Edisi 04-02-2019
Gizi Buruk Masih Mengancam


GIZI buruk masih membayangi peringatan Hari Gizi Nasional 25 Januari 2019 ini. Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat (Kopmas) yang peduli terhadap kesehatan anak turut mengemukakan temuannya tentang anakanak kurang gizi di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Banten.

Temuan tersebut dipaparkan dalam diskusi publik “Menuju Zero Gizi Buruk dan Stunting 2045”, Selasa (29/1) di LBH Jakarta. Ketua Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat (Kopmas) Arif Hidayat mengatakan, meskipun berdasarkan Riskesdas 2018 menunjukkan adanya perbaikan status gizi pada balita di Indonesia, ancaman gizi buruk dan stunting akan terus menghantui anak-anak di Indonesia. Hal itu berakar dari minimnya edukasi masyarakat mengenai 1.000 HPK dan tumbuh kembang anak.

“Dari hasil pemantauan kami di beberapa wilayah, permasalahan yang dihadapi masyarakat adalah akses kesehatan yang sulit dijangkau, belum memiliki atau terkendala BPJS hingga pengetahuan masyarakat tentang gizi dan tumbuh kembang anak sangat minim,” kata Arif. Melalui ini, Kopmas menyampaikan apresiasi terhadap pemerintah, Kemenkes dan BPOM yang telah mengeluarkan PerBPOM No31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan yang diharapkan dapat menjadi langkah awal perbaikan gizi masyarakat pada masa mendatang.

Terkait aturan tentang label pangan olahan tersebut, Direktur Registrasi Pangan Olahan BPOM Anisyah SSi Apt MP menegaskan BPOM segera menyosialisasikan, terutama kepada produsen. “Meski grace periode -nya ditetapkan 30 bulan, kita akan dorong pengusaha agar melakukan penyesuaian secepatnya, termasuk mengenai produk SKM,” jelas Anisyah. Berdasarkan hasil temuan Kopmas, mereka kesulitan akses kesehatan seperti BPJS Kesehatan.

Sebanyak 12 anak terindikasi mengalami gizi buruk: di Kabupaten Bandung 1 anak, Kabupaten Bandung Barat 4 anak, Indramayu 4 anak, Cirebon 2 anak dan Malang 1 anak .

Sri noviarni