Edisi 11-02-2019
Kekerasan pada Guru Harus Dihentikan


GRESIK –Kasus kekerasan yang dilakukan siswa sekolah terhadap guru kembali terjadi.

Agar tidak terulang, perlu evaluasi dan pembenahan sistem pendidikan menyeluruh dengan mengedepankan pembinaan terhadap siswa maupun sekolahnya. Dalam beberapa tahun terakhir ini tercatat ada bebe rapa peristiwa yang membuat miris di dunia pendidikan. Hanya karena tidak terima ditegur guru, siswa nekat me mukul dan mem-bully guru di ruang kelas. Kasus terkini terjadi di SMP PGRI Wringi anom, Gresik, Jawa Timur. Se orang siswa ber ini sial, AA, berani me nan tang gurunya karena tidak terima ditegur saat merokok di kelas. Sikapnya ter sebut ditun jukkan di hadapan rekan-rekan se kelasnya. AA bah kan berani memegang le her baju sang guru yang ber nama Nur Kha lim itu.

Iro nisnya, siswa lain yang ber ada di kelas hanya me nonton dan me ner tawa kan ke jadian tersebut. Pada potongan video yang beredar di media sosial, AA bahkan sempat me me gang bagian sam ping kiri ke pala Khalim. Tidak hanya itu, siswa itu juga mem bu at gerakan-gerakan provo katif dengan menge pal kan tangan seolah-olah hen dak menyerang sang gu ru. Kejadian tersebut mendapat per hati an kalangan pendidikan di Tanah Air. Menteri Pen di dikan dan Kebu da yaan Muhadjir Effendy bah kan meminta pihak terkait se gera menangani peristiwa yang kemudian viral di media sosial tersebut. Beruntung, kasus tersebut tidak berlanjut ke ranah hukum.

Guru Khalim dengan lapang dada menerima per minta an maaf AA setelah dimediasi oleh pihak kepolisian dan Dinas Pendidikan Gresik di Mapolsek Wringinanom, Gresik, kemarin. Sambil menangis, AA pun menyatakan penyesalan atas tindakannya tersebut. “Sudah cukup diselesaikan oleh sekolah, dinas pendidikan, dan aparat keamanan se - tem pat. Saya sangat meng hargai langkah yang trengginas mereka untuk mencegah halhal yang tidak diinginkan,” kata Muhadjir kepada KORAN SINDO kemarin. Dia menjelaskan, kasus tersebut sudah cukup diselesaikan oleh pihak sekolah, siswa dan orang tuanya, serta aparat keamanan setempat. Dia pun tidak menginginkan kasus ini berlanjut ke ranah hukum, melainkan cukup diselesaikan oleh sekolah.

Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini men jelaskan, kasus yang ter jadi di Gresik itu tergolong sangat spesifik. Dia meng go longkan ini sebagai perilaku menyim pang di masa remaja (juvenile delinquency). Kendati demi kian, Muhadjir tidak setuju jika kasus ini dipukul rata seolah itu sudah menjadi gejala umum perilaku siswa. Di sela-sela mediasi kemarin, Khalim mengatakan tidak akan memperpanjang kasus tersebut. Dia mengakui sempat ingin marah saat siswanya itu melecehkan dirinya. “Se be narnya saya mulai marah me rasa dilecehkan, tapi saya re dam. Kalau saya me - mukul anak nya, perilakuku itu sangat tidak terpuji dan bukan cara terbaik untuk mendidik,” kata nya. Sementara AA berjanji tidak mengulangi perbuatan tidak terpuji tersebut yang di tuangkan dalam surat per nyataan.

Tidak Terima Ditegur

Kasus kekerasan siswa terhadap guru Khalim bermula saat pengajar honorer bergaji Rp400-an per bulan itu menegur siswa kelas IX SMP PGRI Wringianom, Gresik, pada awal Februari lalu. Siswa-siswa tersebut ditegur karena saat jam pelajaran akan dimulai me - reka tidak ada di kelas, me lainkan berkumpul di warung tak jauh dari sekolah. Khalim yang saat itu menge tahui siswanya berkumpul di warung lantas menggedor pintu warung tersebut se hingga membuat sejumlah siswa kaget.

