Edisi 13-01-2019
New Tiny Habit


Akhir 2018 saya tidak lagi melakukan resolusi akhir tahun. Ya, karena bertahuntahun sebelumnya selalu melakukan resolusi akhir tahun, tapi hal rutin selalu terjadi: gagal, gagal, dan gagal lagi.

Karena setiap kali gagal, maka akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan bahwa resolusi akhir tahun adalah omong kosong belaka. Namun, kita kan perlu menutup tahun dengan melakukan refleksi apa yang sudah kita lakukan sepanjang tahun dan kemudian menjadikannya pelajaran untuk melangkah tahun depan? Tentu.

Namun, tidak saya lakukan hanya sekali setahun pada akhir tahun. Kenapa resolusi akhir tahun selalu gagal? Ketika kita mendeklarasikan resolusi pada malam tahun baru dengan menetapkan target-target tahun depan (berhenti merokok, membaca 50 buku seperti Bill Gates, atau turun berat badan 10 kg), maka seharusnya kita berkomitmen melakukan kerja”maraton” untuk mewujudkan target tersebut.

Namun kenyataannya, kita selalu menyikapi”lari maraton” itu sebagai”lari sprint”. Musababnya gampang ditebak, karena sprint lebih seksi dan lebih inspiratif dari maraton. Sesuatu yang instan dan radikal selalu lebih seksi ketimbang yang lambat, tahap demi tahap, dan sangat lama.

Tahun ini saya bisa menyelesaikan membaca 10 buku. Kalau tahun depan saya menargetkan 12 buku, maka itu tidak seksi. Kalau 50 buku itu baru seksi. Dalam setiap resolusi kita selalu menetapkan target yang hebat dan challenging (bahkan kita tahu tak mungkin dicapai), dan kita ingin mewujudkannya seinstan mungkin.

Itu sebabnya saya menyebut resolusi semacam ini omong kosong belaka. Karena hanya indah dideklarasikan pada malam tahun baru dan bukan untuk diwujudkan. Sukses sebuah resolusi akhir tahun tak lepas dari menciptakan kebiasaan kecil baru (new tiny habit, NTH) untuk mewujudkan resolusi tersebut.

NTH adalah kebiasaan kecil yang telaten kita jalankan sepanjang tahun depan. Resolution:”berhenti merokok”. NTH: tidak mengisap sebatang rokok setiap selesai makan pagi, setiap hari. Resolution:”turun berat badan 10 kg”. NTH: 30 menit jalan di kompleks pada pagi hari, setiap hari.

Menjalankan NTH dengan telaten adalah maraton, bukan sprint. Dan ingat, marathon is boring; sprint is cool and inspiring. So, tahun ini saya tak melakukan resolusi akhir tahun. Yang saya lakukan adalah menyusun target setiap akhir bulan (atau bahkan tiap minggu).

Lalu simpel saja, saya terjemahkan target-target itu ke dalam NTH yang telaten saya kerjakan setiap hari, setiap hari, dan setiap hari. Memang tidak radikal. Memang tidak inspiratif. Memang tidak cool. Memang boring. Sukses pencapaian gol besar ditentukan dari kebiasaankebiasaan kecil yang kita lakukan secara berulang, berulang, dan berulang.

yuswohady

Managing Partner Inventure www.yuswohady.com

Berita Lainnya...