Edisi 12-01-2019
Polri Bentuk Tim Gabungan Kasus Novel


JAKARTA–Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian akhirnya membentuk tim gabungan untuk membongkar kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

Tim itu dipimpin langsung Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Aziz Idham, sedangkan Kapolri turut menjadi penanggung jawab. Ada sejumlah nama perwira tinggi masuk dalam tim seperti Wakapolri Komjen Pol Ari Dono Sukmanto selaku wakil penanggung jawab, Irwasum Komjen Pol Putut Eko Bayuseno, Kabareskrim Komjen Pol Arief Sulistyanto, dan Kadiv Propam Irjen Pol Listyo Sigit Pra bowo yang bertugas mem - berikan asistensi.

Pembentukan tim gabung - an ini berdasarkan Surat Tugas (ST) Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian dengan Nomor: Sgas /3/I/HUK.6.6/2019. Dalam surat tersebut ada 65 ang gota yang ikut bergabung baik dari unsur Polri, KPK, ter - masuk anggota Densus 88 Anti - teror.

Tujuh orang pakar juga diikutsertakan dalam tim ini. Mereka adalah mantan Wa - kil Ketua KPK Indriyanto Seno Adji, peneliti LIPI Hermawan Sulistyo, mantan Ketua Umum Ikatan Sarjana Hukum Indonesia Amzulian Rifai, Ketua Setara Institute Hendardi, Komisioner Kompolnas Poengky Indarti, dan dua mantan Komisioner Komnas HAM Nur Kholis serta Ifdhal Kasim.

“Benar, Kapolri sudah mengeluarkan surat perintah tersebut atas tindak lanjut reko - men dasi Komnas HAM terhadap ranah kepolisian dalam mengusut kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan,” ungkap Kadiv Humas Polri Irjen Pol Mohammad Iqbal di Jakarta kemarin.

Sebelumnya Komnas HAM telah menyelesaikan laporan ha sil pemantauan atas kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan. Salah satu hasilnya, Komnas HAM mereko menda - si kan agar Kepala Polri Jenderal Pol Tito Karnavian segera mem - bentuk tim gabungan.

“Tim ga bungan untuk meng ungkap fak ta, peristiwa, dan pelaku pe nyiraman air ke - ras kepada Novel yang terjadi pada 11 April 2017,” ungkap Komisioner Kom nas HAM Choi - rul Anam.

Juru Bicara KPK Febri Dian - syah mengaku, KPK sudah me - nerima pemberitahuan resmi dari Mabes Polri tentang pembentukan tim gabungan pena - nganan kasus penyerangan dengan penyiraman air keras ter - hadap penyidik senior KPK Novel Baswedan pada Kamis (10/1).

Pemberitahuan terse - but juga disertai salinan Surat Tugas Nomor: Satgas/3/I/ HUK.6.6./2019 yang diteken Kapolri Jenderal Pol M Tito Karnavian tertanggal 8 Januari 2019 disertai lampirannya.

Menurut Febri, dalam surat tugas tersebut memang ter can - tum lima orang dari unsur KPK yang masuk dalam tim gabung - an. Atas informasi dan surat tugas dari Kapolri itu, ke mu - dian pimpinan KPK mem buat surat tugas atas beberapa orang dari unsur penindakan (penyi - dik dan penyelidik), Direktorat Pengawas Internal, ataupun Biro Hukum KPK. Para pegawai KPK yang ditu - gasi berdasarkan surat pim pin - an KPK nantinya akan ber koor - dinasi dengan seluruh tim ga - bungan yang sudah dibentuk Mabes Polri.

“Prinsip dasarnya begini, untuk menemukan penyerang Novel Baswedan yang sudah lebih dari 600 hari tersebut, kami tentu saja berharap pengungkapan dan berbagai upaya terus dilakukan.

Jadi ketika ada tim yang dibentuk dengan unsur yang lebih kuat dan lebih luas, KPK berharap upaya tersebut berujung pada ditemu - kannya pelaku penyerangan,” ungkap Febri di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, tadi malam.

Mantan pegawai fungsional pada Direktorat Gratifikasi KPK itu mengatakan, pem ben - tukan tim gabungan oleh Mabes Polri memang didasarkan pada rekomendasi Tim Pemantauan Proses Hukum Novel Baswedan yang dibentuk Komnas HAM.

Rekomendasi Komnas HAM, menurutnya, juga diberikan kepada Presiden Joko Widodo dan KPK. “Sebaiknya kita lebih bicara pada harapan agar pelaku pe - nyerangan itu ditemukan. Jadi bukan soal optimistis atau pe - simistis. Karena nanti tim tersebut akan bekerja. Tinggal nanti perkembangan-perkembangan atas pertanyaan-pertanyaan publik bisa didapatkan perkembangan dari tim gabungan yang dibentuk Polri itu,” ujarnya.

Indriyanto Seno Adji meng - aku belum mengetahui pem - ben tukan tim gabungan pena - nganan kasus penyerangan No - vel Baswedan yang dibentuk Mabes Polri maupun isi Surat Tugas Nomor: Satgas/3/I/ HUK.6.6./2019 dengan namanya sebagai Tim Pakar. Pasalnya se cara resmi surat tersebut belum diterima dan dilihatnya. “Saya belum tahu karena resmi saja belum lihat.

Karena saya masih berobat rutin CA di luar (luar negeri). Saya (juga) banyak menguji sejak selesai tugas pimpinan KPK. Akan saya informasikan lagi kalau benar (ada penugasan berdasarkan surat tugas Kapolri),”‎ ungkap Indriyanto.

m yamin/sabir laluhu