Mereka pun lalu digiring ke ruangan kelas untuk menerima pelajaran dari guru Khalim. Namun, belum sempat pe - lajaran dimulai, suasana kelas riuh oleh tingkah laku siswa yang cenderung tidak sopan. Seorang siswa, AA, bahkan be - rani merokok di kelas dan me - ngeluarkan kata-kata tidak pan tas kepada gurunya. Guru Khalim pun tak ragu menegur AA. Namun, siswa ber topi hitam itu bukannya menurut untuk mematikan ro - kok seperti diperintahkan Kha lim, namun justru bertindak provokatif.

Dia membuat gerakan-gerakan seolah-olah hendak memukul. Namun, sang guru tidak ter pancing. Khalim hanya me - natap dan tidak memberikan perlawanan. Sementara murid lainnya hanya menonton aksi tidak pantas tersebut. Mereka tidak melerai perbuatan tersebut dan hanya tertawa. Aksi perundungan yang dilakukan oleh murid terhadap gurunya itu pun viral setelah tersebar melalui media sosial dan menuai beragam komentar dari warga dunia maya.

Jangan Fokus pada Hukuman

Menanggapi terjadi kekeras an siswa kepada guru sekolah, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengatakan, ha rus ada evaluasi dan perbaikan ke depan agar tidak fokus menghukum pihak yang di ang gap salah. Menurutnya, para pemangku kepentingan harus mengede pankan pembinaan baik terhadap siswa maupun sekolah. Retno juga mengapresiasi Kepala Dinas Pendidikan Kabupa ten Gresik yang segera melaku kan pendalaman kasus dengan memanggil pihak-pihak terkait, terutama sekolah dan para orang tua siswa. “Anak tentunya wajib be lajar dari kesalahannya, namun anak juga harus diberi kesempatan memperbaiki diri,” katanya.

Jika diperlukan, ujar Retno, KPAI akan melakukan peng - awas an langsung ke Gresik. Na - mun, sebelumnya KPAI akan terus berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik terkait hasil pertemuan kemarin dan langkah tindak lanjut kasus ini. KPAI, kata Retno, juga akan berkoordinasi segera dengan Dinas Pemberdayaan Pe rem - pu an dan Perlindungan Anak (Dinas PPPA) serta P2TP2A Ka bupaten Gresik untuk pen - dampingan dan rehabilitasi psi kologis terhadap guru maupun siswa. “Rehabilitasi terhadap siswa penting dilakukan agar siswa dapat belajar dari kesalah - an, dan mau memperbaiki diri,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi X DPR Abdul Fikri berpendapat, melihat gejala ne gatif seperti kejadian di Gresik, di mana siswa berani secara demonstratif merokok di depan guru, secara kelembagaan sistem kegiatan belajar-mengajar di sekolah itu pantas disupervisi. “Karena SMP, maka dinas pendidikan kota ikut ber tang - gung jawab. Kalau SMA/K oleh provinsi sesuai UU 23/2014 (tentang Pemerintahan Daerah),” katanya. Namun, kata Fikri, jika ternyata hanya anak tertentu yang berperilaku negatif se perti merokok di kelas secara demonstratif itu, maka lembaga bimbingan dan konseling siswa harus dimaksimalkan fung - si nya di satuan pendidikan.

Adapun jika faktanya siswa itu sampai menantang gurunya berkelahi, ujar dia, hal itu berarti tujuan pendidikan di sekolah tersebut gagal. “Tentu ini harus dengan pen dampingan juga harus koordinasi dengan dinas sosial setempat dan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam penangan ABH (anak berhadapan dengan hukum),” jelasnya.

Neneng zubaidah/ sindonews