Edisi 13-01-2019
Modal Positif


SYDNEY– Petra Kvitova mendapatkan modal positif jelang tampil di Australia Terbuka 2019.

Petenis asal Republik Ceko itu berhasil merebut gelar juara Sydney Internasional usai mengalahkan wakil tuan rumah Ashleight Barty 1-6, 7-5, 7-6 di NSW Tennis Centre kemarin. Peraih dua gelar Wimbledon ini mengaku sangat bangga dengan kembali berhasil meraih trofi di Sydney.

Dia juga pernah menjadi juara pada 2015. Bahkan, kemenangan dari Barty menjadi yang kedua kalinya di laga final. Sebelumnya, petenis berusia 28 tahun itu pernah mengalahkannya di Birmingham pada 2017.

Bukan hanya itu, keberhasilan ini sekaligus menjadi kemenangan di final kedelapan secara beruntun sejak 2016. Meski begitu, kemenangan Barty di Sydney terbilang istimewa. Sebab, dia sempat tertinggal 0-3 di set terakhir.

Namun, dia mampu mengembalikan keadaan dan merebut kemenangan dengan waktu 2 jam 19 menit. “Dia benar-benar bermain terlalu baik sejak awal. Saya kehilangan banyak poin,” kata Kvitova dilansir wtatennis. “Itu final yang luar biasa. Saya sangat lambat sejak awal.

Saya senang bisa menemukan cara untuk memenangkannya dengan sedikit gugup dan kram,” lanjutnya. Keberhasilan ini tentu membuat dirinya semakin bersemangat menyambut Australia Terbuka.

Sebab, ini merupakan gelar pertamanya sejak terakhir diraih di Birmingham, Juni tahun lalu. Kini, dia pun digadanggadang layak sebagai penantang gelar juara grand slampembuka tahun yang akan berlangsung di Melbourne, 14 Januari ini.

Namun, Kvitova yang akan melihat ranking dunianya naik dari delapan ke enam pada Senin (14/1), harus waspada. Dia harus segera memulihkan kondisi kebugarannya karena sempat mengalami kram di laga tersebut.

Oleh karena itu, pertemuan pertamanya saat menghadapi Magdalena Rybarikova dari Slovakia pada babak pertama, bisa dilaluinya dengan baik. “Saya tidak merasakan yang terbaik,” ujar Kvitova. “Saya kelelahan.

Saya juga mengalami kram. Saya merasa tidak enak di perut saya. Itu pertandingan yang panjang dan saya benar-benar membutuhkan banyak energi. Jadi, setiap kali saya duduk di bangku, saya masih merasa lelah,” paparnya.

Sementara itu, impian Barty untuk mengangkat gelar juara Sydney Internasional kembali terhambat. Ini merupakan kedua kali dirinya gagal meraih kemenangan di laga final. Tahun lalu, petenis berperingkat 15 dunia ini kandas oleh mantan petenis nomor satu dunia Angelique Kerber.

Hasil tersebut tentu membuatnya merasa sangat kecewa. Padahal, Barty sangat percaya diri bisa merengkuh gelar juara tahun ini. Sebelum ditaklukkan Kvitova, dia belum pernah terkalahkan di tujuh pertandingan se cara beruntun, termasuk merengkuh gelar juara WTA Elite Trophy di Zhuhai, China, 4 November 2018.

Sayangnya, modal itu ternyata tak memiliki dampak positif di Sydney. “Saya meninggalkan semuanya di sini dan itu tidak cukup. Maaf, saya tidak bisa menyelesaikannya (dengan gelar juara) hari ini,” ucap Barty.

“Sulit untuk mengucapkan kata-kata saat ini. Tapi, saya mungkin memiliki salah satu minggu terbaik dalam karier saya. Saya merasa sedang bermain dengan hebat. Jelas, ini akhir yang pahit, tapi saya harus tetap maju,” lanjutnya.

Setelah ini, Barty langsung fokus dengan persiapannya tampil di Australia Terbuka. Pada babak pertama, petenis berusia 22 tahun itu akan menghadapi wakil asal Thailand, Luksika Kumkhum.

Meski menjadi unggulan ke- 15, dia harus waspada pada laga ini. Dalam dua pertemuan terakhirnya, keduanya sama-sama mampu saling mengalahkan di atas lapangan.

raikhul amar