Edisi 11-01-2019
Teror pada Pimpinan KPK


Teror dan ancaman terhadap aparat penegak hukum tak pernah berhenti. Kali ini dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi korban intimidasi dan aksi teror orang yang tidak ber tanggung jawab.

Penegak hukum dalam hal ini Polri harus bekerja ekstrakeras untuk mengungkap secara tuntas dan secepat-ce patnya kasus teror pada pimpinan lembaga antirasuah tersebut. Adalah rumah Ketua KPK Agus Rahardjo dan Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif yang diteror orang yang tidak dikenal tersebut. Memang tidak ada korban manusia dalam teror yang menimpa kedua orang kunci KPK tersebut. Namun, tetap saja ini merupakan ancaman nyata terhadap seluruh penegak hukum terutama KPK yang sedang giat-giatnya dalam memberantas korupsi di Tanah Air. Ada sejumlah alasan mengapa Polri harus mengungkap secara terang benderang kasus teror tersebut. Pertama , kasus teror pada aparat KPK ini bukan yang pertama terjadi.

Sebelumnya, salah satu penyidik senior KPK yakni Novel Baswedan mendapat serangan teror yang sangat mengerikan. Saat pulang salat subuh di masjid dekat rumahnya kawasan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Novel disiram air keras oleh dua orang tak dikenal hingga menyebabkan kerusakan permanen pada salah satu alat penglihatannya. Peristiwa memilukan itu terjadi pada Selasa (11/4/2017). Dan ironisnya, hingga hampir dua tahun sampai saat ini kasus tersebut belum terungkap siapa pelaku dan apa motifnya. Jika kasus teror pada pimpinan KPK tersebut sampai tidak terungkap, para pelaku kejahatan akan semakin berani untuk melakukan teror terhadap para penegak hukum lain. Kedua, sudah seharusnya pemerintah dan Polri menjamin keamanan dan keselamatan pada seluruh aparat penegak hukum tak terkecuali petugas KPK.

Hal ini penting dilakukan agar petugas KPK maupun aparat penyidik lain merasa tenang dalam bekerja menumpas para pencuri uang rakyat tersebut. Tanpa jaminan keamanan dari negara, mereka bakal kesulitan untuk bekerja secara maksimal. Jaminan keselamatan dari negara tersebut juga membuat para penegak hukum percaya diri dalam memberantas kasus-kasus korupsi di mana pun berada dan siapapun pelakunya. Ketiga , pengungkapan tuntas kasus teror pada KPK ini juga membuktikan keseriusan aparat kepolisian dalam melindungi sesama aparat hukum. Jangan sampai muncul kesan dari masyarakat Polri tidak all out dalam melindungi koleganya. Karena seperti kita ketahui dua institusi ini dulu pernah memiliki “cerita kurang baik” dalam kasus cicak vs buaya.

Karena itu, untuk menepis anggapan tersebut sudah sepantasnya Polri harus bekerja super keras untuk menangkap pelakunya. Karena me - mang hanya Polri yang punya kewenangan untuk mengungkap ka - sus ini secara tuntas. Intinya jangan sampai kegagalan peng - ungkapan kasus Novel Baswedan terulang pada teror pimpinan KPK ini. Sebaliknya, adanya teror tersebut jangan sampai me - ngendurkan semangat para penegak hukum untuk terus berjuang dalam upaya pemberantasan korupsi. Ingat, korupsi merupakan musuh bersama yang telah menghancurkan bangsa ini sehingga kita tertinggal dengan negara-negara tetangga yang dulunya berguru pada Indonesia.

Sebut saja, Singapura, Thailand, dan Malaysia. Ironis memang, tapi itulah fakta yang harus kita terima. Karena itu, kalau kita kalah dengan para peneror, koruptor pun makin merajalela. Taruhannya adalah keberlangsungan bangsa ini ke depan. Seluruh elemen bangsa harus sepakat bahwa kita harus mendukung setiap upaya pemberantasan korupsi sehingga keberadaan KPK harus terus mendapat dukungan dan jaminan keamanan. Tanpa itu, upaya pemberantasan korupsi hanya sebatas mimpi. Kasus teror pada KPK ini akan menjadi ajang pembuktian bagi pemerintah dan aparat Polri untuk menunjukkan komitmennya mendukung KPK dalam upaya pem - berantasan korupsi.

Marilah kita beri waktu dan percayakan Polri bekerja untuk mengungkap kasus teror ini hingga tuntas. Semoga dalam waktu dekat para pelakunya bisa ditangkap beserta tokoh intelektualnya. Seiring dengan itu, KPK juga jangan sampai kendur semangatnya untuk terus bekerja keras menumpas para koruptor.

Berita Lainnya...