Edisi 11-02-2019
Persiapkan Tubuh dan Mental Sebelum Ikut Lari Maraton


OLAHRAGA lari, terutama maraton, saat ini semakin populer di Indonesia. Namun, sebelum melakukan maraton, ada baiknya lakukan persiapan dengan baik.

Tanpa persiapan, bukan manfaat kesehatan yang dicapai, melainkan timbul risiko cedera. Sport physiotherapy of sport science Matias Ibo mengatakan, saat ini masih banyak kesalahan yang dilakukan para pelari pemula. Salah satunya, mereka terlalu fokus pada jarak. “Misalnya, saya terbiasa lari 20 km, kemudian ada pemula yang melihat padahal belum pernah lari, dia langsung ikut 20 km. Yang pertama harus dilihat adalah kita harus paham tubuh kita bagaimana, apakah mampu atau tidak, pelan-pelan saja, terus lakukan sebagai rutinitas,” ucap Matias.

Dia menyarankan, setelah latihan lari, sebaiknya perhatikan nutrisi dengan mengonsumsi makanan yang mengandung banyak protein seperti buah-buahan berwarna merah, di antaranya tomat, semangka, pepaya, apel. Asupan tersebut baik untuk membantu kekebalan tubuh, ditambah makanan bergizi lainnya, seperti dada ayam, telur, atau brokoli. Matias menuturkan bahwa tidak ada perbedaan antara lari pagi, siang, dan malam hari, tergantung kesiapan masingmasing orang.

“Banyak sekali orang yang lari siang memakai jaket, itu sebenarnya jangan dilakukan karena justru bisa menyebabkan serangan jantung. Alasan mereka memakai jaket adalah agar keluar keringat banyak, lalu berat badan turun, itu salah. Yang ada cairan tubuh yang turun, itu berbahaya sekali,” tutur Matias. Sementara itu, untuk latihan sebelum maraton, sebaiknya lari empat kali seminggu dengan jarak tidak boleh sama agar tubuh tidak jenuh karena tubuh akan masuk dan terbiasa dengan pola tersebut dan begitu diubah akan timbul cedera.

Iman firmansyah