Edisi 11-01-2019
Semangat Aksi Feminine Power


BELANJAbusana baru, terutama jenis high fashion, menjadi aktivitas favorit para wanita sosialita. Tak heran, sejumlah label busana papan atas dan desainer dunia memenuhi kebutuhan tersebut dengan meluncurkan koleksi teranyarnya yang siap dikenakan di momen spesial.

Koleksi baru, salah satunya dikeluarkan oleh merek high class, Prabal Gurung. Perancang bu - sana kelahiran Singapura yang besar di Nepal ini masih mengusung isu feminisme, yaitu tentang wanita dan keindahan di baliknya melalui siluet dan palet yang indah pada koleksi Fall/Winter 2018 . Kali ini dia terinspirasi oleh dua kelompok masyarakat yang didominasi wanita, yakni suku matriarkal Mosuo di China, dan aktivis India Gulabi Gang. Prabal menyiratkan warna pink sebagai simbol dua kelompok tersebut, yang mewakili kekuatan, keberanian, dan perayaan. Dalam koleksi yang diberinya nama Gulabi Gang ini, Prabal banyak menggunakan warna-warna terang dan mengkilat seperti pink , merah, ungu, dan biru.

Keragaman juga diperlihatkan pada pemilihan motif dan bahan yang digunakan yang berasal dari berbagai kebudayaan. Koleksinya yang bisa dilirik, misalnya blus lengan panjang dari bahan sifon yang melayang. Busana colorblock bernuansa pink dan merah ini ditawarkan dengan harga Rp21 juta. Ada juga dress dari bahan sutra lembut warna biru tanpa lengan dengan leher V. Busana seksi dengan belahan rok tinggi ini dibanderol dengan harga Rp22,4 juta. Tersedia juga gaun berlengan sedang bermotif bunga-bunga bernuansa gabungan biru, putih, merah, dan hitam. Harga ini dilepas ke pasaran dengan harga Rp25,2 juta.

Opsi lainnya adalah ruffle dress model A-line tanpa lengan dengan aksen pola kotak-kotak bernuansa dominan ungu muda seharga Rp23,8 juta. Karier Prabal dimulai sejak dia masuk National Institute of Fashion Technology di New Delhi, India. Pada 2009 dia akhirnya merilis label sendiri dan meraih berbagai penghargaan bergengsi. Desainnya yang berciri khas gaun malam dengan siluet dan permainan warna yang berani, terbukti mencuri perhatian banyak selebritas Hollywood, termasuk Michelle Obama. Di New York, Prabal telah lepas dari sebutan emerging talent dan masuk ke dalam liga baru, jajaran desainer top Big Apple. Label mewah lainnya yang mengeluarkan koleksi baru adalah Moncler.

Merek asal Italia yang dikenal dengan down jacket dan sportswear ini mempertemukan para kreatif pada industri fashion dalam sebuah proyek yang bernama Genius Project untuk Fall 2018. Di dalamnya ada delapan talenta kreatif di dunia fashion yang mempersembahkan koleksi Moncler yang menggambarkan masing-masing gaya desainer dan stylist. Ke delapan para pelaku kreatif tersebut adalah Pierpaolo Piccioli (Direktur Kreatif Valentino), Karl Templer (stylist kurator koleksi Monclear 1952), Sandro Mandrino (kurator koleksi Moncler Grenoble), desainer Simone Rocha, Craig Green, Noir Kei Ninomiya, dan Hiroshi Fujiwara untuk koleksi Moncler Fragment, serta Francesco Ragazzi untuk koleksi Moncler Palm Angels.

Koleksi kekinian untuk pria dan wanita ini juga masih memiliki satu benang merah, yaitu menggunakan puffer yang khas untuk musim dingin. Koleksi Pierpaolo misalnya dengan Aline puffer capes -nya. Puffer tersebut bisa menjadi capelet dan skirt dengan desain unik dan masih berciri khas Pierpaolo. Adapun Simone memberikan warna terang seperti hijau dan ungu untuk koleksi puffer dan coat. Koleksinya seperti jaket puff dari bahan velvet bernuansa hitam. Busana tebal berlengan panjang ini dibanderol dengan harga Rp35 juta. Ada juga busana ruffle dress tanpa lengan warna hitam yang elegan seharga Rp31 juta. Tersedia juga vest warna merah dengan aksen ruffle yang unik. Busana ini ditawarkan dengan harga Rp19,8 juta.

Sementara, Craig menggunakan warna hitam dan putih untuk koleksinya dengan desain puffer yang menyerupai space suit dan pelampung. Untuk rancangan Noir berfokus pada kulit dan lofty down yang seluruhnya berwarna hitam, dan Hiroshi bermain pada kemeja flanel dan angora sweater untuk para pria. Sejarah Moncler amat panjang. Setelah Perang Dunia II berakhir, dua pekerja yang bernama Rene Ramillion dan Andre Vincent memutuskan untuk terus mengembangkan bisnis pakaian olahraga dan peralatan yang berhubungan dengan aktivitas olahraga yang mereka tekuni saat terlibat dengan politik perang.

Akhirnya, tepat pada 1952, Rene Ramillion dan Andre Vincent sepakat untuk membuat pabrik di Monestier de Clermont, tepatnya di Grenoble, Prancis, dan akhirnya memutuskan untuk membeli kepemilikan keseluruhan pabrik. Pada April tahun itu, mereka meluncurkan perusahaan baru dengan nama “Moncler SA”, dari inisial pertama dari Monestier de Clermont. Salah satu karakteristik yang paling luar biasa dari lini produk Moncler pada masa awal adalah penggunaan “duck down”, sebuah zat sangat hangat yang tidak besar dan tebal. Material yang digunakan brand ini dalam pembuatan jaketnya adalah 90% bulu angsa dan 10% sisanya adalah premium leather.

Rendra hanggara