Edisi 10-12-2018
Kampus Didorong Buka Prodi Aktuaria


JAKARTA - Pemerintah mendorong kampus pengelola perguruan tinggi (PT) untuk mendirikan program studi (prodi) baru yang dibutuhkan dunia usaha saat ini.

Salah satunya yakni prodi aktuaria yang be - lum banyak dibuka meski lul us - annya diincar banyak oleh industri. Sekjen Kementerian Pen di - dikan dan Kebudayaan (Ke - men ristekdikti) Ainun Naim mengatakan, pendidikan ak - tuaria merupakan studi ten - tang pengelolaan risiko ke - uangan yang saat ini sangat di - butuhkan dunia industri ke - uangan dan industri asuransi. Namun, pendidikan aktuaria di Indonesia belum sepopuler di luar negeri. Padahal, kebutuhan akan tenaga aktuaris sangat tinggi karena belum ter cu - kupinya tenaga aktuaris pro fe - sional yang dibutuhkan oleh industri finansial di Indonesia.

“Prodi aktuaria belum ba - nyak di Indonesia, namun in - dustri keuangan dan asuransi terus berkembang. Oleh karena itu, kita perlu menambah prodi dan pendidikan di bidang ak - tuaria untuk menghasilkan lulusan-lulusan yang kompeten pada bidang aktuaria. Ke men - ristekdikti berupaya mem be ri - kan edukasi kepada masyarakat bahwa bidang aktuaria penting untuk mendukung industri finansial,” katanya pada Sim - posium Nasional Aktuaria di Era Industri 4.0 di Jakarta pe - kan lalu. Ainun menambahkan, Ke - menristekdikti terus me la - kukan sosialisasi dan edukasi secara masif kepada mas ya ra - kat dan calon mahasiswa bahwa bidang aktuaria penting untuk dikembangkan.

Pendidikan ak - tuaria juga sangat relevan de - ngan perkembangan Revolusi Industri 4.0. Saat ini ekonomi di gital semakin berkembang se - hingga pengelolaan risiko ke - uangan di era digital juga me - ngalami transformasi. Sebagai pilot project, Ke menristekdikti menugaskan sem bi - lan perguruan tinggi un tuk mengembangkan program ilmu aktuaria. Sembilan PT ter - sebut yaitu Institut Pertanian Bogor, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Ins - titut Teknologi Sepuluh No - pem ber, Universitas Pelita Ha - rapan, Universitas Prasetiya Mulya, Universitas Parah yangan, dan Universitas Surya.

Sementara itu, Peneliti Cen ter for Indonesian Policy Stu dies (CIPS) Pandu Ba - ghaskoro menjelaskan, ke mudahan per syaratan pendirian program studi baru sangat baik untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang memiliki ka pa bilitas yang di - butuhkan dalam era Revolusi Industri 4.0. Namun, hal ini sebaiknya perlu diperhatikan agar tidak berdampak pada penambahan jumlah institusi perguruan tinggi swasta (PTS). Pe me rin - tah ingin mengurangi jumlah PTS melaluimerger yang di - targetkan selesai di 2019.

Neneng zubaidah