Edisi 12-02-2019
12 Tahun Hilang di Yordania, Gaji Tak Dibayar Majikan


JAKARTA – Perlakuan buruk dari majikan tak pernah dibayangkan oleh DiahAnggrain, 35, saatberangkatuntuk mencari rezeki dengan menjadi pekerja migran ke Yordania.

Warga Kedung-kandang, Malang, Jawa Timur, itu berangkat ke Yordania sejak 5 Oktober 2006melaluiPTSafinaDahaJaya. Setiba di tempat tujuan dia bekerja di tempat majikannya. Namun, beberapa saat setelah be kerja Diah justru tak diberi akses ko mu nikasi, tak memperoleh hak-haknya sebagai pekerja dan gajinya pun tak dibayar oleh majikan. Keluarganya di Malang kebingungan karena ke hilangan kontak dengan Diah selama 12 tahun. Kedutaan Besar Republik Indo - nesia (KBRI) di Amman, Yordania, pun me nerima laporan. Kemudian KBRI me nyelidiki dan berkoordinasi de - ngan berbagai pihak.

Setelah me laku - kan serangkaian penelusuran dan penye lidikan, KBRI akhirnya ber - hasil me nemukan Diah dan langsung meng ontak keluarganya di Malang. SaatdiinvestigasidiawalDesem ber 2018 ditemukan keterangan bahwa Diah tidak diurus dokumennya sejak 2014 dan tidak ada kejelasan tentang gaji serta hak-hak ketenagakerja an - nya selama 12 tahun. Saat diwawancara oleh petugas KBRI, Diah tidak mampu ber komu - ni kasi dengan bahasa Indonesia de - ngan baik. Atas dasar ini, diputuskan untuk membawa Diah tinggal di Griya Singgah KBRI di Amman untuk diper juangkan hak-haknya, ter ma - suk gajinya yang belum dilunasi oleh majikannya.

“Diah dalam keadaan sehat dan akan segera dipulangkan setelah kasusnya diselesaikan,” kata Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia untuk Yordania dan Palestina Andy Rachmianto melalui siaran pers Biro Humas Kementerian Ketenaga - kerjaan (Kemenaker) kemarin. Di Griya Singgah KBRI Diah terus melakukan penyesuaian dan belajar bahasa Indonesia secara intensif dan menyelesaikan pelatihan health massage yang diselenggarakan KBRI. Saat ini, kondisi Diah sudah mampu kembali berkomunikasi dengan ba - hasa Indonesia.

Bahkan, Diah begitu gembira dapat berkomunikasi secara langsung melalui video call dengan ibunya di Tanah Air. Meski tak terbendung rasa haru - nya, Diah tetap tak lupa memberikan apresiasi kepada Dubes RI untuk Yordania dan Palestina serta petugas KBRI di Amman yang telah mem - bantu dan segera memulangkannya ke keluarga di Jawa Timur. “Saya gem - bira sekali dan memang sudah lama hilang kontak dan tidak berkomuni - kasi dengan keluarga. Saya ingin se - gera pulang dan bertemu kedua orang tua di kampung halaman (Malang),” ujar Diah. Suseno Hadi, Atase Ketenaga kerja - an KBRI di Amman, mengung kap kan, KBRI telah memanggil majikan tempat Diah bekerja selama ini.

Majikannya pun bersikap kooperatif dan berjanji akan menyelesaikan pembayaran gaji - nya sebesar USD9.000 atau setara de - nganRp126jutadengankursRp14.000. “Gajinya sebesar 2/3 telah diba yar - kan oleh majikannya. Tinggal sisanya 1/3 lagi yang belum dibayarkan, serta denda izin tinggal yang sampai saat ini belum dibayar majikannya,” kata Suseno. “Terhitung mulai 10 Februari 2019 pengumuman Amnesti yang diberikan oleh Pemerintah Yordania telah diberlakukan. Dipastikan tidak lama lagi Diah dapat segera kembali ke tanah air.”

Presiden Union Migrant Indo nesia (Unimig) Muhammad Iqbal ber pen - dapat, peme rin tah harus segera me - lakukan pendataan siapa saja yang merasa kehi langan kon - tak dengan anggota keluar ga - nya yang menjadi pekerja migran. Sebab, di duga kasus Diah merupakan fenomena gunung es yang dibaliknya masih banyak tenaga kerja Indo nesia yang menjadi korban. “ P emerintah harus proaktif untuk men data keluarga yang lost contact sehingga bisa dide teksi di mana saja mereka bekerja. Apakah mereka di sekap, dikurung, atau dipi dana karena sebuah kasus,” katanya.

Neneng zubaidah