Edisi 11-01-2019
Suguhkan Narasi Positif dalam Pemilu


JAKARTA - Mari bersama-sama menyuguhkan narasi politik dalam menghadapi pemilihan umum (pemilu) serentak 2019, terutama pemilihan presiden (pilpres).

Dengan langkah ini, publik akan bisa melihat keunggulan masing-masing pasangan calon secara lebih utuh dan jernih, sehingga pilpres bisa menelurkan pemimpin berkualitas. Ajakan mengedepankan kampanye de ngan tone positif jelang pesta demokrasi yang bakal digelar pada 17 April nan ti di sampaikan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman dalam Roundtable Discussion Pemilu Cerdas Tanpa Baper bertema “Berbeda Pilihan Itu Biasa” sekaligus peluncuran Kanal Pemilu SINDO news.com dan KORAN SINDO di Jakarta, ke ma rin.

Pernyataan ini disampaikan untuk merespons kecenderungan per ta rungan yang dilakukan pasangan calon pre si - den (capres) dan calon wakil presiden (ca wa pres) beserta tim suksesnya saat ini yang lebih banyak me nge depankan kampanye negatif, bahkan hoaks. Anggota Bawaslu Mocham mad Afifuddin sepakat se mua pihak harus diajak untuk bersama-sama mem bangun narasi positif. Sebagai pengawas pemilu, Bawaslu ber komitmen mengawasi ber bagai kampanye negatif atau bentuk kerawanan pemilu lain. Adapun dari sisi Polri, seperti disampaikan Kadiv Humas Polri Irjen Pol Muhammad Iqbal, menegaskan mengawal jangan sampai pertarungan yang terjadi secara berlebihan sehingga memicu konflik.

Arief Budiman menu turkan, narasi politik positif perlu disampaikan agar pemilu bisa berkualitas dan meng hasilkan pemimpin terbaik sesuai aspirasi masyarakat dan bisa diharapkan membangun bangsa ini ke depan. “Bukan (narasi) yang ini nggak bisa jadi imam (salat) yang ini tidak bisa wudu. Kenapa yang selalu dikembangkan negatifnya. Ke napa sekarang kita tidak ber pikir, diubah posi tifnya. Misalnya yang ini sudah meng erjakan sepuluh hal positif yang ini mengerjakan delapan hal positif. Yang ini sudah melakukan 20 hal yang ini belum. Nah, kita pilih yang banyak positifnya,” ujar dia.

Dia mengaku KPU sejak awal sudah memprediksi pertarungan pemilu akan ber ja - lan sangat ketat, apalagi kemu dian kontestasi pilpres hanya diikuti dua pasangan calon. Karena itulah KPU beru pa mengelola pelaksanaan pemilu dengan baik agar proses yang berjalan tidak menjadi semakin rumit. Menurut dia, debat perdana pada 17 Januari nanti menjadi momen untuk kembali membangun narasi positif. Hal ini bisa terwujud jika kedua pasangan calon benar-benar mema hami visi-misi masing-masing, sehingga nantinya publik dapat menilai mana di antara kedua pasangan calon yang lebih banyak sisi positifnya.

“Itu yang akan kita pilih. Jangan kemudian, dalam mem buat pertanyaan, jangan mem buat pertanyaan ‘kan Anda kemarin gagal, kan Anda kemarin kurang ini, kan Anda kemarin tidak bisa itu. Jangan seperti itu. Tapi mesti kita ubah pertanyaannya yang positif juga. Apa yang Anda sudah capai? Apa yang akan Anda kerjakan? Jadi mari kita me nilai dari banyak hal po sitif. Mari kita bangun banyak hal positif daripada hal negatif untuk mendapatkan pemimpin yang terbaik. Bukan dengan cara mencari kele mah annya, mencari keku rangan nya, tapi mencari kele bihan nya. Mencari ke bai kannya. Nah, ini yang seluruh kom ponen bangsa harus men dorong ke sana,” katanya.

Moc ham mad Afifuddin juga mengajak semua pihak untuk bersama-sama membangun narasi po si tif. Sebagai pengawas pe milu, tugas Bawas lu adalah mengawasi halhal yang tidak boleh dila kukan. Salah satu nya penye baran berita bo hong atau hoaks. Me nu rut nya, penyebaran hoaks me mi liki daya ledak yang luar biasa. Karena itu, penyebaran berita hoaks dimasukkan dalam sa lah satu indikator kera wan an. “Kita sudah petakan indeks ke rawan an pemilu. Penye bar an hoaks punya daya ledak luar biasa. Ini sudah kita pe takan. Kita lakukan peng awas an dan penindakan,” katanya. Menurut pria yang akrab disapa Afif ini, kehadiran media sosial memang memper mudah bagi masyarakat untuk mengakses informasi pemilu. Namun di sisi lain, media sosial juga turut me mengaruhi cara pandang pemilih secara negatif. Karena itu, doa menekankan pentingnya buda ya literasi untuk mem perkuat pemilih dalam konteks interaksi di media sosial.


