Edisi 11-01-2019
Penutup Manis Legenda Naga


MELANJUTKANjejak dua film sebelumnya, How to Train Your Dragon 3kembali menyajikan kisah penuh kedewasaan. Juga masih sempat memberi pesan tersembunyi untuk penontonnya.

Pada film pertama yang dirilis pada 2010, ceritanya berfokus pada perjuangan Hiccup, anak kepala suku bertubuh kecil, dalam membuktikan kemampuannya menaklukkan naga. Kisahnya berakhir dengan Hiccup yang harus merelakan separuh kaki kirinya hilang akibat pertarungan dengan musuh, tapi berhasil mendapatkan respek dari seluruh warga Desa Berg. Sementara dalam film kedua yang lahir pada 2014, Hiccup harus menghadapi banyak tantangan hidup. Naga tunggangannya, Toothless, membelot akibat pengaruh musuh. Dia juga harus kehilangan ayahnya.

Hiccup pun harus menggantikan posisi sang ayah sebagai kepala suku. Lantas, bagaimana sepak terjang Hiccup (Jay Baruchel) sebagai kepala suku? Diadaptasi dari seri buku penulis Ing - gris, Cressida Cowell, film ketiga ini kembali menantang Hiccup, membuatnya bimbang dan terpuruk sebelum mene - mukan solusi. Di bawah kepemimpinan Hiccup, warga Berg rajin mela - ku kan misi penyelamatan naga-naga yang ditangkap. Bersama timnya; Astrid (America Ferrera), Snoulout (Jonah Hill), Eret (Kit Harington), Tuff nut dan Ruffnut (Justin Rupple dan Kristen Wiig), serta Fishlegs (Christopher Mintz- Plasse), misi-misi penyela matan itu membuat Berg penuh dengan naga, baik ukur an besar maupun yang masih bayi.

Aksi Hiccup dan rekan-re - kannya ini tentu saja membuat berang mereka yang gemar menangkap naga. Kelompok ini lalu menyewa jasa Grimmel (F Murray Abraham), pemburu naga kelas kakap yang dulu juga pernah melawan ayah Hiccup. Dengan siasat liciknya, Grimmel lalu melepas naga betina Night Fury berwarna putih un tuk memikat Toothless. Mudah diduga, Toothless pun langsung jatuh cinta pada naga putih mulus itu, membuatnya sering hilang konsentrasi dalam melin - dungi Hiccup. Dalam kisah perebutan dan penyelamatan naga ini, Dean DeBlois selaku sutradara sekaligus penulis film trilogi ini tak mau mem berikan cerita yang lempeng-lempeng saja.

Di tengah adegan naganaga terbang dan visual indah yang dengan mudah memikat penonton cilik, dia menyelipkan kisah-kisah yang akan terasa akrab bagi penon ton remaja, dewasa, termasuk para orang tua. Yaitu tentang betapa in dahnya jatuh cinta, tentang tuntutan menikah dari orangorang terdekat, hingga melepas orang-orang dan hal-hal yang dekat dan dicintai sepanjang hidup demi keba hagiaan mereka. Belum lagi tentang hal yang berulang kali ditekankan trilogi ini sejak awal kemun culannya, yaitu percaya penuh pada kekuatan diri sendiri. Semua pesan-pesan ini berkelindan, mengalir lancar sepanjang nyaris dua jam film ber - lang sung. Semua rasa pun akan bercampur; dari lucu, se nang, sedih, hingga haru.

Penonton akan tersenyum dan tertawa melihat Toothless yang men co - ba berbagai cara untuk me mi - kat hati sang naga putih, jugakelimpungan jika si naga tak terlihat di mata nya. Pe - nonton juga akan ikut senang setiap kali keduanya “berkencan”. Sementara Hiccup akan men - dapatkan tan - tangan yang lebih berat dari sebelum-sebelumnya. Dia akan dipaksa memutar otak lebih keras, dan terkuras emosinya lebih ba nyak. Selain harus bisa me mim pin warga Berg sebagai kepala suku dalam usia yang sangat muda, dia juga harus mengatasi masalahmasalah pribadinya. Singkat kata, Hiccup dituntut untuk menjadi dewasa sepenuhnya. Beberapa hal menarik yang relevan dengan kehidupan masa kini juga terselip dalam film ini.

Misalnya soal Astrid, kekasih Hiccup sekaligus petarung Viking yang tangguh, yang dengan tegas mengatakan tak mau terlalu terburu-buru menikah. Padahal, Hiccup su dah ngebet ingin menikahi Astrid. Selain itu, ada Fishlegs yang gemar membawa anak naga ke mana-mana, ter masuk saat misi pem bebasan naga. Berulang kali dia dicemooh karena di anggap bergerak lamban ka rena mem bawa bayi ke mana-mana, tapi Fishlegs tak peduli. Pada akhir nya, mem bawa anak naga ke manamana jus tru membantunya saat pertarungan besar. Ini seperti pesan penghormatan dari film ini un tuk para ibu yang selalu ber usa ha sekuat tenaga untuk te tap dekat dengan anaknya mes ki bekerja atau menjadi wanita karier.

Dengan cerita penuh pesan, visual indah, dan humor yang terselip di mana-mana, film ini menjadi penutup yang manis bagi trilogi How to Train Your Dragon . Menyimaknya hingga akhir dan berpisah dengan Hiccup dan Toothless akan sangat mungkin membuat penon ton terseret dalam drama romantika. Ibarat orang tua atau teman dekat yang selama bertahun-tahun hidup bersama, pada akhirnya kita semua harus merelakan hal-hal yang dicintai pergi dan menempuh jalan takdirnya masingmasing.

Herita endriana