Edisi 11-01-2019
Pudarnya Kepakaran


Judul di atas terins pirasi dari buku The Death of Expertise (2017) oleh Tom Nichols.

Sebuah buku yang provokatif dan peringatan serius bagi kalangan pakar, yaitu me reka yang mempelajari bidang ilmu secara serius, kon sisten, memiliki pengalaman banyak pada di siplin ilmunya, dan mem peroleh pengakuan dari ko lega seprofesi. Menurut Nichols, dulu pakar atau seorang ilmu wan ahli mem peroleh peng hormatan dan sta tus sosial ting gi di tengah masya ra kat, tetapi sekarang telah pu dar. Istilahnya “ death” atau mati ra - sanya terlalu keras. Ruang demokrasi yang mem berikan kebebasan setiap orang untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya se ma - kin memperoleh medium luas melalui gawai berbasis internet. Setiap orang bebas menulis dan menyebarkan gagasan apa saja tanpa hambatan. Setiap orang bisa menjadi penulis dan peng - kritik sekaligus.

Dunia diper ke - cil menjadi miniatur dalam genggaman gawai. Masyarakat Amerika yang selama ini dianggap paling ber - pen didikan, ternyata penge ta - hu an mereka tentang peta du - nia sangat lemah. Merasa ne ga - ra nya sebagai pusat dunia, war - ga Amerika tidak tertarik mem - pelajari negara lain. Bah kan di tingkat elite politiknya minim sekali pengetahuannya tentang negara-negara di du nia, se men - tara politisi Gedung Putih meng klaim dirinya se ba gai polisi dunia. Mereka tahu Pu lau Bali misalnya, tetapi ti dak tahu di mana Indonesia. Hal yang membuat posisi pakar memudar adalah sema - kin berkembangnya berbagai cabang ilmu pengetahuan sam - pai ke ranting-ranting terkecil. Ini membuat seorang yang me - miliki kepakaran dianggap se - ba gai ilmuwan biasa saja.

Se ka - rang ini bukan hal asing me li hat seorang pasien mendebat dok - ternya tentang resep obat yang diberikan. Banyak pasien mem - pelajari jenis penyakit dan obatnya lewat media sosial. Apa yang dikemukakan Nichols itu sekarang juga fe no - menal di Indonesia. Pengguna gawai di Indonesia masuk po si si ketiga terbanyak di dunia se te - lah China dan India. Saat ini orang mudah sekali mengakses informasi, bahkan dibanjiri in - for masi sehingga masingmasing merasa setingkat pe - nge tahuannya. Ketika masuk ranah politik dan agama, orang hanya mau mendengar dan membaca apa yang sesuai selera dan ke ya - kinannya sehingga menolak apa yang tidak disukainya. Pe - ris tiwa berkumpulnya massa “212” di Lapangan Monas dan sekitarnya mengindikasikan pudarnya wibawa pakar serta pemimpin konvensional, me re - ka lalu menciptakan wadah sendiri.

Setiap orang merasa oto - nom dan sejajar. Fenomena ini juga terlihat dalam acara debat di televisi. Semua pem bi ca ra merasa sejajar, saling sa hut menyahut. Sebuah per de bat an yang digemari peng usa ha stasiun TV agar seru, rating pe - nonton tinggi, lalu sponsor iklan juga banyak. Oleh Tom Nichols, perdebatan seperti itu di ibaratkan sebuah pertan - ding an hoki tanpa wasit. Bah - kan, penonton bisa nimbrung ikut bertanding. Semuanya menjadi pemain, pengamat, dan analis.

Dalam ranah kepartaian, memudarnya kepakaran inte - lek tual partai juga terlihat. Un - tuk maju ikut bertanding da lam pemilihan calon legislatif yang menentukan kemenang an nya bukan karena kepa ka r an nya, tetapi banyaknya uang dan publikasi. Ironis, di ber ba gai tempat, caleg berkualitas se cara intelektual dan meru pa kan kader partai kalah bersaing dengan pendatang baru karena faktor uang dan popularitas sebagai komedian. Akibat dari pudarnya wi - bawa kepakaran, maka dalam kompetisi untuk me me nang - kan jabatan politik di negeri ini yang menjadi modalnya adalah jumlah massa dan uang.

Di ling - kungan umat beragama, kepakaran ini sampai batas te rtentu masih dihormati. Tetapi, pelan-pelan semakin pudar dan menciut pengaruhnya. Berkembang kebudayaan dan mazhab agama eklektik, hi brida, sintetik, dan campur sari.

PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Berita Lainnya...