“Dengan budaya literasi juga bisa meningkatkan ‘pemilu cerdas tanpa baper’. Sekarang yang ter penting itu bagaimana budaya literasi ini diperkuat untuk agar pemilu cerdas, masing-masing (yang berbeda pilihan) tidak baper,” ujarnya. Literasi, lanjutnya, kian dibutuhkan seiring dengan banyak bermunculan hoaks se - perti dalam kasus kontainer surat suara tercoblos. ëíKami tidak ingin prinsip ‘main sebar’ informasi tanpa tabayun atau konfirmasi terlebih dahulu menjadi hal yang lumrah menjelang masa kampanye seperti saat ini. Alhamdulillah sekarang banyak lembaga pemantau pemilu yang membantu mengawasi proses ini,” katanya. Senada, Irjen Pol Muhammad Iqbal menilai tahapan pe milu yang sedang ber langsung sekarang ini diwarnai dengan polarisasi di antara masyarakat.

Dalam pan dangannya, kondisi tersebut se bagai sesuatu yang lumrah dalam pertarungan politik. Hanya, jangan sampai polarisasi yang terjadi sampai ber le bih an (overheated). “Nah, polisi di si ni berperan sebagai ra dia tor, cooling system se mak simal mung kin. Kami meng hin dari po li ti cal fra ming. Polisi ha rus be kerja sesuai tupoksinya. Ka mi menjamin pelaksanaan pemi lu harus aman,” tu turnya. Direktur Eksekutif The Poli tical Literacy Institute Gun Gun Heryanto menilai po larisasi itu keniscayaan dalam kon testasi. Polarisasi pasti akan terbentuk dalam kon testasi sirkulasi elite lima ta hunan.

Di lantas menuturkan ada tiga garis lintang. Pertama, kelompok yang dari awal sebagai pen dukung Jokowi atau Prabowo. Kelompok kedua adalah yang sejak dari awal menolak salah satu pasangan calon. Selanjutnya kelompok ketiga, mereka yang belum menentukan pilihan (swing voter ). Di sisi lain, langkah para eli te politik tidak selalu bersifat linier. Bisa jadi saat ini me reka berada dalam posisi ber lawanan, namun pada momentum lainnya mereka berkawan.

M “ereka bisa gontagan ti pasangan, makanya dalam politik itu jangan baper. Karena bisa jadi sekarang lawan besok menjadi kawan atau sebaliknya. Nah, pola asimet ris seperti ini harus juga me nular ke ma sya ra kat bahwa poli tik di sa tu hal ada lah kon testasi. Namun, di da lamnya diperlakukan kekebalan men tal. Seperti tubuh kita kalau vaksinnya lemah maka pe nya kit gampang masuk,” kata do sen komunikasi po litik Uni ver sitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini. Dia lantas mengingatkan, selama masa kampanye ini hingga 13 April nanti meru pakan masa penetrasi politik. Masa ini akan banyak di warnai beragam manuver, ter masuk narasi negatif, demi menda patkan dukungan suara. Bah kan manuver melanggar aturan pun sangat mungkin dilakukan.

Dia pun mengajak seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama mengawal agar demokrasi bisa berja lan dengan baik. “Dalam konteks penyeleng garaan pemilu tidak cukup sistem demokrasi seperti undang-undang atau PKPU, tapi yang perlu di perbesar adalah bagaimana nilai itu melekat pada penye lengga ra pemilu, kontestan, dan ma syarakat,” tuturnya. Pemimpin Redaksi KORAN SINDO dan SINDOnews.com Djaka Susila me ngata kan, kehadiran kanal pemilu SINDOnews.com dan KORAN SINDO dimak sudkan untuk memberikan sesuatu yang positif dan inspiratif sehingga demokrasi ini menjadi sesuatu yang bisa men cerdaskan masyarakat.

“Apa yang diproduksi teman-teman di media sosial seperti pisau ber mata dua. Di satu sisi bisa semakin memboosting de mo krasi ini semakin dikenal masyarakat, tapi di sisi lain bisa men-downg rade demokra si. Nah, kita ingin memberi kan keseimbangan ini bah wa media mainstream baik KORAN SINDO, SINDOnews.com, maupun majalah SINDO Weekly, ingin memberi kan sesuatu informasi yang bisa membuat demokrasi ini semakin mencerdaskan masyarakat,” tuturnya. Mengenai tema Pemilu Cerdas Tanpa Baper, Djaka mengatakan bahwa selama ini kelompok milenial menjadi rebutan dalam pemilu. Na mun di sisi lain, dalam ber po litik mereka kerap terbawa pera saan (baper) berlebihan.

“Ka lau disinggung sedikit sudah bawa perasa an, akhir nya emosi. Dan ini justru mendowngrade demokra si. Tujuan kita adalah memberi kan infor masi yang positif yang inspiratif sehingga demokrasi ini bisa mencerdaskan bang sa ini,” tuturnya.

Abdul rochim