Edisi 11-02-2019
Motor Masuk Tol di Mata Produsen Motor


WACANAmotor masuk tol atau jalan bebas hambatan disikapi para produsen motor di Indonesia dengan hati-hati. Ada yang antusias, ada juga yang masih berupaya mencermati keseriusan wacana itu. Seperti apa ceritanya?

Wacana motor masuk tol masih terus menjadi perbincangan masyarakat hingga kini. Banyak analis dan masyarakat yang menganggap ide tersebut bukanlah gagasan yang tepat saat kesadaran berkendara masyarakat Indonesia masih belum tinggi. Lalu, bagaimana pandangan para produsen motor di Indonesia mengenai wacana itu? President Director PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) Minoru Morimoto berada di sisi yang mendukung kebijakan itu direalisasikan. Ditemui seusai peluncuran motor Yamaha MX King 150 dan Yamaha MT-15, Minoru mengatakan, Pemerintah Indonesia perlu berkaca padaPemerintah Jepang mengenai kebijakan motor masuk jalan tol.

Dia mengatakan, awalnya Jepang seperti Indonesia yang melarang motor masuk tol, tetapi setelahnya mereka mengizinkan motor masuk jalan tol khusus motor dengan mesin besar. “Setelahnya, ada aturan lagi yang mengizinkan pengendara motor berboncengan melalui jalan tol,” ungkapnya. Namun, sebelumnya Pemerintah Jepang terus meningkatkan kemampuan safety riding pengendara motor. Setiap minggu mereka mengajak pengendara motor menjalani kursus safety riding . Jadi, kesadaran pengendara motor benar-benar terbentuk sebelum mampu melintasi jalan bebas hambatan.

Dia berharap Pemerintah Indonesia menjalankan kebijakan motor jalan tol dengan bertahap, mulai peningkatan safety riding hingga motor yang bisa diizinkan masuk ke jalan tol. Dia menilai, untuk tahap awal, motor yang bisa masuk tol adalah motor skutik dengan mesin lebih dari 250 cc. Alasannya, pengendara motor kelas itu dianggap berpengalaman dan mampu mengontrol dirinya. “Jadi saya mendukung semua motor masuk tol, tetapi bertahap. Maksudnya mungkin matik lebih 250 cc bisa ide bagus, sport juga memungkinkan,” ujar Morimoto.

“Saya kurang tahu pengategorian motor, tetapi ini ide pribadi saya. Bila kita buka untuk semua, apa saja bisa terjadi, kecelakaan dan sebagainya. Kita perlu secara bertahap. Ide saya, mungkin lebih dari 250 cc pilihan bagus,” ucap Morimoto. Produk Yamaha dikatakan mendukung keselamatan dari sisi produk, misalnya pada bagian rem dan handling . Meski begitu, yang menjadi pertimbangan adalah kesiapan biker secara pikiran dan mental. Jika Yamaha sedikit antusias dengan rencana motor masuk tol, produsen motor Honda di Indonesia, PT Astra Honda Motor (AHM), justru lebih berhati-hati menanggapi wacana itu.

Direktur Pemasaran PT Astra Honda Motor (AHM) Thomas Wijaya memaparkan bahwa wacana sepeda motor masuk tol perlu dilakukan kajian lebih lanjut, seperti mempertimbangkan kebiasaan mengemudi para pemotor, khususnya di Jakarta. “Kami melihat bahwa terkait motor masuk tol ini perlu studi yang komprehensif. Dalam arti, kalau motor masuk tol lihat habit konsumen, itu pertama. Lalu infrastrukturnya bagaimana, juga mengenai safety -nya,” ujarnya di Jakarta.

Misalkan, apakah jalur tol untuk sepeda motor dikhususkan atau tidak. Lalu, memikirkan kembali kebiasaan pengendara roda empat saat melaju di tol. “Jadi ini perlu pembahasan komprehensif, tidak hanya para APM, tetapi juga pemangku regulasi dan para konsumen (pengguna motor) yang lain. Kami akan mengikuti regulasi yang berlaku saja,” ucap Thomas. Hal ini senada dengan pernyataan Jusri Pulubuhu, Founder Jakarta Defensive Driving Center (JDDC) yang mengatakan pemerintah harus menyiapkan rencana pendukung apabila usulan motor diizinkan masuk jalan tol direalisasikan.

Persiapan itu perlu dilakukan agar realisasi itu tidak kontraproduktif atau membahayakan pengguna jalan. “Salah satu peraturan pendukung yang bisa dipertimbangkan itu adalah diferensiasi surat izin mengemudi (SIM). Peraturan ini akan memudahkan pihak kepolisian dalam mengidentifikasi motor yang memang diizinkan masuk jalan tol,” ujarnya. Selain itu, Jusri mengingatkan pentingnya perbaikan mental berkendara orang Indonesia sebelum izin motor masuk tol terealisasi.

“Cara kita berkendara di jalan raya tidak disiplin, sehingga kita tidak bisa membandingkan kenapa pengguna sepeda motor di luar negeri bisa masuk tol, sedangkan di sini tidak,” kata Jusri.

Wahyu sibarani