Edisi 13-01-2019
Audisi 2 Pelatih


LONDON – Ole Gunnar Solskjaer seharusnya dipuji atas apa yang dilakukan kepada Manchester United (MU) sejak menggantikan posisi Jose Mourinho. Setidaknya, Solskjaer sudah membuat MU tidak terkalahkan dalam lima pertandingan terakhir.

Bukan cuma menang, tapi dia mampu menciptakan keseimbangan di dalam tim. The Red Devilsmelesakkan 16 gol yang jika dibuat rata-rata lebih dari tiga gol dalam satu pertandingan. Pada saat bersamaan, MU hanya kebobolan tiga gol atau kurang dari satu gol di setiap laga dengan dua kali clean sheets.

Statistik yang harusnya cukup membuat dia mulai dipertimbangkan sebagai pelatih permanen di Old Trafford. Namun, semua pencapaian itu belum membuat dia mendapatkan apresiasi sebagai mestinya.

Solskjaer tetap dianggap sebagai pelatih sementara untuk The Red Devils. Penyebabnya, dari lima lawan yang dihadapi, tidak ada yang masuk anggota big sixLiga Primer. Wajar jika masih ada keraguan terhadap kualitas dia dan timnya.

Media tetap menyebut kandidat yang pas menukangi MU adalah Maurico Pochettino. Seorang pelatih yang berhasil mengubah Tottenham Hotspur menjadi penantang gelar (meski tak pernah mendapatkan trofi sejak 2014) setiap musimnya dan konsisten di jalur Liga Champions.

Alasan itu membuat arsitek tim asal Argentina itu dianggap lebih layak menukangi MU dibanding Solskjaer. “Dia telah melakukan pekerjaan yang sangat baik. Spekulasi itu ada karena suatu alasan; dia melakukannya dengan baik,” kata Solskjaer dikutip sky sportstentang Pochettino.

Pertanyaannya, apakah Pochettino memang figur ideal menjadi pelatih MU? Jika jawabannya dari perspektif tentang filosofi atau cara bermain dan bagaimana dia mengembangkan pemain muda, pelatih berusia 46 tahun itu bisa dikatakan ideal.

Pochettino menempatkan pemain muda di jantung filosofi manajerialnya dan rekornya untuk mengasuh pemain muda adalah salah satu yang terbaik dalam manajemen modern. Mantan pelatih Espanyol dan Southampton itu tidak membeli, tapi justru menciptakan bintang.

Harry Kane, Dele Alli, Christian Eriksen, Eric Dier, dan Heung-Min Son adalah pemain yang berkembang dari sisi teknis di bawah kendalinya. Dia ikut juga berperan pada perkembangan Luke Shaw, Calum Chambers, Dejan Lovren, Nathaniel Clyne, dan Adam Lallana saat masih menukangi Southampton sehingga memperkuat tim besar.

Dari sisi gaya, Pochettino telah mencapai semuanya dengan gaya sepak bola intensitas tinggi yang menyenangkan. Namun, jika referensi jawaban pertanyaan tentang kelayakan Pochettino menukangi MU dari sisi gelar, jawabannya belum.

Sebab, dari semua reputasi positif, kekurangan Pochettino adalah gelar. Selama menukangi tim termasuk Tottenham, Pochettino belum pernah memberikan gelar. Meski Pochettino menjadi pendukung MU dan ikut bersorak saat Solskjaer mencetak gol ke gawang Bayern Muenchen pada final Liga Champions.

Pochettino juga mengaku menjadi pengagum dan berteman baik dengan Alex Ferguson saat masih di MU dan setelah pensiun. Wajar jika ada yang mengatakan, pertemuan Tottenham versus MU di Stadion Wembley disebut ajang audisi kelayakan dari Pochettino dan Solskjaer.

“Anda diuji setiap pertandingan di Liga Primer –tidak diragukan lagi– tapi tentu saja ini melawan tim teratas. Kami membutuhkan kinerja yang baik dan hasil yang baik,” tutur Solskjaer.

Sebagai pelatih, Solskjaer selalu beradaptasi dengan lawan. Tottenham, menurut dia, adalah salah satu tim terbaik di liga sehingga mereka harus waspada kekuatan tuan rumah.

“Kami tidak akan mendapatkan banyak peluang menyerang seperti yang kami miliki sebelumnya, jadi kami harus siap ketika menguasai bola,” tutur legendaris MU tersebut. Pochettino memiliki catatan bagus menghadapi MU, terutama di depan pendukung sendiri. Mereka belum terkalahkan dari tiga pertemuan terakhir.

Selain itu, The Lilywhitesjuga mendapat energi positif karena berhasil mengalahkan Chelsea 1-0 pada legpertama semifinal Piala Liga. “Kami telah mengalahkan mereka tiga kali di kandang di Liga Premier -dua kali di White Hart Lane dan satu kali di Wembley,” tutur Pochettino.

ma’ruf