Edisi 08-12-2018
Jokowi: Saya Tak Akan Diam Lawan Hoax


JAKARTA –Presiden Joko Widodo (Jokowi) memastikan tidak akan tinggal diam melawan hoax yang menyerang dirinya menjelang Pemilu 2019.

Berbagai fitnah, kabar bohong, maupun cacian akan dia jawab dengan data dan bukti konkret Hal itu disampaikan Jokowi saat membuka Jambore Kebangsaan Bela Negara Keluarga Besar FKPPI Tahun 2018 di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta, kemarin.

Jokowi mengaku berbagai berita hoax menyerang dirinya sejak Pilpres 2014. Berbagai hoax itu di antaranya dirinya sebagai simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI), antek kepentingan asing, hingga berbagai isu yang mendiskreditkan pemerintahannya.

“Saya tak akan diam kalau ada isu-isu seperti, akan saya jawab,” kata Jokowi. Dia menjelaskan, selama empat tahun terakhir dirinya hanya diam dalam menghadapi berbagai isu-isu tak berdasar ter sebut.

Namun, saat ini diri nya merasa perlu memberikan klarifikasi karena ternyata ba nyak masyarakat yang percaya dengan berbagai rumor terse but. Jokowi mencontohkan terkait isu dirinya yang dituding sebagai simpatisan PKI, ternyata dipercaya oleh sekitar sembilan juta masyarakat.

“Harus saya sampaikan, ada sembilan juta masyarakat percaya karena saya dapat survei masyarakat percaya dengan fitnah seperti ini,” katanya. Pada kesempatan itu, Jokowi menunjukkan gambar tokoh PKI DN Aidit sedang berpidato pada 1955. Menurut dia, foto banyak tersebar di media sosial.

“Coba lihat di medsos. Banyak sekali gambar DN Aidit sedang pidato pada 1955, kok di dekatnya ada saya,” ujar dia. Menurut Jokowi, saat ini zaman keterbukaan. Tak ada yang bisa ditutup-tutupi sehingga apa bila dia memiliki latar belakang keluarga yang merupakan anggota PKI, pasti akan diketahui dengan sangat mudah.

Jokowi mengatakan penyebaran isu-isu seperti itu merupakan cara yang tak beretika dan tak beradab. “Saya lahir saja belum, hal yang tidak masuk akal sehingga harus dijelaskan,” ujar Jokowi. Dia bercerita PKI bubar pada 1965, sementara dirinya lahir pada 1961.

“Masa ada PKI balita, cara berpolitik seperti itu harus dihentikan,” tutur dia. Jokowi juga menyinggung isu dirinya sebagai antek asing. Kemudian, dia menyebut ladang minyak mentah Blok Mahakam yang dulu dikuasai Jepang dan Prancis saat ini sudah 100% dikuasai Pertamina.

“Juga Freeport yang saya minta bulan ini harus dapat mayoritas 51%. Ketika 51%, malah bilang antek asing, asing,” tukasnya. Sementara itu, Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengajak seluruh kader FKPPI mendukung pemerintahan dan melawan berbagai isu miring yang diarahkan kepada Presiden Joko Widodo terkait PKI.

Selain lantaran Presiden Joko Widodo karena merupakan anggota Kehormatan FKPPI, Bamsoet menekankan dukungan terhadap pemerintah merupakan bagian sikap FKPPI menjamin tegaknya NKRI. “Kita harus terus mendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Majunya kembali Presiden Joko Widodo di Pilpres 2019 merupakan bagian dari perjuangan FKPPI menjamin terus tegaknya NKRI. Mari kita dukung bersama,” ujarnya. Bamsoet, panggilan akrab ketua DPR, menegaskan saat ini Indonesia memang tidak menghadapi ancaman fisik bersenjata dari negara lain.

