Edisi 07-12-2018
Semangat Penjajahan Setelah Mahabencana


MORTALEngines lahir di bawah pengawasan raja fantasi Peter Jackson. Filmnya kaya dengan modal awal cerita dan karakter yang kuat.

Sayangnya, justru hanya tampilan luarnya yang nikmat disimak. Mortal Engines berawal dari buku empat seri buatan penulis Inggris Philip Reeve. Sejak Desember 2009, Peter Jackson (trilogi Lord of The Rings , trilogi The Hobbit ) sudah tertarik untuk memindahkan ceritanya ke dalam format layar lebar. Namun, berbeda dengan Lord of The Rings dan The Hobbit , kali ini Jackson hanya duduk sebagai produser. Dia masih membantu di penulisan cerita, yang dipegang oleh dua rekannya. Masih berkutat di dunia imaji yang menjadi favorit Jackson, Mortal Engines mengambil latar dunia selepas mahabencana yang disebut Perang 60 Menit. Akibat perang tersebut, banyak sumber daya rusak, bahkan hilang.

Manusia yang tersisa lantas berusaha bertahan hidup dengan membuat traksi-traksi, yaitu ëkotaí atau ërumahí bergerak yang dioperasikan dengan mesin raksasa. Traksi berpindahpindah demi menghindari kondisi permukaan Bumi yang rentan sekaligus demi menemukan sumber daya yang hilang. Adalah London yang menjadi traksi raksasa pada era ini. Sebagai yang paling tinggi kastanya, London menjadi predator teratas yang obsesi - nya berburu dan memangsa traksi-traksi kecil untuk mengumpulkan koleksi Rakyat Purba, sebutan untuk orangorang yang hidup sebe - lum mahabencana terjadi. Koleksi itu dikumpulkan di Museum London yang juga berada di dalam traksi.

Dari barang-barang masa lalu itulah, kepala sejarawan London, Thaddeus Valentine (Hugo Weaving), bercita-cita menger jakan sebuah proyek rahasia yang berbahaya. Proyek tersebut pula yang menghu - bung kannya dengan Hester Shaw (Hera Hilmar), remaja perempuan yang berniat membunuh Thaddeus akibat sejarah kelam masa lalu. Niatan inilah yang lalu memper temu - kan Hester dengan sejarawan muda London yang naif dan seumur hidupnya belum pernah menginjak tanah, Tom Natsworthy (Robert Sheehan). Mortal Engines sesung guhnya dibuka de ngan scene yang memikat. London dengan traksi rak sasanya yang megah dalam perjalanannya menemukan traksi rombeng yang diketahui sebagai kota tambang dengan stok garam melimpah dan sumber daya penting lainnya.

Semangat menjajah dari London langsung bergolak, membuat terjadi adegan kejarkejaran yang tak sebanding. Hanya dalam beberapa menit, traksi London menelan traksi kota tambang. Setelah itu, penonton diperlihatkan suasana di dalam traksi London. Sebuah traksi dengan pem bagian kelas dan kasta yang sangat kentara, mengingatkan pada zaman penjajahan fisik dan era perbudakan. Seolah masih belum cukup menyajikan ironi, penonton lalu disajikan dialog penuh humor satir saat Tom mengajak anak Thaddeus yang cantik dan senang sejarah, Katherine (Leila George), berkeliling Museum London. Humor kocak ini muncul saat ada pembahasan soal Dewa- Dewa Amerika dan barangbarang peninggalan Rakyat Purba.

Namun, setelah itu, jalan cerita Mortal Engines berjalan layaknya film fantasi remaja generik. Semuanya sudah pernah kita lihat dalam banyak film lainnya. Padahal, dalam perjalanan petualangan Hester dan Tom, mereka bertemu dengan banyak sekali karakter unik dan menarik yang jika dieksplorasi lebih dalam akan memberikan dimensi yang lebih kaya dan kompleks pada jalan cerita dan substansi film. Di antaranya ada Anna Fang (Jihae) sang pemimpin Liga Anti-Traksi. Tampilan dan dandanannya yang nyentrik, meski agak lebay , sangat layak untuk karakternya didalami lebih jauh. Lalu Shrike (Stephen Lang) robot tentara yang bernafsu sekali ingin membunuh Hester, sangat berpeluang memberikan efek drama yang lebih dahsyat jika saja diberi kesempatan untuk tampil lebih lama.

Begitu juga dengan Shan Guo, satu-satunya kota di daratan yang masih berdiri, tak diberi latar belakang sama sekali. Elemen-elemen penting ini seolah hanya ada demi meramaikan dan memberi atmosfer grande pada film. Jadilah yang tersisa hanya kemegahan teknik visual yang memang apik dan unggul dalam Mortal Engines . Sungguh sangat disayangkan, mengingat film ini begitu kaya elemen dan dimensi, menanti untuk diolah lebih serius dan telaten.

Herita endriana