Edisi 13-01-2019
Gandeng Dukcapil, Doku Pertajam Sistem Deteksi Kecurangan Dini


DOKU meresmikan kerja sama perdana pada 2019 dengan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri.

Sinergi tersebut bertujuan untuk mempercepat proses verifikasi akurat bagi calon merchant Doku maupun calon pengguna Doku e-Wallet. Memasuki tahun ke-12, Doku terus memperkokoh langkah mereka untuk menyajikan layanan pembayaran online maupun offline .

Maklum, saat ini tantangan mereka cukup berat. Harus bersaing dengan pemain besar seperti Gopay hingga OVO. “Integrasi Doku dengan Dukcapil mempertajam kinerja sistem pendeteksi kecurangan kami yang terkoneksi dengan database fraud berusia 10 tahun dan berbasis machine learning ,” beber Himelda Renuat, Chief Marketing Officer Doku.

Masyarakat Indonesia, menurut Himelda, memiliki keberagaman karakternya profil yang khas. Perekaman data ganda bukanlah hal aneh dan sering terjadi sebelum adanya sentralisasi data. Kini, dengan adanya Dukcapil, data menjadi semakin akurat dan sistematis.

Hal inilah yang melatarbelakangi kerja sama Doku dengan Dukcapil. Selama ini Doku menjalankan proses verifikasi berlapis untuk memastikan segala bentuk kecurangan dapat termitigasi dengan baik.

Mereka menggabungkan kekuatan artificial intelligence (AI) dan kejelian tim pendeteksi kecurangan menganalisis setiap kegiatan keuangan dari merchant dan pengguna Doku e-Wallet.

“Kerja sama Doku dan Dukcapil akan memanfaatkan nomor induk kependudukan, data kependudukan dan e-KTP, sampai dengan data biometrik. Pemanfaatan data yang dimiliki Dukcapil ini akan efektif memangkas waktu dan meningkatkan akurasi pengecekan data yang dilakukan oleh tim pendeteksi kecurangan DOKU,” ujar Himelda.

Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Zudan Arif Fakrulloh menyebut bahwa akurasi data penduduk memegang peranan penting ketika proses verifikasi berlangsung.

Karena itu, Dukcapil terus berupaya melakukan sentralisasi data penduduk Indonesia melalui program one data policy . “Kerja sama antara DOKU dan Dukcapil merupakan salah satu contoh sinergi data yang mumpuni untuk menciptakan sistem deteksi yang tajam dan cepat,” ujar Zudan.

Doku sendiri sudah berusia 12 tahun dalam mengembangkan ekosistem Fintech di Indonesia. Layanan Doku telah digunakan oleh lebih dari 80.000 pemilik usaha, mulai dari segmen korporat sampai dengan personal seller.

Portofolio layanan korporat Doku juga semakin lengkap dengan diperolehnya izin remittance yang memampukan Doku untuk memberikan layanan transfer domestik dan internasional.

Tak ketinggalan, Doku juga memiliki layanan dompet elektronik yang berfungsi ganda, yaitu sebagai alat pembayaran online/offline dan juga dapat menjadi moda awal untuk konsumen yang ingin memulai usaha mikronya. Saat ini Doku e-Wallet telah digunakan oleh lebih dari 2,5 juta pengguna dan juga beberapa co-brand komunitas yang sebagian besar bermukim di area Jabodetabek.

danang arradian