Edisi 08-12-2018
Umat Buddha Doa Bersama untuk Kedamaian Indonesia


JAKARTA –Indonesia mendapat kehormatan dengan kedatangan seorang Mahaguru dari Amerika, Dharmaraja Lian Sheng.

Penyambutan di lakukan dengan upacara Agung Homa Atisa Dipamkara pada hari ini (8/12) di BSD Tangerang Selatan, Banten. Dalam upacara di laksanakan doa bersama untuk kesejahteraan dan kedamai an Indonesia.

Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama Caliadi mengungkapkan, upacara tersebut sebagai wujud nyata rasa terima ka sih atas terciptanya keru kun an dan rasa saling menghargai di masyarakat Indonesia.

Melalui ke giatan ini, Caliadi mengajak umat Buddha Indonesia terus aktif menjaga toleransi antar umat beragama, memiliki rasa cinta tanah air, serta saling bergandengan untuk bekerja demi keutuhan dan ke sejahteraan bangsa.

“Dengan doa kerukunan bang sa ini, mudah-mudahan ma syarakat kita senantiasa mem peroleh kesadaran yang tinggi, saling memberi semangat untuk menjaga persatuan dan kesatuan. Semoga para pemimpin mementingkan kepentingan negara dibanding kepentingan pribadi, sehingga tercipta negara yang rukun dan mak mur,” ungkapnya.

Caliadi mengatakan, toleransi antarumat beragama harus dijunjung tinggi di tahun politik agar suasana tetap damai. “Jangan sampai terjadi gesekan. Kita sebagai umat di minta untuk tidak mudah terpengaruh dan terpancing isu SARA. Mari jaga kerukunan an tarumat beragama.

Untuk menyikapi isu-isu ber kembang, kerukunan jadi dasar agar NKRI te tap tegak, wawasan kebang sa an juga penting dalam mem perkukuh umat Buddha sehingga tercipta kerukunan umat beragama, meski ditempa isu-isu keagamaan,” tegasnya.

Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Siti Hartati Murdaya meng ajak umat Buddha ikut menjaga kerukunan dan toleransi antar umat beragama melalui doa da lam upacara ini. Meski gejolak politik meningkat seiring men jelang pemilu, Indonesia d iharapkan tetap damai.

“Menjelang pemilu, kita ingin negara ini bersatu. Boleh berbeda, namun ayo bersatu demi Indo nesia,” katanya. Hartati mengungkapkan, umat Buddha bersama umat beragama lain harus saling menghormati perbedaan dengan tujuan sama yakni membangun Indonesia.

“Kebinekaan suku, ras, budaya, bahasa, dan agama adalah bukti nyata kekayaan bangsa Indonesia yang di persatukan oleh ideologi bangsa, yaitu Pancasila. Meskipun berbeda-beda suku, ras, budaya, bahasa, dan agama, tetapi kita tetap satu, yaitu bangsa Indonesia yang mengharapkan kemerdekaan, kesejahteraan, kedamaian, dan keadilan,” katanya.

Masyarakat Indonesia terutama umat Buddha harus penuh cinta kasih dan hidup rukun dengan umat beragama lain serta dengan pemerintah. Dengan prinsip dasar non-intervensi sesama anggota, tidak berkonflik dan saling mencela, tidak saling memojokkan, tidak adu kekuatan, sebaliknya harus saling menghormati, saling belajar, saling mengisi, saling berkon sentrasi pada pembinaan umat.

“Selain itu, dengan memegang teguh kitab suci Tripitaka sesuai dengan mazhab dan aliran masing-masing. Dalam bernegara, kita berpegang teguh pada landasan empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945, dan NKRI,” tegasnya.

binti mufarida