Edisi 11-01-2019
Stabilkan Harga Beras, Bulog Lakukan OP Besar-Besaran


JAKARTA– Pada tahun ini, Perum Bulog secara masif akan terus melakukan operasi pasar secara besar-besaran. Kegiatan ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga beras medium di pasar.

”Stabilnya harga beras diharapkan bisa mengerem laju inflasi,” ujar Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog Budi Waseso di sela mendampingi Presiden Joko Widodo meninjau ketersediaan beras di Gudang Divisi Regional (Divre) DKI Jakarta, kemarin. Bulog menginstruksikan kepada seluruh divre untuk melaksanakan kegiatan operasi pasar dalam rangka menjaga ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga (KPSH) beras medium. Tercatat ada 112 truk beras yang akan dipasok ke daerahdaerah yang bukan merupakan sentra panen di seluruh Indonesia.

Beras tersebut dipasok ke pengecer di sejumlah pasar tradisional, ritel modern, jaringan Sahabat Rumah Pangan Kita (RPK), sinergi BUMN, serta melalui distributor. Terkait pengawasan, Bulog bekerja sama dengan Satgas Pangan Polri. Tujuannya agar pelaksanaan KPSH beras medium ini tidak terjadi penyimpangan di lapangan. ”Sesuai dengan keputusan Ratas (rapat terbatas), perkembangan harga beras yang mengalami tren kenaikan jelang awal 2019, pemerintah menugaskan Bulog untuk melakukan intervensi pasar secara masif melalui kegiatan Operasi Pasar Cadangan Beras Pemerintah (OP-CBP) selama tiga bulan ke depan dimulai dari Januari 2019,” ujar Buwas.

Realisasi kegiatan KPSH pada 2018 mencapai 544.649 ton, merupakan angka realisasi operasi pasar beras CBP tertinggi selama 10 tahun terakhir. Khusus Bulog divre DKI Jakarta dan Banten realisasi KPSH tahun 2018 sebesar 64.668 ton. Realisasi KPSH pada 2019, hingga saat ini sebesar 37.017 ton dengan rata-rata realisasi per hari sebesar 7.000–8.000 ton dan akan terus ditingkatkan dengan target 15.000 ton per hari. Realisasi KPSH pada 2019 Bulog hingga saat ini 8.573 ton yang dilaksanakan di 44 pasar, termasuk di dalamnya pasar pencatatan BPS di Jakarta.

”Kami sadar bahwa keberhasilan menjaga ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga beras medium di setiap daerah akan tercipta bila dilakukan secara bersama dengan dukungan seluruh pihak, terutama dari pemerintah daerah, dinas terkait, aparat terkait, dan para pelaku pasar,” kata Buwas. Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, stok beras pada awal tahun ini berlipat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya pada akhir Desember stok beras hanya sekitar 700.000–800.000, tetapi pada akhir 2018 stok beras mencapai 2,1 juta ton. ”Stoknya masih besar. Oleh sebab itu, stok ini kita pakai untuk menjaga harga bahan po-kok terutama beras bisa sedikit turun,” ujarnya.

Jokowi memastikan harga beras sudah terkontrol dengan baik. Ketersediaan pasokan yang besar akan meminimalkan lonjakan harga di pasar. ”Karena biasanya kalau stoknya sedikit, ada spekulasi dari yang bermainmain dengan harga. Ini kita tunjukkan stok memang ada dan memang banyak,” ungkapnya. Menurut Jokowi, tren penurunan harga beras akan terus berlanjut seiring masuk musim panen pada Februari–Maret nanti. Ini juga akan memengaruhi suplai produksi di lapangan. ”Saya juga mendapatkan info dari kabulog (Dirut Bulog), di Cipinang memang trennya turun, (penurunannya) baru Rp50 per kilogram (kg). Ini turun karena sudah beberapa hari ini Bulog melakukan operasi pasar besar-besaran untuk memberikan suplai ke pasar-pasar yang membutuhkan,” jelasnya.

Jokowi mengingatkan bahwa selain kestabilan harga, keseimbangan bagi kepentingan petani dan masyarakat juga harus dijaga. ”Keseimbangan antara harga produksi dan pasar harus dijaga Bulog. Tidak bisa harga terlalu murah karena nanti petaninya akan sulit,” tuturnya. Presiden juga mengatakan, tidak menutup kemungkinan apabila produksi tidak cukup, maka harus ditutup dengan impor. ”Kalau produksi memang tidak cukup, harus ditutup dengan kegiatan impor. Kalau tidak, harganya pasti akan naik. Inilah fungsi Bulog,” kata Jokowi. Buwas memperkirakan hingga Juli 2019 tidak ada impor beras. Hal ini karena adanya panen raya sehingga diperkirakan produksi mencukupi.

”Kemarin saya dan tim Bulog dengan Mentan, dibantu BPS menjajaki peta daerah mana saja yang akan panen di seluruh Indonesia,” ungkap Buwas. Bulog menargetkan akan menyerap 1,8 juta ton beras dari petani pada saat panen berlangsung. Buwas mengaku sudah mulai mengosongkan sejumlah gudang penyimpanan di daerah untuk menampung beras hasil panen raya. ”Kita targetkan penyerapan beras sebanyak 1,8 juta ton. Berarti penyerapan gabahnya dua kali lipat. Kita sudah kumpulkan Gapoktan dan sudah berkoordinasi dengan beberapa menteri. Jadi kita pastikan 1,8 juta tercapai,” ungkapnya.

Menurut Buwas, penyerapan beras diperkirakan sudah bisa dimulai pada Februari 2019. Bulog juga sudah menemukan beberapa sentra produksi yang akan panen. ”Tapi bukan berarti 100%. Kita juga melihat kepentingan petani. Kalau mereka lebih untung jual ke pasar bebas dengan harga tinggi, ya biar saja,” tandasnya.

Oktiani endarwati/ dita angga/sindonews