Edisi 11-02-2019
Menyiasati Pertumbuhan


Pertumbuhan ekonomi sepertinya sangat mainstream digunakan sebagai bagian utama dari tujuan pembangunan. Posisinya cukup pen ting dalam indikator pembangunan baik bagi suatu negara ataupun daerah.

Kendati demikian, dalam banyak literatur ekonomi pembangunan masih banyak indikator pemba ngunan lainnya seperti aspek pemerataan pendapatan, kemis kinan, akses ke layanan pendidikan dan kesehatan, dan ketenagaker jaan, yang sudah seharusnya turut disebarluaskan untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa pemerintah telah melaku kan banyak hal. Tujuannya ada lah agar masyarakat juga paham bahwa berbagai program pembangunan sudah banyak yang dieksekusi pemerintah. Kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia 2018 telah disampaikan oleh BPS dengan capai an sebesar 5,17%.

Hasil terse but bisa dikatakan lumayan ber hasil mengingat ada pe ningkat an ketimbang capaian pada tahun sebelumnya. Walaupun demikian, di balik itu semua capaian tersebut juga menyimpan paradoksal. Ada sebagian kelom pok ekonom yang ingin mengajak pemerintah untuk me miliki frame yang lebih luas da lam menyikapi hasil pertumbuh an. Di level ASEAN tingkat pertumbuhan di beberapa ne ga ra tetangga sangat ber po tensi memiliki capaian yang le bih baik daripada Indonesia.

Hal ter - sebut didasarkan pada ki nerja transformasi struktural dan daya saing investasi mereka yang tampak lebih menggiur kan ke - tim bang dengan apa yang sudah kita lakukan. Padahal, ke duanya menjadi kunci untuk mendapat - kan tingkat pertum buh an yang optimal dan terle pas dari middle income trap . Mari kita bedah satu per satu. Dari sisi daya saing investasi, dengan mengacu pada indeks Easy Doing of Business 2019, di tataran ASEAN kita berada di urutan keenam di bawah Singa - pura, Malaysia, Thailand, Bru nei Darussalam, dan Vietnam. Jika dikomparasikan dengan Singa - pura, jelas untuk saat ini sulit dikatakan apple to apple karena mereka daya saing bisnis mereka sudah lepas landas di pa pan atas dunia.

Jika disan ding kan de - ngan hasil riset De loitte bertajuk Global Manu fac turing Competi - tiveness Index 2016, keunggulan Singapura ter lihat pada ke ra - mah an untuk in vestasi dan iklim usaha, du kung an riset dan pe - ngem bang an yang unggul, te - naga kerja yang rata-rata ber - pen didikan tinggi, serta infra - struk tur yang kapasitasnya high quality. Si nga pura mampu men - jadi ne gara kecil yang bisa kaya karena mampu menjadi eks por - tir yang unggul untuk produk manu faktur berteknologi ting - gi. Un tuk sementara ini hanya Malay sia sebagai negara ASEAN yang mampu membayangi ke - ung gul an Singapura di sektor ter se but, dan mereka juga mampu mengakali daya saingnya dari sisi upah pekerja yang hanya se - perempat dari Singapura.

Aksi yang dilakukan Viet nam dan Thailand juga tidak dapat disepelekan karena me reka terus berkembang dan men jadi destinasi investasi yang paling favorit di ASEAN. Beragam in - sentif dan reformasi struk tural terus mereka kucur kan demi meningkatkan greget ekonomi - nya, termasuk di an taranya ge - lontoran deregulasi investasi agar para penanam modal tak kesulitan memenuhi syaratsyarat administrasinya. Peme - rintah Vietnam bahkan be rani menyediakan lahan mu rah hing - ga gratis untuk pe ngem bangan industri strategis, di mana faktor tersebut di Indo nesia terdengar seperti kisah sedih yang tak ber - ujung. Persoalan transformasi struk tural juga belum dikerja - kan dengan efektif di Indonesia.

