Edisi 11-02-2019
KB Suntik Kini Lebih Nyaman


SAAT ini para dokter ahli kebidanan terus melakukan penelitian dan inovasi baru untuk memberikan kenyamanan dan keamanan bagi para akseptor peserta program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia.

Penelitian tersebut bertujuan mengendalikan jumlah penduduk melalui program KB di Tanah Air dengan penggunaan beragam alat kontrasepsi. Salah satu jenis kontrasepsi yang cukup diminati para akseptor selama ini adalah obat suntik kontrasepsi bulanan. Namun, sekarang telah ditemukan obat suntik untuk jangka waktu kontrasepsi tiga bulan. Penemuan tersebut mengemuka dalam Sosialisasi Penelitian Suntikan KB Kombinasi Gestin F2 dan Gestin F3 yang digagas POGI (Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia) dan PT Harsen Laboratories yang menghadirkan puluhan dokter spesialis kebidanan dan BKKBN di Hotel Seruni, Cisarua, Kabupaten Bogor, beberapa waktu lalu.

Salah satu dokter ahli yang menjadi pembicara dari RS Adam Malik Medan, dr Ichwanul Adenin MKed(OG) SpOG (K), mengatakan bahwa obat suntik terbaru ini sebelumnya telah menjalani proses sosialisasi di lima kota di Tanah Air. “Ternyata para pasien lebih menyukai obat suntikan jenis ini karena jangka waktunya lebih lama, yakni 3 bulan sekali, dengan efek samping lebih sedikit dibandingkan obat suntik yang digunakan sebelumnya,” ucap dr Ichwanul. Deputi Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Ir Dwi Listyawardani memberikan apresiasinya terhadap hasil penelitian ini.

Menurutnya, metode suntikan dengan masa ulangan dua dan tiga bulan sekali ini sangat aman dan nyaman mengulang suntikan tersebut. Dengan ini, diharapkan peserta KB punya banyak pilihan sesuai kenyamanan yang dirasakannya. “Selama ini para akseptor kerap mengeluhkan adanya bercak, timbulnya jerawat, kenaikan berat badan, dan menstruasi yang tidak teratur. Kondisi ini tentu menimbulkan kekhawatiran, apakah mereka hamil atau tidak, apalagi umumnya para akseptor kebanyakan tinggal di pedesaan yang tidak bisa setiap hari memeriksakan kehamilannya,” tutur Dwi.

Dengan adanya tanda menstruasi, akseptor KB merasa lebih yakin bahwa dia tidak sedang dalam keadaan hamil sehingga bisa kembali meneruskan kontrasepsinya. “Jumlah pengguna metode suntik di Indonesia mencapai 50% dari seluruh peserta aktif sebanyak 26 juta pasangan dan sisanya mereka yang menggunakan IUD, implan, dan pil,” ungkapnya. Dwi menambahkan, suntikan kombinasi Gestin F2 dengan efektivitas dua bulan dan Gestin F3 yang efektivitasnya 3 bulan yang merupakan buatan PT Harsen ini nantinya bakal disukai dan diterima masyarakat bila sudah melalui serangkaian tahapan prosedur.

Saat ini suntikan kombinasi Gestin F2 dan Gestin F3 sudah menyelesaikan tahap uji klinik. Selanjutnya akan berlanjut ke ajang Fornas yang diketuai Kementerian Kesehatan, dilanjutkan sosialisasi ke berbagai organisasi profesi dan masyarakat hingga mendapatkan izin edarnya. “Metode suntikan menjadi favorit karena mudah penggunaannya dibandingkan metode IUD atau implan yang harus dilakukan orang yang kompeten. Sedangkan metode pil KB sering kali gagal karena faktor lupa minum obat, yang menimbulkan kehamilan. Adapun jumlah penggunanya sekitar 40%, ini tentu berbahaya,” ucap Dwi.

Iman firmansyah