Edisi 04-02-2019
Nostalgia dan Nyanyi Bersama


SEDERET musisi lintas generasi dan genre menghidupkan kembali lagu-lagu karya tiga musisi legendaris Indonesia, yaitu Erros Djarot, Chrisye, dan Yockie Suryo Prayogo.

Lagu-lagu lawas terpopuler mereka bergema di Jakarta Concert Hall, iNews Tower, berbaur dengan nyanyian penonton. Konser bertajuk Erros, Chrisye, Yockie: Tembang Persada s ang Tritunggal yang diselenggarakan pada Jumat (1/2) malam lalu itu benarbenar sukses membawa penonton masuk ke lorong waktu. Lewat suara merdu Harvey Malaiholo, Marcell Siahaan, dan Wizzy Williana, para penonton larut dalam lagu-lagu seperti Malam Pertama, Gita Cinta, danBadai Pasti Berlalu . Salah satu momen nostalgia tercipta di atas panggung megah tatkala Harvey melantunkan bait pertama Malam Pertama ciptaan Erros Djarot dan dinyanyikan Chrisye.

“Pagi yang cerah, dan senyum di bibir merah, dari balik jendela, sinar mentari lembut menyapa... “. Sontak penonton yang memenuhi Jakarta Concert Hall ikut bernyanyi. “Konser ini luar biasa meski tangan saya kedinginan dan ada asap saat saya bernyanyi. Asap di panggung bikin batuk. Maklum, sudah umur,” kata Harvey tertawa. Dalam setiap aksinya di atas panggung, penyanyi berdarah Ambon ini selalu berhasil membuat ribuan penonton yang didominasi usia dewasa tua ini bernyanyi bersama. Tanpa aba-aba dari penyanyi 56 tahun tersebut, seluruh penonton langsung mengikuti suara merdu Harvey, seakan membuat sebuah paduan suara. Bahkan, di sela-sela penampilannya, tak sedikit yang berteriak memanggil namanya.

“Begitu hebatnya lagu-lagu Erros, saat saya begini (mengacungkan mikrofon) sudah pada nyanyi semua. Jadi, tepuk tangan untuk ketiganya (Erros, Chrisye, Yockie),” kata Harvey Harvey kemudian menyanyikan lagu Kau Seputih Melati yang dinyanyikan mendiang Dian Pramana Putra, hasil kolaborasinya bersama Yockie. Harvey juga menyanyikan Hening. “Kala malam tiada berbintang, tampak redup wajah rembulan...” Semua penonton kembali ikut bernyanyi. Seperti Harvey, Wizzy juga tampil menawan ketika menyanyikan ulang sejumlah lagu hit Chrisye, seperti Gita Cinta yang kemudian menjadi soundtrack film Galih dan Ratna (1980).

Berturut-turut kemudian, Wizzy melantunkan Puspa Indah dan Lagu Putih yang pernah dinyanyikan Chrisye. Wizzy juga berduet bersama Marcell menyanyikan Cintaku. Lagu sepanjang masa itu ada di album “Badai Pasti Berlalu “ milik Chrisye yang dirilis pada 1977. Semua lagu di album “Badai Pasti Berlalu “ diarahkan oleh Erros dan musiknya dimainkan Yockie, dengan vokal pendukung Berlian Hutauruk. Saat Wizzy dan Marcell berduet, musik Cintaku diaransemen ulang oleh music director Krishna Prameswara. Sementara, Marcell menyanyikan Resesi, salah satu judul lagu dalam album “Resesi” yang dinyanyikan Chrisye. Marcell juga membuktikan kemampuannya menggebuk drum yang menjadikan dirinya idola bagi penonton malam itu.

Di akhir pertunjukan, Harvey, Wizzy, dan Marcell menyanyikan Pelangi dari album “Badai Pasti Berlalu”. Mereka menggandeng Damayanti Noor, istri almarhum Chrisye, dan Tiwi Puspitasari, istri almarhum Yockie, serta mengajak Erros ke atas panggung. “Kau dengar laguku dalam simfoni. Tiada lagi, melodi dapat kucipta, dalam senyummu,” demikian mereka bersama penonton menyanyikan lagu tersebut. Ditemui selepas konser, Erros mengapresiasi adanya konser ini.

“Saya coba lepaskan dan berikan kebebasan bagi siapa penyanyinya, bagaimana interpretasi mereka, dan saya lihat segala sesuatu yang dikerjakan dengan hati memang lama membekas. Kami waktu itu membuat lagu tanpa memikirkan hal lain seperti materi (uang), popularitas jauh dari semuanya itu. Ternyata dengan pendekatan seperti itu, musik bisa diterima lebih lama,” ujarnya. Budayawan kelahiran Rangkasbitung, Banten, 22 Juli 1950 ini pun mengaku salut dengan kemampuan musisi muda yang begitu piawai menginterpretasikan lagu-lagu karya mereka bertiga.

Sementara itu, Novi Madjedi, Co Executive Producer Konser dari Betiga Satu Rasa, selaku promotor konser, mengaku ingin memperkenalkan kembali tiga maestro musik Indonesia. “Ini bukan konser yang besar. Misi kami ingin memperkenalkan kepada kaum milenial bahwa pada dekade tahun 1970 atau 1980-an, kita mempunyai beberapa maestro musik yang melegenda,” kata Novi. Setelah Jakarta, konser ini akan digelar di Grand City Convex, Surabaya, 14 Februari 2019.

Thomasmanggalla