Edisi 12-01-2019
Organisasi, Komunitas & Gerakan Peduli Lingkungan


LINGKUNGAN menjadi salah satu komponen kehidupan yang penting bagi seluruh makhluk di bumi.

Sayangnya, permasalahan lingkungan yang terjadi saat ini menjadi suatu masalah yang sangat memprihatinkan. Hal ini tidak lain memang disebabkan oleh tangan-tangan manusia sendiri yang merusaknya.

Menyadari akan kerusakan lingkungan yang semakin parah dalam setiap harinya, di Indonesia ada banyak organisasi maupun komunitas yang bergerak untuk mengurangi permasalahan lingkungan. Jakarta Osoji Club salah satunya. Komunitas ini berawal dari inisiatif Mr Tsuyoshi Ashida selaku founder -nya.

Mr. Tsuyoshi prihatin melihat Kota Jakarta yang dipenuhi sampah. Kemudian dia berinisiatif mengajak ekspatriat Jepang yang bekerja dan tinggal di Jakarta untuk melakukan kegiatan petik sampah di kawasan Gelora Bung Karno (GBK).

Dari kegiatan ini, komunitas Jakarta Osoji Club didirikan dengan tujuan mengajak masyarakat untuk malu membuang sampah sembarangan dan peduli kebersihan lingkungan. Menurut Ketua Jakarta Osoji Club, Faiz Muttaqin Amrulloh, ada banyak kegiatan yang dilakukan komunitas ini.

Di antaranya petik sampah setiap dua minggu sekali di car free day (CFD), kampanye dan sosialisasi mengenai kebersihan di sekolah dan universitas, relawan kebersihan di beberapa festival Jepang yang ada di Jakarta, dan masih banyak lagi. "Ada banyak kegiatan yang sudah kami lakukan untuk membantu mengurangi permasalahan lingkungan.

Jadi, siapa pun yang tertarik dan mau terlibat langsung, silakan bergabung bersama kami karena tidak perlu mendaftar secara khusus. Tapi untuk event khusus yang memerlukan banyak relawan, biasanya kami membuka pendaftaran via Google form dan Indorelawan.org ," ujar Faiz.

Setelah itu, ada Sobat Bumi Indonesia Regional Malang, organisasi independen bagi pemuda Indonesia yang ingin menjadi bagian dari solusi masalah lingkungan hidup. Didirikan pada 2014, organisasi ini menjadi wadah bagi anak muda peduli lingkungan di Kota Malang.

Menurut Umi Fadhilah, sekretaris Sobat Bumi Indonesia Regional Malang, ada beberapa persyaratan untuk menjadi Sobat Bumi Indonesia Regional Malang, yaitu berumur 15-30 tahun, sehat jasmani dan rohani, mengikuti alur rekrutmen yang berlaku, serta yang paling penting adalah berkomitmen untuk berkontribusi aktif dalam melestarikan lingkungan.

Kegiatan yang sering dilakukan Sobat Bumi Indonesia Regional Malang, antara lain penanaman pohon, art for earth , bedah buku mengenai lingkungan, serta aksi kolaborasi dengan komunitas lain yang memiliki visi misi yang sama.

"Tujuan kami sebenarnya memang untuk mewadahi mereka yang peduli gerakan lingkungan, di mana gerakan tersebut dapat membawa dampak positif dalam perbaikan lingkungan," sebut Umi. Selain organisasi dan komunitas, masyarakat juga kerap kali mengadakan gerakan yang menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan.

Saya Pilih Bumi menjadi gerakan peduli lingkungan yang bertujuan mengurangi kerusakan lingkungan. Berawal dari keresahan terhadap sampah plastik sekali pakai yang mengancam seluruh makhluk hidup, gerakan ini bermisikan membawa perubahan perilaku masyarakat terhadap penggunaan single use plastic demi bumi yang lebih baik.

"Saya Pilih Bumi adalah gerakan semua orang. Siapa pun dapat bersinergi dengan kami. Jadi, kami memang tidak ada komunitas yang tercatat. Kami juga mengajak semua orang untuk less waste jika masih belum bisa hidup zero waste dan semoga semua orang bisa membawa perubahan perilaku ke orang lain dan lingkungan sekitarnya," ujar Diky Wahyudi Lubis, koordinator Movement Saya Pilih Bumi.

Gerakan yang digagas pada Agustus 2018 oleh National Geographic Indonesia ini memiliki kegiatan yang beragam. Mulai dari kegiatan clean up bersama beberapa komunitas, meet up & sharing session, hingga membuat konten di media sosial. Pembuatan konten dilakukan bersama de ngan beberapa orang maupun organisasi yang lebih dulu memulai gerakan less waste dan zero waste hingga workshop .

"Saya Pilih Bumi juga memiliki cita-cita untuk membuat Jakarta recycle center yang bisa menggandeng semua pihak," ucap Diky. Gerakan lainnya yang sudah tak asing di telinga, yaitu Earth Hour. Earth Hour digagas pertama kali pada 2007 di Sydney, Australia. Pada 2009 gerakan ini mulai merambah Indonesia.

Dari gerakan mematikan lampu dan alat-alat listrik yang tak terpakai selama jangka waktu yang ditentukan ini, terbentuklah sebuah kelompok, yaitu Earth Hour Regional Bekasi pada 2012. Bukan saja dilakukan di Bekasi, gerakan ini juga pernah dilakukan di Bandung dan kota lainnya.

Anggota Earth Hour Regional Bekasi terdiri dari berbagai kalangan, dari pelajar sampai karyawan dan jumlahnya saat ini mencapai 60 orang. Lulu Fitri Cahyani, koordinator Kota Earth Hour Regional Bekasi, mengatakan syarat menjadi anggota komunitas ini sangatlah mudah. Di antaranya harus berkomitmen dan memiliki tujuan yang sama, yaitu memiliki minat dalam bidang lingkungan.

MAULANA YUSUF ISKANDAR

GEN SINDO

Institut Ilmu Sosial Ilmu Politik Jakarta