Edisi 11-01-2019
Produksi Freeport Capai 1,2 Juta Ton


JAKARTA–PT Freeport Indonesia di pas ti kan akan mengalami penurunan produksi konsentrat tembaga tahun ini. Penurunan produksi disebabkan karena masa transisi perpindahan operasional tam bang terbuka (open pit) beralih ke tambang bawah tanah.

“Penurunan produksi kare - na ada transisi dari tambang terbuka ke bawah tanah. Pe nu - runan hanya sementara, nanti setelah itu akan stabil lagi,” ujar Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot Ari yo - no di Jakarta, kemarin. Menurut dia, produksi Free - port baru akan stabil pada 2021, sedangkan untuk puncak pro - duk si akan terjadi pada 2025 mend atang. Untuk tahun ini produksi konsentrat tembaga Free port diprediksi turun dras - tis dibandingkan tahun lalu. Tahun ini produksi Freeport diprediksi hanya mencapai 1,2 juta ton jauh dibandingkan ha - sil produksi sepanjang 2018 men capai 2,1 juta ton.

Pe nu - run an produksi akan ber dam - pak pada pendapatan Freeport Indonesia. Berdasarkan catatan penda - pat an Freeport Indonesia ha - nya USD3,14 miliar. Sedangkan pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amor tisasi atau earnings before interest, tax, depreciation, dan amor ti za - ti on (EBITDA) pada tahun yang sama ialah USD1,25 miliar. Angka tersebut anjlok lebih se - paruh karena pendapatan Free - port Indonesia pada 2018 men - capai USD6,52 miliar dan EBITDA sebesar USD4 miliar. Pendapatan Freeport Indo - ne sia baru bisa mencapai USD6 mi liar pada 2022.

Sementara pada 2020 diprediksi mencapai USD3,83 miliar dan EBITDA se - besar USD1,79 miliar. Ke mu - dian pada 2021 pendapatan diprediksi mencapai USD5,12 miliar dan EBITDA mencapai USD2,64 miliar. Sementara pada 2022 pen - dapatan Freeport Indonesia mencapai USD6,16 miliar dan EBITDA USD3,62 miliar, sete - lah itu akan kembali stabil bah - kan mencapai USD7 miliar. Direktur Mineral pada Di - rek to rat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Yunus Saefulhak menam bah - kan, produksi Freeport tahun lalu sebesar 2,1 juta ton se pan - jang 2018, yakni 1,2 juta ton bijih untuk diekspor dan 800.000 ton untuk memasok smel ting Gresik, Jawa Timur. Se - dangkan untuk proyeksi tahun ini sebesar 1,2 juta ton, yakni sebesar 1 juta ton akan dipasok untuk memenuhi kebutuhan smel ting Gresik dan 200.000 ton untuk diekspor.

“Dalam kurun waktu 2019- 2020 produksi akan turun ka - rena harus menyiapkan ber ba - gai macam infrastruktur dan kesiapan produksi. Ada proses membangun infrastruktur, bi - kin jalan, dan macam-macam,” ujarnya. Dia mengatakan, penurunan produksi di tambang terbuka sudah mulai menurun, se dang - kan underground mine belum ma mpu menutupi penurunan produksi. Hal senada juga ditegaskan Direktur Utama PT Indonesia Asahan Alumunium Budi Gu - na di Sadikin. Menurutnya, pe - nu runan produksi disebabkan operasional dari open pit pindah ke underground mine . Dampak dari masa transisi peralihan tambang tersebut me nyebabkan Inalum tidak mem peroleh dividen hingga dua tahun mendatang. Pasal - nya, pendapatan Freeport In - do nesia akan menurun dalam kurun waktu 2019-2020.

Ina - lum baru akan mendapatkan di - viden pada 2021 karena tam - bang bawah tanah Freeport su - dah mulai beroperasi. Namun, dividen yang diperoleh belum signifikan. Inalum baru akan men da - pat kan dividen dengan jumlah stabil pada 2023. Bahkan, laba perusahaan bisa menembus USD2,36 atau setara Rp33,04 tri liun pada 2034. Tahun itu Free port Indonesia akan mem - ba yar pajak kepada negara se be - sar USD1,2 miliar per tahun. “Kami tidak mendapatkan dividen itu selama dua tahun. Pada 2021 baru mendapatkan sedikit. Bottom line-nya 2023 baru stabil,” ujar dia.

Dia mengatakan, dalam ku - run waktu 2019-2023 Inalum setiap tahunnya berinvestasi sebesar USD1,1-1,4 miliar per tahun di luar investasi smelter . Meski laba turun, Budi me mas - tikan tidak akan mengganggu investasi. Budi optimistis dapat melunasi surat utang atau obli - gasi global yang diterbitkan un - tuk membayar divestasi 51% sa - ham Freeport sebesar USD4 miliar atau mencapai Rp58,4 tri liun. “Bunganya kecil. Kami su dah perhitungkan semua - nya,” kata dia.

Izin Ekspor

Di sisi lain, izin ekspor Free - port akan berakhir pada 15 Fe - bruari 2019. Izin ekspor akan diperpanjang apabila telah di - ajukan oleh Freeport. Menurut Yunus, SPE dikeluarkan ber da - sar kan Rencana Kerja dan Ang - garan Perusahaan (RKAP), ka - pasitas cadangan dan kapasitas untuk smelter. Dalam pemberian izin eks - por nanti akan ada sejumlah pro ses verifikasi cadangan da - lam RKAP. Pemerintah juga akan melihat kapasitas pro duk - si untuk smelter. Tak hanya itu, pemerintah juga akan melihat perkembangan pembangunan smelter. Berdasarkan laporan ter akhir Freeport berencana membangun smelter di Gresik, Jawa Timur, dengan nilai in ves - tasi sebesar USD2 miliar.

Pihaknya berkeinginan Free port untuk segera me mu - tus kan pembangunan smelter itu. Ada pun progres terakhir baru men capai 5,18%. Apabila ti dak me me nuhi target atau perkembangannya masih di bawah 30%, maka akan dike nakan bea eks por keluar sebesar 7,5%. “Kalau se luruhnya sudah ter pe nuhi ma ka kami akan setujui dan di be ri kan izin eks - por,” kata dia.

Nanang wijayanto