Edisi 07-12-2018
Nilai Kapitalisasi Pasar Unicorn Capai USD20 M


JAKARTA - Total nilai kapitalisasi pasar perusahaan unicorn di Indonesia hingga saat ini mencapai angka USD20 miliar dalam dua tahun mendatang.

Nilai tersebut diprediksi bisa mengalahkan unicorn dari Singapura. CEO Catcha Group Patrick Grove mengatakan, pengguna internet di Indonesia yang berjumlah 133 juta orang me ru pa - kan pasar sangat besar bagi perusahaan rintisan (startup). Jumlah pengguna internet di Indonesia bahkan 26 kali lebih besar dibandingkan dengan peng guna internet di Singa pura. “Pengguna internet di Indo - nesia memberikan potensi be - sar, jumlahnya terus meng - alami peningkatan dari tahun ke tahun,” kata Patrick saat meng hadiri konferensi tek no - logi se-Asia Tenggara ëWild Di - gital 2018í di Jakarta, kemarin. Menurut dia, total nilai ka - pi ta lisasi pasar perusahaan uni corn di Indonesia hingga saat ini men capai angka USD20 miliar. Jum lah itu ter - diri dari empat uni corn asal Tanah Air, yakni Go jek, Toko pe - dia, Bukalapak, dan Tra ve loka.

“Jumlah kapi ta lisasi pa sar ter - sebut hampir sa ma dengan jum lah unicorn Singa pu ra yang bernilai USD22 miliar,” ujar nya. Patrick menjelaskan, dalam satu hingga dua tahun men da - tang total nilai kapitalisasi pa - sar perusahaan unicorn di Indo nesia akan mengalahkan Singapura. Pasalnya, Singa - pura mengalami penurunan dalam pendanaan seri C, se - mentara pendanaan seri C di Indo nesia sedang dalam tren naik. “Dengan harapan Indo - ne sia yang ingin terus me nam - bah unicorn hingga tahun 2019, mereka tidak lama lagi akan mengambil alih,” ujarnya. Sebelum akhir tahun 2020 mendatang, dia memper ki ra - kan akan ada minimal dua uni - corn baru di Indonesia dari pang sa financial technology (fin tech) dan healtcare .

Nanti investor lokal dan asing akan memindahkan investasi mere - ka dari e-commerce untuk ke - dua sektor tersebut. Hal ini ber - samaan dengan bertam bah - nya dukungan pemerintah dan kegiatan masyarakat pada sek - tor fintech dan healthcare . “Faktor lainnya, yaitu 64% warga Indonesia yang berumur 25 tahun atau lebih belum memiliki rekening bank. Ini merupakan sesuatu peluang kuat untuk startup fintech berkembang,” katanya. Berdasarkan data yang di - per olehnya, pendanaan untuk sektor healthtech di Asia se pan - jang semester I/2018 men ca pai angka USD3,3 miliar dalam 107 transaksi dan Indonesia men - jadi pangsa pasar ke-2 di Asia Tenggara setelah Singa pura.

“Nilai kapitalisasi pasar health care di Indonesia diper ki - rakan mencapai angka USD363 miliar pada 2025 men datang, namun sayang nya, hanya tersedia 160 ribu dokter yang melayani 250 juta penduduk Indonesia,” kata nya. Patrick memaparkan, Indo - ne sia memiliki nilai digital eko - nomi terbesar dan tercepat yang bertumbuh di kawasan re gional Asia Tenggara sehing - ga diprediksikan akan terus berkembang mencapai angka USD100 miliar pada 2025. “Penggalangan dana di Indo - nesia ini jauh lebih banyak dari negara-negara Asia Teng gara lain nya, hanya sedikit ter tinggal dari Singapura,” ka tanya. Jumlah perusahaan di Indo - nesia pada tingkat perta ma pen - danaan mengalami pertum - buh an lebih dari 300% diban - dingkan dengan tahun 2012. Hal ini menunjukkan berkem - bangnya minat inves tor untuk berinvestasi di Indonesia.

Sementara itu, Direktur Utama Mandiri Capital Indo ne - sia Eddie Danusaputro me nga - ta kan, pada tahun depan per - sero an mengalokasikan dana se besar Rp50 miliar un tuk mem biayai ke startup. Me nu - rut nya, perseroan akan men da - patkan suntikan dana se besar Rp500 miliar pada ta hun depan dari induk usaha, yaitu PT Bank Mandiri (Per sero) Tbk. “Ke depan kami juga akan me makai cara baru untuk mem - biayai startup , kami akan meng - umpulkan dana dari inves tor untuk diinvestasikan ke startup. Diharapkan lima sampai tujuh tahun kemudian profit dari investasi ini bisa dikembalikan ke investor,” kata Eddie.

Pendapatan PrivyID Rp1 Triliun

Sementara itu, perusahaan penyedia tanda tangan digital, Privy Identitas Digital (Privy - ID), mencatatkan pendapatan hingga Desember 2018 men ca - pai Rp1 triliun. Jumlah itu di - kontribusikan dari 10% seg - men personal dan 90% segmen korporasi. Co-Founder PrivyID, Gu - ritno Adi Saputro mengatakan, pengguna PrivyID kini di do - minasi dari perusahaan untuk sektor multifinance. Total pe ru - sahaan penggunanya saat ini mencapai lebih dari 180 peru - sahaan tersebar di beberapa sektor, seperti financial tech no logy (fintech), multifinance, dan perbankan.

“Pengguna individu masih ku rang karena masih minim edu kasi terhadap tanda tangan di gital. Tahun ini paling banyak di B to B (Business to Business ) men capai 90%. Sementara B to C ma sih kurang. Ini ingin kami per - baiki tahun depan,” ujar Guritno. Dia menjelaskan, per oleh - an pendapatan perseroan juga didorong dari jumlah user Privy ID mencapai 2,2 juta peng guna. Angka ini melonjak dari catatan pada Agustus yang baru berhasil capai 1,9 juta peng guna.

Penggunanya ber - asal dari pelanggan atau nasa - bah fintech dan berbagai peru - sa haan, seperti AwanTunai, Amartha, Kerjasama.com, Klik Acc, Sewa Kamera, Telkom Indonesia, CIMB Niaga, Bank Mandiri, Bussan Auto Finance, Kre dit Plus, Adira Finance, BRI, dan lainnya. “Data pengguna kami paling banyak tersebar di Pulau Jawa, khususnya di Kota Jakarta dan Surabaya,” ujarnya. Pihaknya optimistis tahun mendatang pendapatan bisa melesat 300% atau mencapai Rp3 triliun. Optimisme ini karena keberadaan fintech yang diperkirakan akan meningkatkan layanan menggunakan tanda tangan digital.

Heru Febrianto/ hafid fuad