Edisi 08-12-2018
Boeing Klaim Aman, Lion Air Bergeming


SEATTLE - Boeing Co menegaskan pesawat Boeing 737 MAX aman dan memenuhi aspek keselamatan.

Pernyataan itu disampaikan CEO Boeing Dennis Muilenburg menanggapi ancaman Co-Founder Lion Mentari Airlines Rusdi Kirana membatalkan pembelian pesawat produksinya. Tragedi jatuhnya pesawat Boeing 737-Max 8 Lion Air di perairan Karawang (29/10) memicu pertanyaan tentang keselamatan pesawat produksi pabrikan asal Ame rika Serikat (AS) tersebut.

Secara tidak langsung Lion Air tidak mau sendirian disalahkan atas insiden tersebut dengan menuding Boeing merespons kecelakaan dimaksud secara tidak adil dan merugikan maskapainya, hingga kemudian mengancam membatalkan transaksi pesawat Boeing.

Ancaman Rusdi Kirana seperti diberitakan Bloomberg tidak mainmain karena menyangkut transaksi senilai USD22 miliar untuk memesan 230 pesawat Boeing. Dari transaksi tersebut, Lion menjadi maskapai pertama di Asia yang mencicipi jenis 737 Max sekaligus menjadi pengguna pertama jenis 737 Max 9 secara global.

Kesepakatan tersebut juga termasuk hak untuk memesan 150 pesawat tambahan. “Kita mengetahui pesawat kita aman,” tegas Muilenburg da lam wawancara dengan CNBC seperti dilansir Reuters . “Kita tidak meng ubah filosofi desain kita,” im buh nya.

Namun tampaknya pernyataan Muilenburg tidak memengaruhi sikap Lion. Direktur Operasional Maskapai Lion Air Daniel Putut Kuncoro menegaskan bahwa Lion Air sebagaimana disampaikan Rusdi Kirana tidak akan menunggu klarifikasi dari pi hak Boeing.

Sebaliknya korporasi akan terus mendukung pernyataan pendiri Lion Air Group itu jika tuduhan jatuh nya pesawat Lion Air PK LQP beberapa waktu lalu yang mengarah pada teknisi Lion Air. “Kita tidak sedang menunggu jawab an apa-apa dari Boeing.

Tapi kalau ada yang menyudutkan dan kami rasa fakta itu ti dak benar kami siap berar gumentasi,“ ujar dia kepada KO RAN SINDO . Daniel menegaskan, pernya taan Boeing yang terkesan menyudutkan Lion Air hanya mengacu pada preleminary report atau laporan investigasi sementara yang dikeluarkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

“Dan semua sudah ditegaskan kembali oleh pihak KNKT sendiri. Bahwa pesawat dalam keadaan laik terbang setelah diperiksa oleh teknisi kami dan disetujui pilot dalam log book ketika akan terbang,” ucapnya.

Dia lantas kembali menegakan, posisi Lion saat ini telah menyiapkan data-data pendukung mengenai jatuhnya pesawat PK LQP tujuan Jakarta-Pangkal Pi nang. “Yang jelas jawaban kami tetap sama. Mendukung per nya taan cofounder kami yang ma na kami juga telah melakukan pengecekan-penge cekan lapangan, baik itu bersama KNKT mau pun pihak terkait lainnya, termasuk kalangan internal Lion Air,” sebutnya.

Pengamat penerbangan Didi Sudibyo mengatakan, pernyataan yang dilontarkan pendiri Lion Air mengenai ancamannya kepada Boeing menghentikan sementara pemesanan pesawat dinilai tepat.

Menurutnya Lion Air tetap akan bertahan bahwa prosedur maintenance yang di lakukannya sudah sesuai dengan stan dar operasional. “Ya saya kira Lion Air akan bertahan sesuai dengan fakta yang dimilikinya. Termasuk melontarkan an caman dari pendirinya, Rusdi Kirana,” ungkapnya.

Dia me nilai, Boeing akan memberikan jawaban diplomatis menanggapi pernya taan Rusdi. Dia ber alasan, ancaman semacam itu bisa meruntuhkan citra Boeing sebagai salah satu pasar ter besar industri pesawat terbang global selain Airbus.

“Dan saya kira baik Lion Air maupun Boeing tidak akan mengambil langkah yang lebih jauh, apa kah Lion akan mem batalkan pemesanannya misalnya. Se bab ini akan memberikan citra buruk bagi pihak pabrikan se perti Boeing,” ujarnya. Dudi menambahkan bahwa se be narnya Boeing diuntungkan dengan kejadian ini (jatuhnya PK LQP).

Sebab hal itu lang sung diantisipasi dengan me ngeluarkan panduan terbaru mengenai tindakan pilot jika terjadi kondisi di luar kendali pilot. “Ini kalau merujuk inves tigasi sementara KNKT ya. Jika benar masalahnya apa yang di beberkan KNKT, berarti tin da kannya harus segera dan itu su dah dilakukan pihak Boeing,” pungkas dia.

Jadi Sorotan

Pascatragedi pesawat Boeing 737-Max 8 Lion Air, Boeing memang memanen sorotan dari berbagai kalangan, termasuk media massa internasional. Sebelumnya otoritas penerbangan di India dan Indonesia ini menekankan pen ting nya pelatihan simulator Boeing 737 MAX menyusul kece la ka an Air Lion beberapa waktu lalu.

Namun Boeing menegaskan latih an tersebut tidak perlu karena pesawat mereka tetap aman. “Kita mengetahui pe sa wat kita aman,” tegas Muilen burg dalam wawancara dengan CNBC seperti dilansir Reuters . “Kita tidak mengubah filosofi desain kita,” imbuhnya.

Boeing mengklaim prosedur kokpit yang diterapkan pada penerbangan 737 MAX seharusnya mampu mengatasi permasalahan yang dialami pesawat Lion Air yang mengalami kecelakaan. Tapi, regulator AS menyatakan Boeing perlu meng uji coba untuk memperbaiki peranti lunak setelah diprotes tentang perubahan sistem otomatis pada manual 737 MAX.

Aspek keselamatan Boeing juga sempat diangkat dalam kolom editorial USA Today, tetapi Boeing menolak memberikan respons. Kendati de mi kian, Muillengberg sempat berkirim pesan kepada pegawai Boeing yang menekankan komitmen Boeing terhadap aspek keselamatan.

“Keselamatan merupakan nilai utama di Boeing di mana kita telah lama memproduksi pesawat dan akan selalu demikian. Tidak ada prioritas yang lebih besar (daripada keselamatan) untuk kita dan industri kita.

Saya sangat percaya diri bahwa kalian semua (karyawan) dan produk kita, termasuk 737 MAX, mengutamakan keselamatan dan standar yang sempurna,” ujarnya seperti dilansirUSA Today . Berbicara mengenai banyak pertanyaan yang belum di ja wab dan spekulasi media pada asumsi yang salah, menurut Muilenburg, yang penting adalah tentang fakta di mana kita kecelakaan Lion Air itu masih dalam penyelidikan.

“737 MAX merupakan pesawat yang didesain, dan diproduksi oleh pria dan perempuan yang me mi liki keahlian dan integritas tinggi,” tuturnya. Mengenai laporan media yang fokus pada instruksi manual operasional awak kabin, Muillenburg mengungkapkan bahwa Boeing terus menjalin hubungan dengan pelanggan tentang bagaimana mengoperasikan pesawat dengan aman dan selamat.

“Belajar dari kecelakaan ini dan kita akan terus meningkatkan rekor keselamatan kita. Bagaimanapun ki ta tidak akan berdebat detail di media,” paparnya. Berita Lion Air memang men jadi berita utama di berbagai belahan dunia. Bukan sekadar pemberitaan, tetapi juga masuk dalam editorial.

Salah satunya editorial USA Today mengupas tentang Boeing dan Lion Air pada 4 Desember lalu. Mereka menekankan bahwa pilot gagal menyesuaikan diri dengan sistem baru Boeing yang didesain untuk mencegah ketika hidung pesawat me nu kik ke bawah berulang kali.

Menurut Dennis Tajer, juru bicara Allied Pilots Association, kunci utama dalam kondisi darurat adalah mengidentifikasi sistem yang mengganggu kamu atau gagal. “Kita tidak mengetahui sistem tersebut hingga terjadi kecelakaan Lion Air,” ujarnya.

Sementara itu Lion Air mengonfirmasi laporan Reuters sebelumnya di mana mereka mempertimbangkan akan mem b atalkan pemesanan 737 MAX setelah salah satu pe sa wat mereka jatuh di perairan Karawang pada 29 Oktober lalu dan menewaskan 189 penum - pang dan awak kabin.

Lion Air telah memesan 190 pesawat Boeing senilai USD22 miliar yang dalam proses pengiriman. Pelatihan menjadi fokus kunci setelah kecelakaan Lion. Direktur Operasional Lion Air Daniel Putut pekan lalu menegaskan mereka akan memiliki simulator 737 MAX pada tahun depan. Biaya simulator tersebut diperkirakan mencapai USD6 juta hingga USD15 juta tergantung bentuk dan modelnya.

andika hendra/ ichsan amin