Edisi 13-01-2019
Debat Capres Jadi Magnet Pemilih


JAKARTA - Debat dua pasangan calon presiden (capres)-calon wakil presiden (cawapres) akan menjadi magnet untuk menarik para pemilih dalam menjatuhkan pilihan saat Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2019.

Dua pasangan caprescawapres, Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno, pun dituntut mampu memengaruhi persepsi publik, termasuk di antaranya swing voters .

Pandangan ini mengemuka dalam diskusi Polemik MNC Trijaya bertajuk “Jelang Debat Siapa Hebat” di d’Consulate Resto and Lounge, Jakarta , kemarin. Hadir dalam diskusi, yakni Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute sekaligus dosen Komunikasi Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Gun Gun Heryanto, mantan komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sigit Pamungkas, Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi Priyo Budi Santoso, dan Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S Pane.

Gun Gun mengatakan, pasangan Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi sebaiknya menggunakan gaya bahasa sederhana saat debat nanti. Jika bahasa yang digunakan sangat tinggi atau terlalu teknis, masyarakat awam akan sulit mencernanya. “Lapis pemilih terbesar adalah masyarakat awam.

Jadi, formulasi bahasa yang ditampilkan oleh para pasangan pada debat jangan sulit dimengerti,” ujarnya. Dia berpandangan, debat pilpres memiliki dua keuntungan bagi pasangan capres-cawapres kalau dilihat dari aspek komunikasi politik.

Pertama, manajemen kesan, bukan sekadar menonjolkan pesan.

Kedua, kandidat dapat memastikan ikrar dirinya sebagai seorang calon pemimpin yang layak dipilih.

Dari sisi manajemen kesan, kandidat yang turun ke gelanggang debat semestinya berpenampilan bagus dan menarik. Menurut Gun Gun, hal itu dapat membujuk pemilih untuk memilih kandidat. “Ada tiga komponen dasar untuk bisa membujuk pemilih, yaitu pada aspek kredibilitas, emosi, dan argumentasi.

Karena yang disampaikan kandidat akan berhubungan dengan persepsi publik,” ungkapnya. Gun Gun mengatakan, dari setiap narasi dan argumentasi yang diutarakan pasangan Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandiaga pun harus mencerminkan kredibilitas.

Publik yang menyaksikan debat tersebut akan menilai dengan seksama apakah yang disampaikan pasangan calon dapat dipercaya atau tidak. Kalau pernyataan dan argumentasi yang disam paikan dinilai meragukan, masyarakat tidak akan percaya.

“Mulai debat pertama hingga akhir, masyarakat akan dihadapkan pada dialektika program sehingga kami berharap kandidat tidak hanya mengumbar janji, tetapi juga meyakinkan pemilih bahwa mereka memiliki kredibilitas sebagai pemimpin,” tegasnya.

Dalam konteks menggaet pemilih, Gun Gun mengingatkan pasangan Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandiaga tentang suara-suara swing voters . Untuk Pemilu 2019 ada sekitar 10%swing voters . Kelompok yang belum menentukan pilihan tadi bisa dipersuasi lewat debat.

Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Maman Imanulhaq, menilai pasangan calon presiden-wakil presiden Prabowo-Sandiaga tak berpengalaman dan tidak memiliki konsep jelas dalam debat Pilpres 2019.

“Beda dengan pasangan nomor 02 (Prabowo-Sandi) yang tidak punya pengalaman dan konsep yang jelas,” ujar Maman saat telekonferensi dalam diskusi Polemik MNC Trijaya itu. Maman juga mengungkapkan tidak ada persiapan khusus yang dilakukan pasangan Jokowi- Ma’ruf menyambut rangkaian debat Pilpres 2019, terutama dalam debat perdana 17 Januari nanti.

“Karena ini yang sudah dilakukan Jokowi-Ma’ruf. Trek rekor kami kerja sesuai basis pengalaman, tidak mimpi, tapi betul-betul konstruktif,” paparnya. Di sisi lain, Wakil Ketua BPN Prabowo-Sandi, Priyo Budi Santoso mengungkapkan bahwa Prabowo-Sandi akan menutupi kelemahan Jokowi selama masa pemerintahan nya yang telah lima tahun.

“Perlu diingat bahwa pemerintahan Jokowi banyak bolong-bolong. Ini harus di - sem purnakan sehingga membutuhkan pemimpin yang lebih baik,” ungkap Priyo. Priyo mengungkapkan bahwa pihaknya sudah menerima bocoran 20 pertanyaan dari KPU untuk debat putaran pertama bertema hukum, hak asasi manusia, korupsi, dan terorisme.

Bagi pasangan Prabowo-Sandi maupun BPN, 20 pertanyaan itu tidak menjadi masalah karena mereka telah menyiapkan jawaban yang komprehensif. “Sedahsyat apa pun, sekaliber negarawan akan nikmati saja yang ditunjukkan kepada kami yang akan dijawab Prabowo dan Sandi,” ujarnya.

Sigit Pamungkas menilai, saat ini KPU tidak memiliki ketegasan untuk penye lenggaraan debat Pilpres 2019. KPU lebih banyak berkompromi dengan pihak pasangan capres-cawapres, terutama tim sukses dalam penyusunan tema, aturan main, dan pelaksanaan debat.

Padahal, KPU pada periode sebelumnya bersikap independen. “Dalam penyusunan tema debat, kalau sekarang tema debat disusun berdasarkan konsensus pasangan calon. Dulu disusun pakar yang ditentukan oleh KPU tanpa berkoordinasi dengan paslon,” tegas Sigit.

Dari sisi penyusun pertanyaan, di KPU era sebelumnya moderator memegang peranan penting. Moderator bersama KPU menyusun pertanyaan. Untuk Pilpres 2019, pertanyaan disusun tim panelis. Padahal, pada periode sebelumnya tim panelis berperan menggarap isu-isu strategis dan KPU sebagai penyelenggara pemilu sampai tidak tahu-menahu.

sabir laluhu/sindonews