Edisi 11-02-2019
Politikus, Surfer, Capres Termuda


ADAbanyak hal menarik dari perempuan berusia 37 tahun ini. Dia adalah veteran Perang Irak, seorang surfer, juga orang Hawaii-Amerika, sekaligus orang Hindu pertama yang terpilih sebagai anggota Kongres AS.

Dalam usia 37 tahun, dia juga akan maju sebagai bakal calon presiden dari Partai Demokrat. Sebagai seorang politikus, Tulsi dikenal sebagai tokoh konservatif yang kini mulai membuka pikiran dan memiliki ide progresif. Dia mendukung pembatasan penggunaan senjata, serta mendukung hak untuk aborsi. Sejak 2013, perempuan kelahiran 12 April 1981 ini duduk sebagai anggota Kongres (anggota DPR) AS mewakili negara bagian Hawaii. Saat itu, usianya masih 32 tahun. Sebagai orang biasa, Tulsi juga beken karena dia adalah seorang surfer yang lihai menaklukkan ombak di pantai.

Tak heran, jika muncul di depan publik, Gabbard bahkan tampil seolah seorang selebritas. Dia kerap diminta foto bersama oleh sejumlah orang. Misalkan saja saat di bandara di Kauai, dia pernah dihentikan agen T.S.A, yang ingin berfoto dengannya. Tulsi memang termasuk anomali bagi orang keturunan Samoa. Terasa kurang akrab terdengar ketika seorang perempuan yang tumbuh besar di Hawaii tertarik untuk mengikuti pemilihan presiden (pilpres) AS pada 2020 mendatang. Ditambah reputasinya sebagai surfer, kehadirannya banyak menarik perhatian pemilih muda.

Sebagai bakal capres dari Partai Demokrat, Tulsi juga menambah daftar perempuan kulit berwarna yang akan maju di pilpres, setelah Kamala Harris yang berdarah India. Teman dan pendukungnya menggambarkan Tulsi sebagai orang yang tenang. Dia bisa meyakinkan orang, bahkan dengan suara yang pelan, bahkan sedikit menghipnosis. Dia juga disebut sebagai orang yang hangat, penuh senyum dan memeluk orang dengan sepenuh hati. “Kita butuh pemimpin yang berjuang untuk orang-orang di negara ini dan berjuang untuk planet kita dan berjuang untuk perdamaian. Inilah yang menjadi fokus saya, dan saya melihat bagaimana saya bisa melayani orang-orang di negara ini,” katanya, dikutip The Glamour.

Dia juga yakin bahwa warga AS sudah siap memilih kandidat presiden wanita, yang biasanya didominasi kaum lelaki. “Saya pikir lebih banyak orang yang mencari presiden yang akan menjadi pemimpin yang melayani, yang akan menjadi juara bagi mereka, terlepas dari jenis kelamin atau ras atau apa pun,” ujarnya. Dia menegaskan dirinya akan berjuang bagi orang-orang yang merasa “dilupakan” atau “ditinggalkan”. “Di situlah saya melihat ada peluang besar. Ada rasa lapar yang hebat dari orang-orang yang menginginkan seseorang untuk memperjuangkan mereka dan seseorang untuk merawat mereka, dan tidak merasa seperti mereka telah ditinggalkan,” ujarnya.

Pengalaman militernya juga memainkan peran kunci dalam membentuk platformnya. Dalam urusan internasional, Tulsi telah berbicara tentang mengeluarkan AS dari peran polisi global, termasuk menarik dukungan militer di Timur Tengah (Timteng). Di dalam negeri, dia menggarisbawahi penggunaan uang yang dihabiskan pemerintahan Trump untuk aksi militer di luar negeri bisa digunakan untuk menangani masalah di sana. Seperti infrastruktur atau perawatan kesehatan, pendidikan, perumahan, dan lain-lainnya. Dia juga memiliki rencana reformasi peradilan pidana, melindungi lingkungan, meningkatkan perawatan kesehatan bagi para veteran, dan membuat kemajuan dalam memerangi krisis opioid.

Si Tomboi dan Kutu Buku

Ketika Tulsi memasuki dunia politik, dia baru berusia 21 tahun. Dia lahir di Samoa Amerika dan pindah ke Hawaii pada 1983, ketika dia berusia 2 tahun. Tulsi Gabbard muda dikenal sebagai sosok yang tomboi dan kutu buku. Dia juga bersekolah di rumah. Gairah politik pertamanya adalah environmentalisme, minat yang berasal dari gairahnya pada lautan. Dia tinggal di sisi timur Oahu, dan setiap kali dia di rumah, dia memulai harinya di atas air. Sang ayah, Mike Gabbard, yang mendorongnya untuk mengubah minatnya di laut menjadi tujuan politik. Politik memang seperti sudah menjadi panggilan keluarga.

Sang ibunda, Carol Proter Gabbard, memenangi kursi di Dewan Pendidikan Negara pada tahun 2000. Tulsi ingat dirinya adalah seorang remaja yang sangat pemalu. Namun, dia akhirnya menyadari bahwa rasa gelisah itu harus dihilangkan. “Jika saya takut, maka hal itu mengalahkan seluruh hal yang ingin saya lakukan,” ucapnya. Sejak saat itu, Tulsi bangkit dan melatih dirinya untuk berbicara dengan orang asing, misalkan dengan menyapa ‘aloha’. Dalam inkarnasi politik pertamanya, Gabbard menyeimbangkan environmentalisme liberal dengan gaya konservatif yang tegas.

Susi susanti