Edisi 13-01-2019
Cahaya Lukisan


Dalam kepercayaan Islam, Sang Ilahi dinyatakan sebagai sesuatu yang nir-rupa, abstrak, ataupun tanpa figur, yang dapat diartikan pula sebagai puncak dari segala cahaya.

Terinspirasi dari pemahaman tersebut, Baron Basuning memilih tema “Noor” pada pameran yang menandai 20 tahun ia berkarya.Nur atau cahaya yang menjadi inspirasi dari karya-karya Baron Basuning tersebut dihadirkan di pameran tunggal Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Sesuai dengan temanya, melihat langsung 38 lukisan karya Baron bagai menyaksikan cahaya yang memancarkan keindahan berbagai warna.

“Pameran ini juga sebagai persembahan kepada mendiang ibu saya, yang namanya juga Nur atau cahaya,” kata Baron Basuning dibincangi KORAN SINDO di ruang pameran Gedung A Galeri Nasional Jakarta kemarin.

Menurut Baron, sebagian besar lukisan abstrak karyanya kali ini sebagai narasi perenungan panjang perjalanannya ke berbagai bangunan Islam yang memiliki nilai artistik yang khas seperti Nasrid Palace, Alhambra di Granada, Spanyol, lalu Masjid Nasir Al Mulk di Shiraz, Iran hingga Taj Mahal di Agra, India.

Inspirasi itu dituangkan dalam karya bertajuk Noor, Pualam Kenangan, Hold the Light, dan Into the Light. “Kalau orang awam yang melihat kubah dan batu-batu pualam di dinding bangunan-bangunan itu, ya mungkin sebatas keindahan atau bahkan ada yang seperti biasa saja.

Tapi, karena saya seniman, melihat batu-batu pualam itu jelas rasanya berbeda. Tidak hanya keindahan, tapi banyak rasa bahkan hanya berupa cahaya yang tentunya sangat abstrak untuk saya ungkapkan. Rasa inilah yang kemudian saya tuangkan dalam bentuk lukisan,” ujar Baron.

Inspirasi juga hadir dari pengembaraannya ke New York dengan judul lukisan Fairytale of New York , ke Antartica Peninsula dan ke India, Semburat Merah di Bukit Sabhika . Kendati kerap bepergian dan sempat menetap di luar negeri, Baron tak pernah lupa dengan tanah kelahirannya.

Malah ada satu lukisannya yang menceritakan cahaya damai dan keindahan tanah kelahirannya, yakni di Pagaralam, Sumatera Selatan. “Judul lukisannya, Benua Radja. Ini nama dusun atau kampung halaman saya,” kata Baron, menunjukkan sebuah lukisan besar berukuran 10x2,5 meter.

Kurator pada pameran ini, Eddy Soe triyono mengatakan, bangunanbangunan megah yang memancarkan keindahan sekaligus sebagai wujud kebesaran Tuhan Sang Maha Pencipta sebagai hal utama dalam karya Baron. “Lewat garis dan sa puan berbagai warna, sang pelukis memadukan pengalaman batin dan ingatan pada tempat yang pernah dikunjungi,” tukasnya.

Dalam pembukaan pameran, Selasa (8/1) malam, budayawan sekaligus politikus Erros Djarot yang mem buka pameran menyatakan keka gumannya atas karya Baron. Menurut dia, sang pelukis bernostalgia lewat penelusuran jejaknya sendiri di dunia seni rupa. “Semoga pengunjung bisa menikmati dan merasakan hadirnya dialog lewat lukisan karya Baron Basuning ini,” tuturnya.

Tentang Baron Basuning

Lahir di Pagaralam, Sumatera Selatan, 16 September 1961, Baron Basuning saat ini tinggal di Depok, Jawa Barat. Tamatan SMA di Purworejo, Jawa Tengah ini pernah kuliah di STP/IISIP Jakarta (1981-1984). Sebelum menekuni seni rupa, pada pertengahan era 90-an Baron pernah bergabung sebagai aktivis dan jurnalis dalam Komunitas Erros Djarot.

Pasca-98 ia terjun ke dunia seni rupa lantaran terinspirasi dari hamparan salju putih Kutub Selatan yang pernah ia singgahi pada pertengahan 80-an, yang tak berujung bak sebuah kanvas besar. Setelah itu, Baron aktif berpameran, baik tunggal maupun bersama, di dalam maupun luar negeri.

Baron kini telah menekuni dunia seni rupa selama 20 tahun. Ia telah menggelar 12 pameran tunggal dan beberapa pameran bersama. Pada 2012/2013 ia diundang Agora Gallery, New York untuk memamerkan karyakaryanya di galeri tersebut. Baron yang masa mudanya mendapat kesempatan berkelana ke berbagai belahan dunia tanpa disadari kerap menghasilkan karya yang merupakan perpaduan antara pengalaman batin dan ingatan kuat pada tempat yang pernah ia kunjungi.

Kecintaan kuat akan tanah airnya dan leluhur juga memengaruhi Baron dalam berkarya dan memilih tema berpameran. Baginya, tak ada batas yang menghalangi khayal terutama saat menghadapi benda figur atau sosok yang belum terdefinisikan.

Figur atau bentuk yang dilukis di kanvas bukanlah bagian dari yang ditemukan di dunia nyata. Inilah yang diupayakan seorang Baron Basuning dalam setiap karyanya.

“Baron sosok yang bereksplorasi tanpa batas. Sosok dan latar belakang Baron ini tak hanya menjadi bumbu, namun justru menguatkan ‘rasa’ dalam setiap karyanya,” kata Kepala Galeri Nasional Pustanto.

hendri irawan