Edisi 11-02-2019
Era Digital Bisa Ancam Keutuhan Bangsa


BANDUNG - Era digital tak hanya bisa dilihat dari besarnya potensi yang bisa diraih dalam bidang ekonomi, melainkan harus juga dilihat sisi gelapnya, terutama ancaman terhadap keutuhan bangsa.

“Kita ini bersatu karena kesamaan nasib bukan karena kesamaan bahasa atau suku. Ke samaan nasib itulah yang mengikat kita untuk membuat kesepakatan yang bernama Pancasila. Inilah yang akan kita jaga bersama sampai kapan pun,” ujar Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dalam Orasi Pe - kerja Kreatif di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Kota Bandung, Sabtu (9/2) malam. Gubernur yang akrab disapa Emil itu mengatakan, sudah banyak kisah negara-negara besar yang pecah, bahkan mus - nah, seperti Afghanistan di ma - na tujuh suku besar di negara itu tak pernah berhenti bertikai. Begitu juga Yugoslavia yang kini terpecah menjadi Serbia, Bosnia-Herzegovina, dan Kr oa - sia.

“Di Afghanistan, seminar yang membicarakan industri kreatif seperti ini tak mungkin dilakukan,” ujarnya. Karena itu, lanjut Emil, ke - ragaman suku, agama, bahasa, dan ras harus dijaga agar indus - tri kreatif bisa terus tumbuh di Indonesia. Selain itu, penguat - an sumber daya manusia (SDM) juga harus dilakukan sebab ma - nusia Indonesia masa depan tak hanya harus pintar secara intelektual, tapi juga emosional. “Jangan sampai ketika ditilang, motor dirusak sendiri,” imbuhnya.

Dia menambahkan, masya - ra kat dalam beberapa tahun terakhir semakin optimistis dengan kondisi bangsanya. Op - timisme itu menjadi energi yang menggerakkan para peng - giat industri kreatif untuk terus membuat terobosan bagi mas - yarakat. “Itu hasil survei 2017, Indo - ne sia menjadi masyarakat pa - ling optimistis di dunia. Jadi, ka lau pesimistis, sebaiknya eng gak usah mengajak yang lain,” tegasnya. Wali Kota Bogor Bima Arya mengingatkan bahwa potensi generasi milenial yang akan menjadi tulang punggung bang sa di masa depan harus di - jaga dengan membangun eko - sistem kreatif yang baik. Jangan sampai justru terjebak pada konflik.

“Kita sekarang me mi - liki lebih banyak kemudahan dibanding sebelumnya. Ini yang harus kita jaga bersama,” kata - nya. Sementara itu, mantan Bu - pati Purwakarta Dedi Mulyadi mengemukakan rasa opti mis - me ini penting karena me ru pa - kan semangat yang mendorong anak muda. “Anak muda Indo - nesia itu kreatif. Potensi mereka begitu besar untuk mendorong industri kreatif tumbuh pesat,” ucapnya. Menurut Dedi, pendapatan negara dari sektor kreatif pada 2017 sudah mencapai Rp1.009 triliun.

Sedangkan pada 2018 meningkat menjadi Rp1.105 triliun dan tahun ini di targetkan mencapai Rp1.211 triliun. Kenaikan pendapatan dari industri kreatif tersebut diikuti dengan penyerapan tenaga kerja. Hingga 2017 sebanyak 17,43 juta pekerja terserap di in - dustri kreatif.

Agung bakti sarasa