Kita terlalu terjebak dengan euforia komoditas-komoditas perkebunan yang sempat boom - ing satu dekade yang lalu. Pada saat harga komoditas tersebut mulai merosot, secara bersama - an tingkat pertumbuhan kita juga turut anjlok. Hasil studi Bap penas bersama dengan Asian Development Bank (ADB) yang baru-baru ini dirilis meng - amini pernyataan ter sebut. Terlalu mengandalkan komo - ditas primer, beserta sek tor ma - nu faktur dan jasa dengan tek - nologi rendah kenyataan nya tidak cukup banyak meno long akselerasi perekonomian kita. Justru sekarang yang perlu dikedepankan adalah pening - katan aktivitas industri dan jasa berteknologi tinggi agar Indo - nesia mampu terlepas dari ba - yang-bayang middle income trap.

Penyelarasan Kebijakan

Banyak ekonom yang meng - anggap bahwa pertumbuhan eko nomi merupakan muara dari se luruh aktivitas pemba ngunan di suatu negara/dae rah. Untuk menjadi sebuah ne gara maju, Indonesia dituntut mampu kon - sis ten memiliki tingkat pertum - buh an berkisar 7-8% per tahun. Per tumbuhan ekonomi akan me nguat jika seluruh potensi di - kelola secara optimal melalui pro duk-produk kebijakan yang se hat. Jang kau an kebijakannya pun sifatnya multidimensional, ti dak bisa sebatas membahas ling kungan bisnis dan keuangan semata. Di luar itu masih banyak juga fak tor nonekonomi yang se - lama ini tampak kurang diper ha - tikan misalnya terkait eksis tensi sum ber daya alam (SDA), faktor sosio-budaya/kultural, kelem - bagaan, pendidikan, kese hat an, keamanan, dan sebagai nya.

Faktor-faktor itulah yang akan menjadi sumber kekuatan dan pembentukan karakter per - ekonomian kita ketika bisa di - kembangkan dan dikom bina si - kan. Karena itu, perlu pe mi kiran yang mendalam dan ter struktur untuk melahirkan ga gasan-ga - gasan revolusioner agar ting kat pertumbuhan kita tetap tinggi. Langkah awalnya, kita bisa mengadopsi bagai mana gaya kebijakan di negara-ne gara yang karakter pereko nomian serta sosiokulturalnya relatif identik dengan Indo nesia. Pertama, kondisi internal kita membutuhkan banyak per baik - an. Dari sisi struktur eko nomi, Indonesia dengan Malay sia me - miliki kemiripan dalam ke kuat - an ekonomi yang berasal dari konsumsi rumah tangga.

Teta pi, terdapat beberapa letak per - bedaan di mana Malaysia relatif lebih baik dalam pengem bang an sumber daya manusia (SDM) dan industrialisasi, khu susnya yang kastanya high tech nology. Sektor-sektor ini yang dikata kan lebih banyak men dong krak ting - kat pendapatan masyara kat ser - ta bisa me nye rap tenaga kerja le - bih besar. Di saat ber samaan kon disi inter nal kita justru se - makin kentara sedang meng - alami deindustri ali sasi. Kontri - busi sektor ma nu faktur kita ter - gerus akibat peningkat an peran sektor jasa dan besar nya biaya transaksi di sektor in dustri.

Maka itu, per ekonomian Malay - sia bisa di katakan relatif lebih aman da lam jangka pan jang ka - rena daya saing dan daya dukung ekspor mereka masih jauh lebih baik daripada Indo nesia. Vietnam perlahan-lahan ju - ga mulai melancarkan aksi pe - ningkatan daya saing SDM-nya. Hasil penilaian kemampuan sis - wa usia SD-SMA dengan pen - dekatan Program for Interna tio - nal Student Assessment (PISA) dan Trend International Mathe - matics and Science Study (TIMSS) menunjukkan bahwa skor Viet - nam lebih baik diban dingkan Indonesia. Dua pen dekatan bisa menggambarkan mutu pendi - dikan berbasis tek nologi.

