Edisi 08-12-2018
Cuaca Ekstrem Masih Mengancam Bogor


BOGOR - Bencana puting beliung yang menerjang Kota Bogor, Kamis (6/12), menim bulkan kerusakan cukup parah terhadap infrastruktur dan permukiman warga.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem masih terjadi di Bogor. Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Bogor Hadi Saputra menjelaskan, saat terjadinya puting beliung di sebagian wilayah Kota Bogor, tepatnya di Batutulis dan Lawanggintung, pihaknya mencatat kecepatan angin seki tar 30 knot (50 km per jam) dalam satu embusan.

"Biasanya sapuan angin ha nya mencapai 100 meter hingga 1 km mengikuti arah angin. Namun, kemarin kecepatannya men capai 50 km/jam," kata Hadi. Menurutnya, angin kencang tersebut terjadi karena awan kumulonimbus terbentuk cukup matang di wilayah Bogor bagian selatan.

"Itu salah satu dampak cuaca ekstrem dan sangat berpotensi terjadi selama musim hujan yang diperkirakan berlangsung hingga akhir Februari 2019," jelasnya. Berdasarkan Citra Satelit Himawari, antara pukul 14.30– 15.30 WIB terpantau liputan awan konvektif dengan jenis kumulonimbus di wilayah Kota Bogor bagian selatan, awan tersebut dapat menyebabkan hujan dengan inten si tas sedang hingga lebat disertai angin kencang, puting beliung, serta kilat/petir.

"Prakiraan cuaca mendatang masih berpotensi terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang, kilat/petir di wilayah Bogor dan sekitarnya, kondisi ini diprakirakan berlangsung hingga pukul 19.45 WIB," ujarnya.

Pihaknya mengimbau kepada masyarakat agar tetap tenang dan waspada. Selain itu, saat terjadi hujan jauhi pohonpohon yang rindang atau bangunan yang rapuh. "Bahkan saat angin hujan lebat disertai petir dan angin kencang, diusahakan tidak keluar rumah.

Bagi pengendara mo tor, menghindari genangan air dan tidak berteduh di bawah pohon saat hujan lebat disertai angin," imbaunya. Hadi me nye but, wilayah Bogor bagian selatan rawan terhadap angin puting beliung karena lokasinya berada di daerah pegunungan, yakni Gunung Salak.

Hal ini memudahkan terbentuknya awan kumulonimbus. “Jadi awannya sudah tumbuh, ke mu dian awan tersebut bergerak sehingga menimbulkan puting beliung,” ucapnya.

Pemkot Percepat Rehabilitasi

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengatakan, berdasarkan hasil rapat koordinasi (Rakor) penanganan bencana di Balai Kota Bogor, tercatat ada 1.672 rumah rusak; 5 kendaraan tertimpa pohon, dan 1 kor ban meninggal dunia atas nama Enny Retno, 45, warga Perumahan Bukit Nirwana Resi dence (BNR) RW 12, Bogor Se lat an, Kota Bogor.

Sementara jumlah pengungsi akibat bencana angin puting beliung sekitar 400 hingga 500 kepala keluarga (KK). “Data tersebut didapat dari lurah di wilayahnya masingmasing. Ada delapan Kelurahan yang terdampak, seperti Batutulis, Lawanggintung, Pamoyanan, Cipaku, Ranggamekar, Sukasari, Baranangsiang, dan Babakan Pasar,” ungkapnya.

Bima menyebut, lokasi terparah ada di Kelurahan Batu tulis dengan jumlah 472 unit rumah rusak, 280 unit di antaranya rusak berat. Kemudian di wilayah Pamoyanan dengan 452 unit dengan 250 di anta ra nya rusak berat.

Lalu di Cipaku 224 unit, Babakan Pasar 178 unit, Sukasari 139, Lawang gin tung 112 unit, Ranggamekar 65 unit, dan Baranangsiang 55 unit. “Saya instruksikan untuk rekan-rekan di wilayah melakukan pendataan rumah tersebut sesuai kategori, yang mana rusak berat, sedang, dan ringan. Harus by name by address.

Cek juga status kepemilikan tanah agar tidak terjadi masalah baru,” ujar Bima. Menurut Bima, saat ini Pemkot Bogor memiliki anggaran biaya tak terduga (BTT) sebesar Rp3,8 miliar dan bantuan sosial (Bansos) sekitar Rp2,2 miliar.

Pemprov Jawa Barat berencana memberikan anggaran tidak terduga sebesar Rp5 miliar untuk membantu korban ben cana. “Akan dikoordinasikan dulu terkait penggunaannya. Namun, sementara usulan bantuan Rp10 juta untuk satu unit rumah rusak berat, Rp7,5 juta rusak sedang, dan Rp5 juta untuk rusak ringan.

Ini baru usulan. Pemkot berencana memberikan bantuan dari bia ya tidak terduga sebesar Rp1,5 miliar,” katanya. Menurut Bima, prioritas sekarang adalah menyediakan kebutuhan sandang, pangan, kesehatan, dan kebutuhan air bersih warga.

Pihaknya juga instruksikan Dinsos dan BPBD untuk membuka dapur umum. Saat ini, pemkot sudah membuka Posko Bantuan di ex PT IMI di Cipaku untuk wilayah Bogor Selatan, Kantor Kecamatan Bogor Timur di Jalan Raya Pajajaran untuk wilayah Bogor Timur, dan di Kantor Kelurahan Babakan Pasar untuk wilayah Bogor Tengah.

Bima Arya juga membuka par tisipasi warga untuk meringankan beban keluarga korban bencana puting beliung ber upa pakaian, baju sekolah, ter pal, selimut, obat, diapers, pem balut, karpet, sembako, dan bantuan tunai melalui rekening Dinsos Kota Bogor yang akan segera diumumkan.

“Karena jumlah kerusakan begitu banyak, mencapai 1.697 unit rumah yang terdampak. Saya juga mengajak organisasi perangkat daerah (OPD) yang ada di lingkungan Pemkot Bogor untuk menyumbangkan ban tuan dengan fokus ke wilayah Bogor Selatan,” tanggalnya.

Sementara itu, Aziz Arrazi, 20, salah satu anak almar humah menceritakan kronologis kejadian yang menimpa ibunya. Menurut Aziz, saat ke jadian, ibunya tengah berkendara untuk mencari takjil kare na memang sedang melaksanakan puasa sunah.

“Ibu lagi puasa, beliau pergi cari takjil. Ke be tulan lewat Batutulis, hujan dan macet. Kejadian itu memang su dah takdir beliau, kami keluarga hanya berusaha tabah,” katanya. Di sisi lain, Wali Kota Depok Mohammad Idris mengeluarkan surat edaran antisipasi waspada musim penghujan.

Surat dengan nomor 360/Pemberitahuan itu Wali Kota Depok mengimbau kepada masyarakat untuk waspada terhadap bencana alam, seperti banjir, longsor, dan angin kencang.

haryudi/ r ratna purnama