. Ka sar - nya, ada pihak yang suka men - jual isu HAM de mi kepen ti - ngan perut sendiri. Dengan kematiannya, Mu - nir juga terhindar dari sebutan “teoretikus” HAM. Sebab be - rapa banyak orang suka be r wa - cana tentang HAM, tetapi ketika menghadapi sesamanya yang diinjak-injak mar ta bat - nya, mereka diam. Munir selalu rela memperjuangkan setiap korban HAM.

Integritas dan kesederhanaannya juga patut diteladani. Meski sering di - iming-imingi sesuatu, Munir te tap loyal di jalurnya dalam pe - negakan HAM dan keadilan. Tidak mengherankan jika kemudian perjuangan Munir diapresiasi banyak kalangan. Sudah puluhan penghargaan diterima Suciwati, istri Munir. Bahkan Pemerintah Kota Den Haag di Belanda pernah men - dedikasikan sebuah jalan de - ngan nama Munir, yakni Mu - nirpad. Ini sebuah jalan khusus bagi para pengendara sepeda dan pejalan kaki yang meng - abadikan nama Munir pada Selasa, 14 April 2015. Pemerintah Presiden SBY dan Jokowi pernah men ja n ji - kan pembentukan Pengadilan HAM ad hoc sesuai dengan ama - nat Undang-Undang No mor 26 Tahun 2000 tentang Peng adil - an HAM.

Inilah pe ngadilan yang memiliki kom pe tensi dan oto ri tas mengadili ber bagai ben tuk pelanggaran HAM ma - sa silam, termasuk kasus Mu - nir. Namun hingga kini pem - bentukan pengadilan HAM ad hoc tidak pernah terwujud. Jadi ternyata tidak mudah mem ba - ngun kehi dup an berbangsa dan bernegara pro-HAM. Maka ultah Munir pada 8 Desember serta peri ngat an Hari HAM Se - dunia pada 10 Desember se mo - ga men jadi mo mentum bagi kita un tuk tidak menyerah dalam memper juangkan per adaban yang memanusiakan manusia atau meng hargai HAM.

TOM SAPTAATMAJA
Salah Satu Penulis Buku ”Munir, Sebuah Kitab Melawan Lupa” (Mizan, 2004).



Berita Lainnya...