Edisi 11-02-2019
Atasi sejak Dini


DR Dimple Nagrani SpA dari RSIA Bunda Jakarta (Menteng) mengatakan, gejala autis sebetulnya bisa terlihat sejak anak berusia 2 tahun.

Orang tua bisa memperhatikan perilaku anak dalam kesehariannya. Misalnya, anak melakukan perilaku berulang atau repetitif dan tidak mau melakukan kontak mata. “Gejalanya dimulai dengan terlambat bicara,” kata dr Dimple yang juga membuka praktik pribadi di Happy Kids Clinic, Jalan Cempaka Putih Tengah, Jakarta Pusat. “Sebelum usia 2 tahun, gejala ini sudah ada. Makanya orang tua harus cari tahu apa yang salah. Bukan imunisasi saja yang penting, tumbuh kembang anak juga perlu diperhatikan apakah sudah sesuai tahapan usianya,” tuturnya. Yang disayangkan dr Dimple, banyak kasus ABK yang belum terdiagnosis seperti down syndrome .

Orang tua hanya mengetahui anaknya sulit makan dan pemarah tanpa mencoba mengetahui lebih jauh kondisi anak sebenarnya dan berkonsultasi ke dokter. Psikolog Rika Ermasari SPsi Ct CHt mengingatkan orang tua untuk berpikir rasional menyikapi keterlambatan tumbuh kembang sang anak. “Konsultasi ke dokter amat diperlukan tetapi jangan terlalu khawatir. Jangan pula terlalu telat melakukan pemeriksaan,” tutur Rika. Menurut Rika, setiap anak mengalami dampak berbeda dari keterlambatan tumbuh kembang pada masa golden age .

Keterlambatan tumbuh kembang memiliki dampak berbeda pada setiap anak. Umumnya anak cenderung mengalami kesulitan sosial atau emosi, misalnya tidak dapat berinteraksi, kurang tanggap, sulit bicara, juga kesulitan mengikuti instruksi. Jika keterlambatan tumbuh kembang dibiarkan, dampak jangka panjangnya anak menjadi antisosial.

(sri noviarni)