Edisi 12-02-2019
Politik Luar Negeri dalam Debat Capres


Kita telah menyak sikan debat pertama calon presiden-calon wakil presiden. Ada empat debat selanjutnya masih menunggu. Debat paling de kat dinantikan publik terjadi pada tanggal 17 Februari 2019.

Publik belum tahu, apakah isu politik luar negeri akan menjadi salah satu topik khusus dalam perdebatan capres. Tetapi, be la - jar dari pengalaman debat ca pres sebelumnya, isupolitikluarne ge - ri tidak pernah mengemuka secara distinctive. Pemilihan pim - pin an nasional kali ini harus didorong untuk memasukkan isu politik luar negeri sebagai ma teri perdebatan capres yang la yak di - cer mati konstituen pemilih. Setidaknya tiga alasan me - ngapa isu politik luar negeri harus menjadi topik perdebatan capres kali ini. Pertama, In do nesia memiliki kredensial global yang membuatnya ber penga - ruh sebagai middle power.

Postur dan size geo-strategis itu ter - cermin dalam aktivitas di plomasi Indonesia di ASEAN, EAS, G-20, IORA, APEC, OKI, dan PBB. Kedua, kecenderungan du nia saat ini membuat ma sya - ra kat Indonesia termasuk ke - lom pok yang mudah dipe nga - ruhi oleh efek situasi global mau pun isu-isu internasional atau vice versa. Kita telah me - nyak sikan hal itu dalam kon tro - versi pembebasan Ustaz Abu Ba kar Basyir, rencana pe min - dahan Kedubes Australia ke Ye - ru salem, maupun dampak pe - rang dagang AS-China. Ketiga, hu bungan antarnegara yang cair dan flat telah mengubah po la relasi yang tadinya bertumpu pada territorial sovereignity menjadi global citizen.

Tantangan terberat bagi siapa pun yang terpilih sebagai pre siden adalah bagaimana me - nakhodai Indonesia di tengah kelimpungan broken world. Da - hulu para pendiri republik ini membidani politik luar negeri dengan konsep rowing between the two reefs (mendayung di an - tara dua karang). Mereka me li - hat dua kutub kontras, AS dan Soviet, yang mesti disikapi prag - matis. Kemampuan mengawal kepentingan nasional di antara benturan ideologis kedua blok ter sebut merepresentasikan visi politik luar negeri yang res - pon sif dan antisipatif ketika itu. Besarnya kepentingan yang dipertaruhkan serta keseimbangan geopolitik yang harus di - pikul Indonesia, membuat kon - sep rowing between the two reefs pada era perjuangan dimodifikasi dengan doktrin SBY dalam era pembangunan berbunyi navi gating the turbulence ocean.

Per geseran doktrin itu semakin me - ngukuhkan bahwa kre den sial politik luar negeri In do - nesia selalu me - lihat orientasi in - ter na sional s eb a - gai refleksi agen da domestik yang sa - ling ber pe ngaruh secara timbal balik. Per tanyaan men - dasar kini meng ga - yu ti publik adalah apakah cara pan - dang seperti itu re - liable dari masa ke masa hingga saat ini dan ke depan. Visi tersebut se - benarnya layak dan ingin diketahui pu - blik.

Debat capres se jauh ini be lum menyentuh seg - men politik luar negeri sebagai sa - lah satu topik per - debatan. Padahal pos tur dan ukuran Indonesia dalam konstelasi global inheren de ngan kebutuhan untuk meng uji pengaruh dan lea der - ship inter nasional yang bisa diperankan Indonesia. Publik domestik pun pasti ingin menyaksikan efek Indonesia di panggung global itu, se ba - gai mana dahulu mereka me li - hat nya di bawah Soekarno dan Soe harto. Apalagi situasi mau - punatmosferduniasaat inidima - ta banyak analis berada da lam kondisi dangerous drift sebagai konsekuensi pengelolaan re la si antarnegara-negara besar (ma jor powers) yang dilakukan se cara rush dan negligent (sembrono).

Setiap pemimpin punya tingkat perhatian berbeda-beda dalam isu politik luar negeri. Se mua itu sangat tergantung pada cara pandang masing-masing calon presiden meletakkan entitas In donesia dalam per ca - turan diplomasi internasional. Model dan karakter inward looking atau for ward looking yang di miliki se orang calon pemimpin akan sa ngat me ne - ntukan ben tuk dan int ensitas pengelolaan atau pe man faat - an hubungan luar negeri yang ingin dicip ta kan. Cuma satu hal utama mesti di sadari bahwa keinginan bold ter sebut hanya akan bisa di - artikulasikan baik, jika calon pre siden punya ambisi atau agen da untuk mewariskan le - ga litas internasional dalam isuisu mencerminkan kepenting - an stra tegis Indonesia.

Be berapa pe mimpin negara-negara me di um power, seperti Brasil, Turki, Australia, Afrika Selatan, India, atau Korea Selatan, telah men demonstrasikan postulat “ma king foreign policy work”, de ngan menunggangi isu-isu po litik luar negeri secara sis te - ma tis dan berorientasi. Dengan kata lain, bagi negara-negara itu politik luar negeri adalah extre mely serious business. Bagi mereka, power dan in - fluence dalam politik luar ne - ge ri merupakan dua hal saling ter kait dan menjadi direct in - terest negara-negara ter sebut. Se men tara bagi In do nesia, bert - in dak atas nama dua kepen ti ng an itu mesti memiliki konteks be - nefit lebih luas bagi dunia dan In donesia sendiri.

Orien tasi de - mikian ti dak bertu ju - an he gemonik, karena In do nesia tidak me - miliki tradisi agresif, tetapi pelaksanaan po litik luar negeri ber - basis pa da common pur pose untuk tujuan pem ba ngunan dan ekonomi bersama. Fokus perhatian se perti ini mungkin pen ting bagi publik un tuk dieksplorasi le - bih jauh pada figur-fi - gur calon presiden maupun calon wakil pre siden yang kini te - ngah bersaing me raih perhatian pemilih.

De bat publik dengan salah satu top ik nya tentang politik luar negeri akan memberikan sinyal jer nih ke pada dunia inter nas io nal bah wa presensi Indonesia di panggung global akan selalu match dengan postur dan uku rannya. Syukur-syukur, Indonesia mam pu melakukan hal itu, punch above itís weight . Ber kreasi dalam isu politik luar negeri di atas ke mam puan ob jektif nya.

MUHAMMAD TAKDIR
Alumnus Geneva Centre for Security Policy (GCSP), Swiss








Berita Lainnya...