Ancaman yang ada sekarang dikatakannya adalah perang pemikiran serta ideologi yang bertentangan dengan Pancasila, seperti ancaman liberalisme, kapitalisme, radikalisme, terorisme. “Ancaman yang kita hadapi adalah perang modern yang dikenal sebagai proxy war, dengan meng gunakan kekuatan-kekuatan dari dalam negeri sendiri.

Yang kita hadapi kebebasan tan pa batas, ancaman radikalisme dan terorisme, tindakan intoleransi serta merebaknya politik identitas dalam jagat kehidupan politik kita,” katanya.

Bamsoet yang menjadi ketua penyelenggara kegiatan tersebut mengungkapkan bahwa seluruh keluarga besar FKPPI merasa bahagia, sekaligus bang ga karena untuk kesekian kalinya di tengah-tengah kesibukan menjalankan tugas-tugas kenegaraan, Presiden Joko Widodo selalu hadir dalam acara FKPPI. Ini merupakan buk ti bahwa Jokowi cinta kepada FKPPI.

“Kalau beliau cinta kepada FKPPI, rasanya kurang elok kalau FKPPI tidak cinta ke-pada beliau. Jadi, kalau ada pihak-pihak yang mengait-ngaitkan Bapak Jokowi dengan isu PKI, kita wajib membelanya, sanggup?” tanya Bamsoet, yang di sambut teriakan siap dan gemuruh tepukan tangan para peserta Jambore.

Selain dibuka oleh Presiden Joko Widodo, Jambore Bela Ne gara FKPPI ini turut dihadiri sejumlah pejabat negara, antara lain Menhan Ryamizard Ryacudu, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menko Polhukam Wiranto, serta Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dan Mensos Agus Gumiwang.

Bamsoet yang juga Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini me maparkan, Jambore Bela Negara FKPPI diikuti sekitar 1.350 kader dari seluruh Indonesia. Mereka akan mendapat kan wawasan tentang ideologi Pancasila beserta ATHG-nya (Ancaman, Tantangan, Hambat an, dan Gangguan), wa wasan kebangsaan, masalah pertahanan dan keamanan serta latihan fisik dan keprajuritan.

“Se usai mengikuti jambore, para peserta akan mempunyai ketahanan ideologi, ketahanan wawasan dan mental, serta keterampilan dalam bela negara. Mereka akan menjadi agen bang sa yang setia terhadap NKRI, menyuburkan perdamai an, dan menguburkan permusuhan,” tutur Bamsoet.

Mantan ketua Komisi III DPR RI ini meneguhkan, melalui Jambore Bela Negara, FKPPI ingin menggelorakan kembali semangat bela negara kepada se tiap warga. Jangan sampai bangsa Indonesia terlena dengan berbagai bentuk ancaman yang dapat mengganggu kelang sungan kehidupan bangsa dan negara.

“FKPPI akan terus memantapkan wawasan ke bang saan, wa wasan kenegaraan, dan wawasan kejuangan. Sosialisasi em pat pilar ke bang saan tidak bo leh berhenti, yaitu Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhine ka Tunggal Ika. Itulah sebabnya, kami menyelenggarakan Jambore Bela Negara FKPPI ini,” terang Legislator Partai Gol kar dari Dapil VII Jawa Te ngah yang meliputi Kabupaten Purbalingga, Ban jar negara, dan Kebumen ini.

Lebih jauh Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini me nuturkan, sebagai bagian dari ‘anak kolong’, dirinya dan seluruh kader FKPPI sejak kecil sudah diajarkan tentang nilainilai kejuangan, cinta tanah air, cinta persatuan dan kesatuan, serta cinta Pancasila dan NKRI.

Bagi FKPPI, Pancasila dan NKRI adalah harga mati. “Darah kami adalah darah perjuangan. Siapa pun yang ingin berupaya meru sak persatuan dan kesatuan bangsa, mengoyak-ngoyak ke bi ne kaan, melawan Pancasila serta mengancam NKRI, maka kami akan ber ada di barisan ter depan untuk melawan mereka,” tegas Bamsoet.

suwarno/inews