Edisi 12-02-2019
Politisasi Agama Picu Pembelahan Sosial


JAKARTA - Kehidupan beragama di Indonesia belakang an ini banyak diwarnai oleh dinamika politik. Dalam batas tertentu hal ini dinilai sangat baik.

Namun, di sisi lain, politisasi agama juga bisa memicu terjadi pembelahan sosial (social cleavage ) yang tidak sehat. Pernyataan tersebut disampai kan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Bidang Hubungan dan Kerja Sama Luar Negeri Bahtiar Effendy kepada wartawan di sela konferensi pers menjelang Sidang Tanwir Muhammadiyah di Gedung Pusat Dakwah Muham madiyah, Jakarta, ke ma rin. Menurutnya, dalam ke hidupan perpolitikan Indonesia dalam tingkat tertentu me - mang tidak bisa dilepaskan dari persoalan agama. Sejak berdiri bahkan republik ini dimer de - ka kan antara lain karena faktor agama di mana para kiai dan tokoh agama aktif berjuang.

“Para pendiri republik juga menekankan dimensi agama yang sangat kental di dalam dasar negara kita, Pancasila dan UUD 45. Hanya saja, yang muncul beberapa waktu ter - akhir ini di mana warna po li - tiknya sangat kental, seolaholah dinamika agama itu me - nyebabkan timbulnya social cleavage yang tidak sehat, pem - belahan sosial yang tidak sehat. Dan, dalam banyak hal yang seperti itu memunculkan po - pu lisme Islam, populisme aga - ma, termasuk Islam, tapi juga (agama) yang lain,” tuturnya. Menurutnya, gambaran yang terjadi belakangan ini se - bagian kelompok masyarakat memberikan reaksi terhadap berkembangnya politik yang di rasa amat sangat liberal.

“Nah, ini kita rasakan kurang sehat semua ini. Nah, kita Mu - hammadiyah ingin memb eri - kan pandangan-pandangan Mu hammadiyah bagaimana agama itu bisa mencerahkan kehidupan sosial, ekonomi, dan politik kita. Jadi spiri tu - alitas yang tidak men di ko to - mikan warga negara, baik da - lam konteks sosial, ekonomi, maupun politik,” urainya. Bahtiar mengatakan, hal se - perti ini sebenarnya tidak ha - nya terjadi di Indonesia, na - mun juga di negara-negara lain termasuk di Eropa Barat, Ame - rika Latin, bahkan Amerika Utara yang seolah-olah agama menjadi sesuatu yang tidak bersifat integratif.

“Nah , ini yang coba Muhammadiyah ingin elaborasikan nanti di da - lam Tanwir, bagaimana kita sebagai sebuah negara dengan mayoritas penduduknya ber - ag ama, dan keberagamaan itu yang mencerahkan, yang m e - nyatukan, yang tidak menjadi sumber pembelahan sosial mau pun politik,” tuturnya. Sementara itu, dalam Si - dang Tanwir yang akan digelar di Bengkulu pada 15-17 Feb - ruari 2019, PP Mu ham ma - diyah rencananya akan meng - undang dua tokoh utama da - lam perpolitikan Tanah Air saat ini, yakni dua calon presiden (capres) Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto.

Bahtiar mengatakan, PP Muham ma - diyah ingin mendengarkan pan dangan dari dua tokoh ter - sebut, termasuk ingin agar kampanye yang dilakukan dua pasangan calon dan tim suk - sesnya bisa dilakukan dengan kampanye yang mencerahkan, bukan kampanye yang mem - buat pembelahan sosial yang tidak produktif. “Kita ingin mendengar se - cara lebih utuh, terutama untuk Pengurus Muham ma di - yah yang ada di wilayah me - ngenai pikiran-pikiran Pak Jo - kowi dan Pak Prabowo tentang hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan dan kebangsaan,” katanya. Sementara dalam meng - hadapi pemilu serentak, baik Pemilihan Presiden (Pilpres) maupun Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, Muhammadiyah secara kelembagaan menya takan netral.

Kendati begitu, secara persyarikatan warga Muhammadiyah diimbau meng - gunakan hak pilihnya masingmasing. “Netral itu bukan berarti tidak menentukan pilihan se - hingga warga persyarikatan Muhammadiyah sekali lagi kami imbau untuk meng gu - nakan hak politiknya sesuai dengan pedoman kehidupan Islami Muhammadiyah,” ujar Sekretaris Umum PP Mu - hammadiyah Abdul Mu’ti. Sebelumnya mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Amien Rais meminta agar war - ga Muhammadiyah harus me - nentukan arah dukungan pol i - tiknya pada Pilpres 2019. Me - nurut Mu’ti, apa yang di sam - paikan Amien benar memang Muhammadiyah harus me - nen tukan sikap politiknya. Na - mun, sikap politik Mu ham - madiyah adalah tidak men du - kung Jokowi maupun Prabowo Subianto.

“Karena kalau men - du kung salah satu pasangan, berarti kita berpolitik praktis dan selama ini belum pernah terjadi di Muhammadiyah,” kata Mu’ti. Dalam Sidang Tanwir nanti akan dibahas empat agenda besar yang berkaitan dengan persoalan organisasi, keumatan, dan kebangsaan. Pertama , secara organisasi akan dibahas perubahan anggaran rumah tangga Muhammadiyah. Kedua , akan disampaikan pokokpokok pikiran Muham madiyah tentang kehidupan ke - umatan dan kebangsaan. Ketiga adalah ceramah dari para tokoh nasional seperti Jokowi dan Prabowo Subianto. “Keduanya kita undang dalam kapasitas sebagai tokoh nasional, bukan sebagai capres,” kata nya.

Keempat adalah pemba has an yang berkaitan dengan pro gres atau dinamika persya ri katan Muhammadiyah baik di level nasional maupun level pimpinan wilayah. Peserta Si dang Tanwir adalah PP Mu - hammadiyah, pimpinan wilayah seluruh Indonesia, dan pim pinan ortum tingkat pusat dan para peserta tanwir yang terdiri atas ketua sekretaris di tingkat pusat serta peninjau.

Abdul rochim