Edisi 07-12-2018
Hantu Penghuni Kamar Mayat


FILMini bisa dibilang sebagai “B movie”, istilah yang dipakai untuk menyebut film komersial berbujet rendah.

Layaknya film jenis ini, jalan ceritanya standar saja, tapi setting -nya yang tak biasa berpotensi menarik perhatian mayoritas penonton film di Indonesia yang hobi ditakuttakuti di bioskop. Judulnya memang me - makai nama orang, tapi film garapan Diederik Van Rooijen ini murni film fiksi. Hannah Grace dijadikan judul karena dialah pangkal alias sebab mu - sabab tragedi dalam cerita film ini. Dalam pembuka film, Hannah Grace (Kirby Johnson) digambarkan sebagai remaja yang kesurupan iblis kasta tinggi.

Walau tangannya terikat kuat di sisi ranjang, Hannah mampu menye - rang dua pastor yang berusaha me nyembuhkannya hanya dengan gerakan mata, mirip orang yang punya kekuatan kinetik. Karena sulit dikalahkan lewat jalan agama, ayah Hannah lalu menempuh jalan ekstrem. Dia membungkam wajah anaknya itu dengan bantal hingga Hannah mati kehabisan napas. Tentu saja, masalah tidak akan berhenti sampai di sini. Sebelum melanjutkan cerita Hannah, film lalu beralih me - nge nalkan karakter pro - tagonisnya, yaitu Megan Reed (Shay Mitchell). Dia adalah mantan polisi muda yang terpaksa harus bekerja mengam - bil jam malam di rumah sakit, di kamar mayat, sendirian pula.

Area kamar mayat ini tentu saja disetting menyeramkan. Gelap, lampu-lampu hanya menyala jika ‘mencium’ sensor tubuh manusia, dan kadang ada alarm yang bunyinya mengagetkan. Jadi sudah bisa dibayangkan adegan kejut macam apa yang diandalkan oleh film ini. Nah, supaya lebih mengerikan, rupanya mayat Hannah Grace dikirim ke tempat Megan. Megan yang bertugas mengurusi mayat yang baru masuk pun lalu mengalami peristiwa-peristiwa aneh yang berhubungan dengan jenazah Hannah. Dengan cerita sederhana dan seadanya, The Possession of Hannah Grace mengambil keuntungan dari setting cerita kamar mayat yang sudah membuat bulu kuduk merinding.

Dengan bermodal ruang sunyi senyap dan gelap, apa pun yang terjadi di sini memang jadinya dua kali lipat lebih bikin deg-degan dan ngeri. Padahal adegan-adegan kejutnya sebenarnya klise alias mudah ditebak. Ditambah lagi, kondisi dan posisi jenazah Hannah yang tak biasa turut berkontribusi menyumbang rasa jantung berdebar. Belum lagi hantu yang jalannya merangkak dan bisa menempel di dinding, rasanya masih ampuh menakut-nakuti penonton yang memang lemah ëimaní.

Meski lahir dari rumah produksi Screen Gems yang juga melahirkan film horor Carrie dan Deliver Us from Evil , The Possession of Hannah Grace masih jauh kualitas ceritanya dari dua film tersebut. Namun, sebagai film seru-seruan untuk ditonton bersama, film ini masih layak untuk menghibur.

Herita endri