Edisi 11-01-2019
Praktik Prostitusi dalam Sejarah Peradaban Manusia


Terungkapnya kasus prostitusi online yang melibatkan artis di Surabaya, Jawa Timur baru-baru ini kian menambah panjang praktik gelap pemuas birahi ini di Tanah Air.

Di luar hal itu, dalam sejarahnya pelacuran memang selalu tertulis di perjalanan hidup umat manusia. Selama masih ada syahwat yang tidak terbendung, selama itu juga bisnis esek-esek ini akan terus menjamur. Berikut berbagai macam bentuk pelacur sepanjang sejarah peradaban manusia.

Devadasi

Devadasi adalah seorang wanita yang dipaksa masuk ke dalam kehidupan pelacuran sebagai bentuk pelayanan pada Dewi Kesuburan, Yellamma. Praktik ini dimulai ketika seorang anak perempuan memasuki usia pubertas dan keperawanannya akan dilelang oleh orang tuanya sendiri kepada penawar tertinggi. Begitu keperawanan terenggut, gadis-gadis ini akan mendedikasikan dirinya pada sang Dewi Kesuburan dan hidup sebagai pelacur. Setiap malam mereka akan melakukan ritual sama berupa menawarkan dirinya pada penawar tertinggi.

Auletrides

Ini merupakan sebutan untuk kalangan PSK di Yunani Kuno. Mereka disebutkan memiliki posisi unik dalam masyarakat karena merupakan orang-orang berbakat dalam bidang seni. Seperti pemain alat tiup, penari terlatih, dan jago akrobat. Kalangan PSK ini bukan hanya terdiri dari anak gadis tapi juga anak laki-laki.

Zonah

Zonah merupakan pelacur wanita yang tercantum di Alkitab Yahudi. Zonah tidak dimiliki oleh satu pria tertentu dan tidak bertanggung jawab untuk mempunyai keturunan. Ia berada di luar hukum Alkitab dan hanya memiliki sedikit peraturan mengenai ketentuan dan gaya hidup yang harus dianutnya.

Ying Chi

Ying Chi dianggap sebagai pelacur resmi pertama dalam sejarah China. Keberadaan awal mereka dipelopori oleh Kaisar Wu yang sengaja merekrut pasukan perempuan dengan tujuan sebagai pendamping dan penghibur para prajuritnya ketika melakukan tugas perjalanan jauh.

Ganika

Ganika adalah versi India dari geisha Jepang. Para wanita ini menikmati kelas sosial tinggi di masyarakat yang berarti keberuntungan dan kemakmuran. Seorang Ganika tidak akan pernah menikah dan tidak pernah menjanda, sehingga mereka lolos dari stigma sosial janda. Janda dianggap pertanda yang sangat buruk dan pada satu titik dilarang tampil di depan publik. Masyarakat India mengakui sembilan jenis pelacur dan Ganika adalah tingkat elit dalam hirarki ini.

Tawaif

Para tawaifs dikenal sebagai seniman pertunjukkan di India Utara antara abad 18 sampai awal abad 20. Sama halnya dengan geisha, mereka adalah penari dan musisi, mereka bukanlah sekadar pelacur dalam arti biasa. Banyak dari mereka yang kaya, terutama yang memilih pelanggan mereka dengan bijak. Mereka yang memiliki anak perempuan seringkali meneruskan profesi dari ibunya. Bahkan, jika mereka berasal dari garis keturunan panjang, sebagai seorang tawaifs dapat meningkatkan status sosialnya. Menariknya, keberadaan mereka diakui bersama dengan istri yang resmi.

Jugun Ianfu

Jugun Ianfu atau budak seks pertama adalah orang Korea dari Pulau Kyushu Utara di Jepang atas permintaan salah seorang penguasa militer yang dikirimkan oleh Gubernur Prefektur Nagasaki. Dasar pemikiran di balik pembentukan sistem formal Ianjo (rumah bordil) adalah pengembangan pelayanan seksual. Oleh karena itu perlu diawasi dan dikontrol untuk mengurangi jumlah pemerkosaan di tempat-tempat yang menjadi basis militer Jepang. Dalam proses perekrutan tersebut tidak hanya melibatkan militer tetapi juga Departemen Dalam Negeri

Pelacur Kuil

Peran pelacur kuil (temple prostitutes) di masyarakat Yunani-Romawi kuno adalah salah satu subyek dari banyak perdebatan. Ini bukan perdebatan apakah praktik ini populer atau tidak, namun rincian dari praktik tersebut yang masih memiliki banyak interpretasi. Pelacur kuil adalah mereka yang menjual diri di tengah-tengah kesucian kuil, dengan seijin pendeta kuil dan secara lebih luas mereka tengah bekerja untuk Tuhan mereka. Hanya bagaimana detail pelayanan yang ditawarkan oleh pelacur kuil tersebut tidak diketahui.

Hetaira

Hetaira adalah pelacur kelas tinggi di Athena. Karena prostitusi dilegalkan di sana dan para pelacur tidak bisa menjadi warga negara Athena, hetaira seringkali adalah seorang budak. Kadang-kadang, dia adalah seseorang yang tinggal di kota, lahir dari orang tua non-Athena. Tidak seperti porne, wanita yang melakukan profesinya di balik pintu yang tertutup, hetaira seringkali terlihat di simposium. Mereka dilarang menikah dengan penduduk asli, tapi bisa dibeli dan dibebaskan oleh seseorang, meskipun praktik seperti itu tidak disukai.

Sumber: www.listverse.com