Edisi 04-02-2019
First Dahon Ride 2019


SEBAGAI upaya memasyarakatkan sepeda sebagai salah satu alternatif moda transportasi yang menyehatkan dan ramah lingkungan, ACE dan Bike Colony menggelar First Dahon Ride 2019 pada Minggu (20/1) dengan mengajak komunitas ID-Folding Bike.

Bernadus Dion Romano, Merchandising Manager ACE Hardware, menjelaskan, ACE sebagai destinasi kebutuhan rumah tangga sekaligus gaya hidup serta Bike Colony yang menyediakan berbagai pilihan sepeda dan aksesori berkualitas premium secara eksklusif menghadirkan Dahon sebagai salah satu merek sepeda lipat yang cocok untuk mobilitas kaum urban dengan berbagai pilihan kategori dan tipe sepeda dengan harga yang bervariasi. “Kegiatan ini dilaksanakan sebagai wujud komitmen ACE dan Bike Colony untuk selalu dekat dengan pelanggan, khususnya para komunitas sepeda yang jumlahnya terus bertambah,” ujarnya.

Acara First Dahon Ride 2019 meliputi kegiatan bersepeda bersama sejauh 50 km dengan rute FX Senayan Jakarta, ACE Radio Dalam, ACE Bintaro, dan berakhir di Bike Colony Living World Tangerang yang diisi kegiatan makan siang dan foto bersama komunitas. Selain itu, ACE dan Bike Colony menyampaikan presentasi dan memberi tips bersepeda secara aman dan nyaman. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan ulang tahun ke-8 ID Dahon pada Mei 2019, sekaligus ulang tahun ke-8 Bike Colony Living World Tangerang. Untuk terus melanjutkan semangat bersepeda, ACE dan Bike Colony akan menyelenggarakan kegiatan bersepeda bersama (gowes bareng) secara rutin.

Dahon memiliki tiga kategori sepeda lipat, yaitu urban (perkotaan) yang dirancang untuk penggunaan di area kota dengan jarak tempuh tidak terlalu jauh. Kategori recreational (rekreasi) didesain untuk pesepeda yang suka beraktivitas pada akhir pekan dan kategori road (tur) dengan tipe Speed D9 20 yang didesain untuk balapan sepeda. _ wahyu sibaraniProduktif lewat MenulisPUNYA hobi menulis? Cobalah bergabung dengan Women Script Community (WSC). Komunitas ini berupaya mencetak penulis profesional yang sekaligus berkontribusi terhadap pendapatan para anggotanya. Perempuan kalau sudah berkumpul identik dengan bergosip.

Padahal, ada banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan perempuan yang terbukti menghasilkan. Komunitas Women Script & Co atau biasa disingkat WSC sudah membuktikannya. Mereka berkumpul dan menghasilkan karya lewat kegiatan menulis. Ya, menulis itu mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Itulah yang ingin ditekankan oleh pendirinya, Deka Amalia. Deka sengaja mendirikan komunitas tersebut pada bulan November 2011 guna mendorong banyak perempuan untuk mulai menulis. Ia ingin menyebarkan virus menulis yang nantinya memperkaya dunia literasi Indonesia, sekaligus sebagai sarana menyalurkan hobi menulis dan belajar seputar dunia menulis.

“Soalnya saya lihat minat membaca sangat kurang di negara kita. Maka dengan suka menulis, otomatis akan meningkatkan minat baca,” katanya, kepada KORAN SINDO . Kepercayaannya sebetulnya sederhana saja, ia meyakini perempuan yang suka menulis akan mengajak keluarga serta lingkungannya untuk suka membaca pula. Dengan begitu, perempuan turut andil dalam mencerdaskan bangsa lewat kegiatan menulis. Lepas dari itu, kegiatan tulis menulis ini juga bisa menjadi keran pendapatan kaum hawa jika ditekuni secara serius. Kalau dicatat, sudah sekitar 3.000 orang yang bergabung dengan WSC. Mereka tersebar di seluruh Indonesia maupun mancanegara. Pada era digital ini, para member memanfaatkan media sosial seperti Facebook untuk berbagi ilmu menulis.

Di sana mereka dapat belajar menulis, berbagi karya, berbagi tulisan, bedah buku online , hingga diskusi lewat pertemuan online di Facebook . Nah, untuk kopi darat dilakukan beberapa bulan sekali berupa pameran buku, bedah buku, launching buku dan talk show serta workshop menulis. Memang, menurut Deka, tantangan menyatukan gagasan untuk menggarap sebuah buku bukanlah mudah. Masingmasing anggota memiliki kesibukan sendiri yang menyulitkan mereka untuk mengatur waktu dengan baik. Namun, mereka sukses mengatasinya bersama.

Dari pertemuan offline maupun online yang mereka lakoni, boleh dibilang cukup produktif. Sejak berdiri hingga sekarang, tak kurang sudah 135 buku yang ditelurkan WSC. Mereka juga sudah mengadakan berbagai event seperti pameran, talk show , launching , termasuk bedah buku. Para anggota juga aktif mengirimkan tulisan ke majalah dan koran. Selain itu, WSC juga kerap membantu menerbitkan buku para anggotanya. Tersemat harapan agar mereka dapat tetap eksis dan menjadi media bagi tiap orang agar bisa produktif dalam menulis. Meski begitu, tugas Deka belum berarti selesai. Ia masih terus berupaya mendorong perempuan untuk tetap aktif menulis dan menghasilkan karya.

“Saya ingin terus memotivasi perempuan untuk punya penghasilan dari menulis. Bekerja dari rumah. Menciptakan banyak peluang untuk punya penghasilan dari menulis dan mengajak lebih banyak lagi orang suka menulis,” kata owner Writerprenuer Club ini dengan semangat. Tertarik mengikuti jejak Deka dan member lainnya? Writer and writing trainer ini mempersilakan para perempuan untuk bergabung di WSC dengan mencari akun Women Script Community di laman Facebook. Keanggotaan terbuka bagi siapa saja.

Sri noviarni