Edisi 12-02-2019
Kapal Perang AS Melintasi Wilayah yang Dikontrol China


WASHINGTON - Dua kapal perang Amerika Serikat (AS) berlayar dekat kepulauan yang diklaim Beijing di Laut China Selatan, kemarin.

Langkah tersebut membuat marah China saat hubungan kedua negara memburuk akibat konflik dagang. Beijing dan Washington juga berupaya menandatangani ke - se pakatan dagang menjelang batas waktu 1 Maret saat tarif AS untuk produk impor China senilai USD200 miliar di-jad - wal kan naik menjadi 25% dari 10%. Eskalasi ketegangan an - tara AS dan China merugikan dua negara itu hingga miliaran dolar dan mengguncang pasar keuangan global. Dua kapal destroyer dengan rudal kendali itu berlayar dalam radius 12 mil laut dari Mischief Reef di Kepulauan Spratly. Oper asi itu merupakan upaya terbaru AS melawan upaya China membatasi kebebasan navigasi di perairan strategis itu.

China mengklaim hampir seluruh wilayah strategis Laut China Se - latan yang juga diklaim Jepang dan beberapa negara Asia Te ng - gara. Beijing dan Washington juga saling kecam terkait kon - trol China di wilayah maritim tersebut. AS menuduh China me la - kukan militerisasi Laut China Selatan dengan membangun berbagai fasilitas militer di sejumlah pulau buatan. Beijing menganggap pembangunan itu penting untuk pertahanan diri dan AS bertanggung jawab ka - rena meningkatkan ketegang - an di wilayah itu dengan me - ngirim sejumlah kapal perang dan jet tempur ke kawasan itu. Vietnam, Filipina, Brunei, Malaysia, dan Taiwan, juga me ng - klaim kawasan tersebut. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China telah mem pro tes tindakan AS yang mengirim dua kapal perang dekat ke pu lauan Spratly itu.

“Kapal-kapal itu masuk perairan tanpa izin China,” ungkap juru bicara Kem - lu China Hua Chunying saat konferensi pers harian, kemarin. Kekhawatiran juga me ning - kat dalam beberapa bulan ter - akhir karena konflik dagang AS-China serta kritik para pe - jabat AS pada China terkait pelanggaran hak asasi manusia (HAM) hingga spionase siber di AS. Dua negara juga berselisih dalam masalah keamanan re - gional, termasuk dukungan Wa shington pada Taiwan yang oleh China diklaim sebagai ba - gian wilayahnya. Sebelumnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) me mperingat kan rencana AS me - naik kan tarif pada barangbarang China bulan depan akan berdampak masif pada ekonomi global.

AS berencana menaikkan tarif untuk produk China jika dua pihak gagal men - capai kemajuan dalam ke se pa - katan dagang pada 1 Maret. Peringatan itu muncul se - telah laporan oleh badan per da - gangan PBB tentang dampak perang dagang AS-China. Me - nu rut PBB, negara-negara Asia akan merasakan dampak paling buruk akibat proteksionisme. China dan AS terlibat perang dagang hingga kedua pihak sa - ling menerapkan tarif besar pada sejumlah produk bernilai miliaran dolar. Pada Desember, kedua negara sepakat meng - hen tikan tarif baru selama 90 hari untuk memberi waktu per - undingan.

Konferensi PBB untuk Per - dagangan dan Pembangunan (Unctad) memperingatkan akan ada biaya yang besar jika terjadi eskalasi perang da - gang. “Dampaknya akan be - sar,” kata Pamela Coke-Ha mil - ton, kepala Untad saat kon - ferensi pers. “Dampak untuk seluruh sis - tem perdagangan internasional akan sangat negatif. Negaranegara termiskin dan terkecil akan kewalahan menghadapi guncangan eksternal,” ungkap dia. Biaya yang lebih tinggi dalam perdagangan AS-China akan memicu perusahaan-per - usahaan menjauh dari jaringan suplai saat ini di Asia Timur.

Syarifudin