Edisi 11-02-2019
Pemimpin, Generasi Milenial, dan Tantangan


Roda perubahan zaman terus berputar, dan setiap perubahan selalu menghadirkan tantangan bagi setiap generasi. Konsekuensinya, regenerasi tak bisa ditolak karena dia adalah keniscayaan yang akan selalu berproses alamiah pada semua aspek kehidupan.

Generasi milenial se karang, sejatinya, butuh p e mimpin yang mampu mem per siapkan mereka menghadapi tantangan di masa depan. Sayangnya, selama ber bulan-bulan kegiatan kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, gambaran tentang masa depan yang akan dihadapi gene rasi milenial belum dieks plorasi dengan maksimal oleh para calon pemimpin nasional. Materi kampanye yang men da pat - kan publikasi media hanya mengunyah dan meributkan isu-isu nyaris tidak substansial dan juga tidak esensial. Lebih dari itu, publik terdidik yang ber akal sehat pun kecewa dan lelah, karena ruang publik di jejali pernyataan saling hina, saling tuduh, fitnah, data resmi yang dipelintir, dan tingginya arus hoaks alias berita bohong.

Kampanye, sebagian bagian dari persiapan pilpres tahun ini, benar-benar bermutu rendahan. Alih-alih mendidik dan men cerdaskan generasi milenial, isu-isu kampanye yang digoreng berulang-ulang justru cenderung menyesatkan; menyesatkan pemahaman ten tang kondisi bangsa dan negara, menyesatkan pema haman tentang masa depan tantangan, hingga membuat sesat pikir akan urgensi mem bangun infrastruktur era sekarang demi menguatkan daya saing pada kemudian hari. Atas upaya pembodohan itu, Ibu Pertiwi pasti menangis karena mengasihani putra-putrinya. Kerja kotor seperti itu mes tinya tidak mendapatkan lagi tem pat di ruang publik.

Para orang tua, kaum pen didik, para pemimpin publik, tokoh masyarakat, termasuk para politisi yang mencintai bangsa nya, harus peduli pada tantangan masa depan bangsa. Tan tangan masa depan itulah akan dihadapi oleh mereka yang kini disebut generasi mi lenial. Suka tak suka, generasi mu da sekarang ini harus meres pons ragam tantangan yang akan bermunculan pada ke mudian hari ketika generasi se ka - rang sudah tak mampu lagi meng ikuti cepatnya roda perubah an. Seperti menyediakan dan mengarahkan pendidikan anak-anak, orang tua, para pemimpin, serta tokoh ma syara kat, pun berkewajiban mengingat kan generasi muda terkini akan tantangan mereka di masa depan.

Dalam konteks memahami tantangan masa depan, jangan paksa generasi muda untuk terus menerus melihat ke be lakang. Apalagi sekadar meng ha - fal dan mencatat kegagalan atau kesalahan generasi ter dahulu. Jangan juga cekoki me reka dengan hal-hal tak relevan de ngan tantangan masa depan. Selain melihat dan mengamati dinamika kehidupan ber bangsa serta bernegara pada era sekarang, generasi mi lenial harus didorong untuk mau melihat keluar guna memahami perkembangan dan arus perubahan yang terasa de mikian cepat dewasa ini.

Dalam kon teks ini, regenerasi di berba gai sektor menjadi tak ter - elakan. Regenerasi harus ber jalan agar mampu beradaptasi de ngan perubahan. Kesinambungan tumbuh kembang teknologi sudah meng ubah lanskap ekonomi, po litik, sosial, dan budaya. Perubahan ini mengglobal. Ba tasan atau sekat-sekat semakin tipis. Arus dana dan investasi nyaris tak lagi mengenal batas negara. Di mana tempat yang menjanjikan keuntungan, ke sanalah dana dan investasi mengalir. Saling memengaruhi pada aspek budaya pun begitu mudah berkat perkembangan teknologi media sosial.

Generasi milenial Indo ne sia sedang berada dan mera sa kan langsung arus perubahan itu. Tidak semua anak zaman now memahami konsekuensi logis dari arus cepat perubahan itu. Karena alasan itulah men ja di kewajiban para orang tua, kaum pendidik, para pemim pin publik, tokoh masyarakat, ter masuk para politisi, untuk mendeskripsikan tantangan masa depan bagi generasi mu da ter kini, baik tantangan eko no mi, politik, sosial, maupun budaya.

Beda Tantangan

Dunia sedang melakoni apa yang disebut dengan era Industri 4.0. Pertanyaannya adalah seberapa jauh semua elemen masyarakat, terutama generasi milenial, sudah memahami Industri 4.0. Apa saja kon sekuen sinya bagi generasi sekarang dan apa yang harus dipersiapkan serta dilakukan agar setiap orang muda mampu beradaptasi dan melakoni era Industri 4.0 itu? Pada era se karang, dunia kerja sedang mengalami perubahan signifikan. Ka rena digitalisasi dan oto matisasi, banyak pekerjaan tidak lagi mengandalkan keterampil an manusia.

Maka itu, ragam keterampilan apa saja yang harus dipelajari oleh orang mu da masa kini agar mereka tidak harus menyandang status peng angguran terdidik. Para orang tua, pemimpin masyarakat, dan kaum pen didik, perlu menggarisbawahi fak ta bahwa roda perubahan masa kini telah menghadirkan sejumlah pekerjaan atau profesi baru yang di masa lalu diang gap remeh atau dika te gorikan sebagai jenis pekerjaan ren dahan. Pada masyarakat per kotaan, pekerjaan jasa atau melayani tidak lagi diasum si - kan sebagai pekerjaan ka langan bawah. Selain itu, orang muda perkotaan tak malu lagi mela koni pekerjaan jual-beli barang atau menjadi juru masak yang andal.

Di masa lalu, pe kerjaan atau penawaran jasa seperti disebutkan tadi masih diang gap sebagai kerja ren dahan karena alasan gengsi. Pada tingkat global, peru - bah an pun sudah mulai dira sakan. Penetrasi kekuatan ekono mi China tampak nyata di ber bagai belahan dunia. Dunia sudah merasakan pertum buhan dan perubahan signifikan dalam perekonomian China. Karena itu, tidak berlebihan jika muncul prediksi bahwa satu dekade sejak sekarang, China akan menjadi kekuatan nomor satu dalam perekonomian dunia. Tingginya arus investasi yang masuk ke China dari seluruh dunia menjadi bukti bahwa dana dan investasi nyaris tak lagi mengenal batas negara.

Tiga dekade lalu, nyaris tak ada yang mau berbisnis di China karena negeri itu menerapkan komunisme. Kalau sudah begitu, di nami ka tantangan bagi orang muda Indonesia masa kini tentu tidak sama dengan tantangan yang dihadapi orang tua me re - ka pada zamannya. Kalau dulu orang muda Indonesia selalu melihat ke dunia Barat, Eropa dan Amerika Serikat khu susnya, generasi milenial mau tak mau dihadapkan pada alter natif lain. Munculnya kekuatan baru di Asia sebagaimana di - per lihatkan China, India, dan Korea Selatan, tentu juga harus mendapatkan perhatian khu - sus orang muda Indonesia masa kini.

Indonesia butuh pemimpin yang mampu membaca dan memahami perubahan zaman dengan segala tantangannya. Dari pemahaman itu, para pemimpin masyarakat ditun tut mampu memberi ruang dan waktu bagi generasi milenial mem persiapkan diri agar pada waktunya nanti mereka mampu merespons tantangan.

BAMBANG SOESATYO
Ketua DPR RI/Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia













Berita Lainnya...