Edisi 11-01-2019
Kemendes Angkat Potensi Kain Tenun Nusantara


JAKARTA –Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemen des PDTT) terus mendorong pembangunan di kawasan daerah tertinggal.

Salah satunya me lalui pengembangan seni dan budaya daerah tertinggal se bagai modal pembangunan desa. Tak tanggung-tanggung, pe - ngembangan seni dan budaya daerah tertinggal dilakukan dengan menggelar Eco Fashion Week Indonesia (EFWI) 2018. Bekerja sama dengan desainer ternama Indonesia Merdi Si - hombing, Kemendes PDTT melalui Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal berupaya mengangkat ber - bagai potensi kain yang ba nyak diproduksi oleh penduduk di kawasan daerah tertinggal. “Banyak kain-kain ber kua - litas tinggi baik dalam tenun mau pun ikat yang dibuat oleh penduduk desa di kawasan ter tinggal. Kain-kain ini ke - mu dian didesain secara profe - sio nal dan ditampilkan ke publik,” ujar Direktur Jenderal (Dirjen) PDT Kemendes PDTT Samsul Widodo di Jakarta kemarin.

Dia menjelaskan, sesuai man - dat dari Presiden Joko Widodo (Jokowi), Indonesia harus tum - buh dengan potensi lokal masingmasing. Hal ini dilaku kan karena gap teknologi Indonesia dengan negara-negaramajumasihcukup jauh. Untuk itu dibutuhkan po - tensi lokal yang bisa menjadi modal untuk bersaing dengan mereka. “Salah satu potensi yang bisa dijual dari Indonesia adalah ber - bagai keanekaragaman sumber daya alam, seni, dan budayanya yang dimiliki. Optimalisasi seni dan budaya menjadi modal pem bangunan kemudian di - ang kat sebagai wujud pem ba - ngunan nasional berbasis ka - rakter sesuai amanah Presiden Jokowi,” ujarnya.

Dia menjelaskan kain-kain hasil kerajinan penduduk dari kawasan daerah tertinggal di - buat dari bahan-bahan lokal ber kualitas tinggi. Selain itu, proses pembuatan dilakukan secara manual yang meng hasil - kan kain dengan kekhasan ter - sendiri. “Sayangnya selama ini po - tensi ini belum terangkat secara maksimal karena keterbatasan media sosialisasi. Nah, gelaran EFWI bisa menjadi salah satu media untuk mengangkat po - ten si kain tenun dan ikat dari berbagai daerah tertinggal,” katanya. Lebih jauh, Samsul Widodo mengatakan bahwa EFWI ada - lah visualisasi konsep fashion ramah lingkungan dengan meng angkat budaya asli Indo - nesia dalam pembuatan teks - til. Gelar EFWI merupakan wu - jud pendekatan pem bangunan di daerah tertinggal secara me - nye luruh, yakni menyentuh aspek seni dan budaya pem - bangunan.

“Pendekatan pem bangun - an daerah tertinggal berbasis seni dan budaya diharapkan dapat ber kontribusi dalam pelestari an ekonomi lokal. Tak hanya itu, cara ini juga ber dam - pak pada peningkatan ekono - mi masya ra kat di daerah ter - tinggal se ba gai perajin tekstil,” pungkasnya. Sementara itu, Merdi Siho - m bing menjelaskan bahwa Eco Fashion Week merupakan salah satu wujud gerakan yang dimulai melalui fashion. Ge ra - kan ini banyak berbicara ten - tang kese imbangan dan ke - berlangsungan.

“Bagaimana kita harus me - rawat bumi dengan laut yang saat ini sudah banyak tercemar limbah plastik dan hutan yang sudah banyak ditebang secara liar. Di samping itu, kita juga dihadapkan dalam satu tang - gung jawab untuk membuat budaya kita harus tetap sustain. Dan Eco Fashion Week hadir dengan mengombinasikan hal tersebut,” katanya.

Neneng zubaidah