Edisi 11-01-2019
Surat Cinta untuk Orang Biasa


JIKAada film yang judulnya selalu disebut pada nyaris setiap penghargaan film di seluruh dunia, jawabnya hampir pasti adalah Roma .

Baik dalam festival film prestisius hingga jajak pendapat daring untuk para kritikus film, Roma sering kali duduk manis sebagai film terbaik, film berbahasa asing terbaik, atau sutradara terbaik untuk Alfonso Cuaron. Terakhir, Roma meraih film berbahasa asing terbaik serta sutradara terbaik dalam Golden Globes Awards yang digelar pada 6 Januari lalu. Film ini juga disebut sangat layak jadi nomine film terbaik dalam ajang Academy Awards , yang pengumuman nominasinya baru akan dilangsungkan akhir Januari mendatang.

Meski Cuaron sudah sangat dikenal dengan karya-karya spektakuler yang juga meraih banyak penghargaan seperti Y Tu Mama Tambien (2001) Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (2004), Children of Men (2006), dan Gravity (2013), Roma dinilai sebagai filmnya yang sangat per - so nal dan indah. Bukan tanpa alasan, karena ini adalah film yang meng - gam barkan masa kecil Cua ron saat tinggal di Mexico City. Film ini juga adalah sebuah penghormatan atau tribute sutradara Meksiko itu untuk pengasuhnya saat masa kecil. Fokus Roma ada pada sosok pembantu rumah tangga berusia muda bernama Cleo (Yalitza Aparicio). Dia bekerja pada keluarga kelas menengah yang tinggal di distrik Roma, Mexico City.

Mereka yaitu ibu Sofia (Marina de Tavira) dan empat anaknya, Pepe (Marco Graf), Sofi (Daniela Demesa), Tono (Diego Cortina), dan Paco (Carlos Peralta). Ada juga nenek Teresa (Veronica Garcia) dan rekan Cleo, Adela (Nancy Garcia). Sementara sang ayah Antonio (Fernando Grediaga) jarang sekali pulang ke rumah. Setiap hari Cleo sepenuhnya mengabdikan diri untuk mengurusi seisi rumah. Mulai dari membersihkan ru - mah, memasak, membangun - kan anak-anak, memberi ma - kan Borras si anjing peliharaan, mencuci dan menyetrika, hing - ga mematikan semua lampu di rumah sebelum tidur. Cleo pun tak lagi sekadar pembantu rumah tangga, juga sahabat bagi anak-anak Sofia.

Seiring cerita berja - lan, sering absennya Antonio di rumah, ru - panya karena hu bung - annya dengan Sofia sudah tak har monis. Bersamaan dengan itu, Cleo pun rupa nya ada masalah dengan pa carnya, Fermin (Jorge Antonio Guerrero). Film ini dibuat Cuaron de - ngan ritme yang lamban, layak - nya film-film “berat” ala festival film seni. Penonton harus ber - sa bar menontonnya, terutama dalam 30 menit pertama. Mes - ki begitu, di balik kelambanan - nya bercerita, Cuaron sesung - guhnya ingin menunjukkan detail seputar kehidupan sehari-hari Cleo yang penuh dengan pengab dian, loyalitas, kerja keras, kelembutan, dan kasih sayang. Detail yang disajikan dengan ritme pelan itu justru membuat Roma terlihat sangat alami dan nyata.

Seperti film Cuaron lainnya, detail tersebut juga disajikan dengan indah dan tetap terlihat indah meski film dibuat dengan format hitam-putih (menggambarkan memori atau kenangan). Beberapa scene yang akan sulit lepas dari ingatan karena kepiawaian Cuaron dalam menyajikannya adalah adegan pembukanya, yaitu saat Cleo membersihkan ubin dari kotoran anjing, saat Antonio pertama kali muncul dan kesulitan memarkirkan mobilnya yang terlalu besar, hingga satu adegan di pantai jelang akhir film. Scene one shot saat Cleo mematikan lampu di seluruh penjuru rumah juga menyenangkan untuk dilihat.

Lepas dari itu, cara Cuaron menggambarkan “keperka - saan” manusia biasa seperti Cleo sungguh menguras emosi. Pahit manis kehidupan ditelan Cleo dengan tanpa drama ber - lebihan. Terlebih bila diban dingkan Sofia yang meski meng hadapi persoalan yang nyaris sa - ma dengan Cleo, tetap saja membutuhkan orang-orang lain untuk menerima curhat dan menumpahkan kekesalannya. Dengan juga tak melepaskan diri dari situasi so sial politik yang berlangsung di Meksiko saat itu, Roma adalah sajian indah tentang per juangan men jalani kehidupan yang tak pasti.

Herita endriana

Berita Lainnya...