Dan, di era Revolusi In dustri 4.0 ke - mampuan meman faatkan tek - nologi dan mela hir kan berbagai inovasi sangat di butuhkan un - tuk memacu ting kat penda - patan dan produk tivitas. Alokasi anggaran pen didikan Vietnam relatif sama de ngan Indonesia yakni di kisar an 20% dari total APBN. Akan tetapi, ternyata tingkat efek tivitasnya tidak se ragam. Skor PISA Viet - nam ber ada di angka 525, se - dangkan Indo nesia ha nya mam - pu mem per oleh skor 403. Sudah semes ti nya geliat pengem - bangan SDM tidak sam pai ter - benam oleh hingar-bi ngar pem - bangunan sarana-pra sara na in - frastruk tur.

Kedua, ada baiknya jika kon - sep pertumbuhan diselaraskan dengan gagasan pemerataan akses untuk hidup sejahtera. Pembangunan infrastruktur di luar Pulau Jawa sudah sepan - tasnya juga diikuti peningkatan akses yang lebih baik untuk pendidikan dan kesehatan, ser ta didukung dengan akses un tuk sektor keuangan. Gelon tor an anggaran mesti diper siap kan untuk membuka kutub-kutub pertumbuhan ekonomi yang baru, khususnya melalui indus - trialisasi sehingga masa depan Indonesia tidak hanya meng - andal kan kinerja di Pulau Jawa.

Persoalan inflasi, indeks pem - bangunan manusia (IPM), daya beli, keamanan dan iklim usaha, atau bahkan stunting yang banyak merebak di daerah luar Jawa juga semestinya perlu se - gera dituntaskan. Ketiga, secara umum per - tumbuhan ekonomi merupa kan hasil dukungan variabel yang mampu memberikan in jek si terhadap perekonomian, mulai dari sisi investasi (swasta dan pemerintah), belanja/kon sumsi rumah tangga dan peme rintah, perluasan lapangan ker ja, dan penguatan industri stra tegis yang sesuai dengan po tensi lokal.

Selain berbicara me ngenai infrastruktur dan SDM, tan - tangan untuk mening kat kan transformasi struktural juga dapat dilihat keberpihakan pe - merintah untuk menekan biaya investasi dan paket in sen tif ter - hadap sektor-sektor stra tegis. Biaya investasi yang di reflek si - kan melalui incremental capital output ratio (ICOR) di Indonesia masih tergolong cu kup tinggi, yakni 6,3% pada 2018, turun ti - pis dari tahun se belumnya 6,34%. Nilai ICOR menggam - bar kan kapitalisasi in vestasi yang dibutuhkan un tuk meng - genjot pertumbuhan ekonomi. Jika dibandingkan de ngan ne - gara ASEAN lainnya, angka ter - sebut jelas masih ku rang ber - saing karena mereka su dah di kisaran 3%.

Jika tidak se gera di - atasi, tidak hanya pe laku usaha lokal yang terganggu daya saing - nya, para investor asing juga akan berpikir logis un tuk lebih memilih berinves tasi di negara lain daripada Indo nesia. Dengan demikian, kebi jakan yang perlu disarankan se ha - rusnya berbasis pada feno mena yang terjadi, tidak bisa sekadar menggunakan insting, copy paste, atau hanya inkre mental. Sebuah kebijakan perlu diso - kong oleh data dari feno mena dan keunikan tersendiri karena latar belakang, perbeda an sua - sana yang menyelimuti, akan turut memengaruhinya.

Berang kat dari pengalaman salah satu bank BUMN terbesar di Indonesia, dalam mendesain kebijakan kreditnya kini me reka tidak lagi menggunakan para ekonom, tetapi uniknya mereka menggunakan jasa para antro - polog. Sekarang bank ter sebut menjadi yang terbaik di dunia dalam pelayanan kredit UKM dan tentunya menjadi sua tu prestasi yang layak di apre siasi. Dan, konsisten de ngan per - nyata an penulis se be lumnya, policy mix menjadi kata kunci yang penting untuk men desain kebijakan pertumbuhan eko - nomi yang tinggi.

Bauran kebijakan ini menggabungkan be - berapa aspek yang tidak hanya dilakukan oleh satu sek tor, tetapi lintas sektor/ke men terian untuk mencapai satu tu juan yang sama. Faktor leader ship dan manajemen peme rin tah an yang baik akan menjamin kualitas kebijakan yang lebih baik. Se - moga semuanya dapat kita pe - nuhi bersama.

CANDRA FAJRI ANANDA
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya