Edisi 11-01-2019
Sombong Membawa Bencana


PARIS– Thomas Tuchel tidak bisa menyembunyikan kekesalannya setelah Paris Saint-Germain (PSG) tersingkir dari perempat final Coupe de la Ligue.

Dia menyebut arogansi sebagai penyebab mengapa Les Parisiensbisa dipermalukan Guingamp 1-2, Kamis (10/1). PSG sejatinya menjadi favorit terkuat juara Coupe de la Ligue musim ini. Pasalnya, Thiago Silva dkk terus berkuasa sejak 2013/2014 atau selama lima edisi beruntun. Apalagi, mereka juga punya prestasi bagus ditambah dukungan fanssetia. Sebelum duel ini, PSG tidak pernah terkalahkan dalam kompetisi yang digelar di Prancis. Di Ligue 1, mereka mencatat 15 menang dan dua imbang. Lalu, melibas Pontivy GSI 4-0 saat babak 64 besar Coupe de France. Pada fase 16 besar Coupe de la Ligue, PSG juga sukses melibas Orleans 2-1.

Sementara rekor kandang di semua kompetisi sejauh ini jelang bentrok Guingamp adalah 11 menang dan satu imbang alias belum pernah terpeleset. Tidak hanya itu, PSG juga menurunkan sejumlah pemain pilar untuk melawan Guingamp seperti Neymar, Kylian Mbappe, Angel di Maria, termasuk Edinson Cavani yang diturunkan pada babak kedua. Tapi, apa yang terjadi di Parc des Princes justru di luar perkiraan. Sempat unggul lewat Neymar pada menit ke-62, PSG harus bertekuk lutut akibat penalti yang sukses dieksekusi Yeni Atito N’Gbakoto (81) dan Marcus Thuram (90). PSG bahkan bisa saja tumbang 1-3 karena Guingamp juga mendapat hadiah penalti pada menit ke-61. Beruntung, Thuram yang ditunjuk sebagai eksekutor tidak bisa mengonversi menjadi gol.

“Saya tahu apakah kami pantas menelan kekalahan ini. Sejujurnya, kami bertanding dengan terlalu percaya diri. ,” ucap Tuchel, dilansir Skysport. Tuchel merasa mimpi buruk ini terjadi karena PSG terlalu percaya diri. Itu mungkin karena pasukannya cenderung mendominasi jalannya pertandingan. Terbukti, tuan rumah menguasai bola hingga 63% dan melakukan total 11 tembakan. Tapi, hanya satu yang berhasil. Mantan pelatih Borussia Dortmund itu menilai para pemainnya terlalu yakin bisa mengalahkan Guingamp dengan mudah. Tapi, itu malah menguntungkan lawan.

“Kami tidak bermain dengan rasa lapar yang diperlukan. Kami kini kehilangan kesempatan mendapat gelar. Selalu ada pelajaran dari setiap kekalahan,” tandas Tuchel.

M mirza


Berita Lainnya...