Edisi 12-02-2019
Targetkan 20 Juta Wisman, Turis Negara Tetangga Dibidik


JAKARTA – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tahun ini menargetkan kunjungan wisata wan mancanegara (wisman) sebanyak 20 juta orang.

Untuk merealisasikan target tersebut, pemerintah menerapkan strategi super extraordinary sebagai jurus pamungkas. Jurus pamungkas tersebut mencakup tiga program, yaitu Border Tourism, Tourism Hub, dan LowCostTerminal.“BorderTourism harus kita seriusi karena merupa - kan cara efektif untuk mendatang kan wisman dari negaranegara tetangga,” kata Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya di Jakarta belum lama ini. Arief Yahya menjelaskan hal itu akan efektif karena wisman dari negara tetangga memiliki faktor kedekatan (proximity) secara geografis sehingga wisman lebih mudah, cepat, dan murah menjangkau destinasi di Indonesia.

Mereka, lanjut Menpar, juga memiliki kedekatan kultural/ emosional dengan masyarakat di Tanah Air sehingga lebih mu dah didatangkan. “Potensi pa sar Border Tourism masih sangat besar, baik dari Singapura, Malaysia, Thai land, Filipina, Papua Nu gini, mau pun Timor Leste,” katanya. Selain itu, Kemenpar juga m e n e r a p k a n program Tourism Hub yakni strategi layaknya men jaring di kolam tetangga yang sudah banyak ikannya. Maksud nya, wisman yang sudah berada di hub regional seperti Singapura dan Kuala Lumpur di - tarik untuk melanjutkan berlibur ke Indonesia. Menurut Arief Yahya, harus diakui bahwa salah satu per - soalan pelik pariwisata Indo - nesia adalah minimnya fasilitas penerbangan langsung dari originasi. Penerbangan lang - sung misalnya dari originasi China mencapai 50%, artinya 50% sisanya masih transit dari Singapura, Kuala Lumpur, atau Hong Kong.

Sementara negara tetangga seperti Thailand atau Malaysia fasilitas penerbangan lang - sung nya sudah mencapai 80%. “Mendatangkan direct flight dari originasi bukanlah hal gam - pang. Saya minta direct flight dari India ke Bali tiga tahun enggak dikasih. Akan jauh lebih mudah jika kita menjaring di hub-hub regional yang sudah banyak wisatawannya,” kata Arief Yahya. Menpar mengestimasikan jumlah orang asing yang masuk via bandara Singapura (selain orangIndonesia) selama12bulan terakhirhampirmen capai12juta pax (rinciannyameliputi 32% dari ASEAN minus Indonesia; 22% dari China-Hong Kong; 17% dari Asia-Pasifik; 14% dari Asia Tengah, MEA, Afrika; dansisanya dari Eropa dan Australia).

Sementara wisman ke Indo - nesia yang transit di bandara Singapura jumlahnya tidak sam pai 700.000. “Artinya, pe - luang untuk menggaet wisman yang jumlahnya sekitar 11 juta lebih itu masih terbuka luas,” paparnya. Dalam program Low Cost Carrier Terminal (LCCT) juga di - harapkan akan mendatangkan dampak positif. Menurut ren - cana Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta akan dikem - bangkan menjadi full LCCT penerbangan domestik dan Ter - minal 2 full LCCT untuk penerbangan domestik dan internasional. Di sisi lain Bandara Banyuwangi juga dikembangkan menjadi LCCT setelah melalui berbagai proses pembenahan.

Seperti diketahui, Indonesia dikunjungi 15,81 juta wisman selama 2018 atau naik sekitar 12,58% dibandingkan periode yangsama2017berjumlah14,04 juta. Menurut kebangsaan, kun - jungan wisman ke Indo nesia selama 2018 terbanyak dari Malaysia mencapai 2,50 juta (15,83%) dari total kunjungan sehingga berada di urutan ter - atas menggeser posisi wisman dari China sebanyak 2,14 juta (13,52%). Selanjutnya yakni Singapura 1,77 juta (11,19%), Timor Leste 1,76 juta (11,15%), dan Australia 1,30 juta (8,23%). Sementara itu, kunjungan wisman 2018 berdasarkan wilayah pasar, kunjungan wisman dari wilayah ASEAN pada 2018 sebanyak 5,45 juta atau tumbuh 20,60% dibandingkan 2017 sebanyak 4,52 juta.

Sedangkan wila yah Asia selain ASEAN sebanyak 5,84 juta atau tumbuh 14,11% dibandingkan tahun sebelumnya mencapai 5,12 juta. Wilayah Timur Tengah seba - nyak 226.900 atau minus 6,13% dibanding tahun lalu sebanyak 284.400 wisman. Sementara dari wilayah Eropa se ba - nyak 2,008 juta atau tum - buh 1,76% dibanding kan tahun sebelumnya seba nyak 1,97 juta. Wilayah Amerika tercatat 567.700 atau tumbuh 5,71% dari 2017 sebanyak 537.000. Wisman dari wilayah Oseania (Australia, Selandia Baru, Papua Nugini, dan Oseania lainnya) mencapai 1,57 juta tumbuh 4,43% dibandingkan 2017 sebanyak 1,50 juta.

Sementara itu, kunjungan wisman dari wilayah Afrika ke Indonesia pada 2018 tercatat 88.600. Jumlah wismanyang ber kun - jung tersebut tidak men capai dari target yang ditetapkan 17 juta sepanjang 2018. Menpar mengapresiasi para pelaku industri hotel dan res - toran yang telah berkontribusi besar terhadap dunia pari wisata Indonesia. “Bidang akomodasi dan kuliner menjadi penyum - bang pendapatan terbesar bagi sektor pariwisata Indonesia dengan jumlahnya mencapai 60%, yangterdiriatas40% untuk hotel dan 20% kuliner atau restoran,” kata Arief Yahya saat memberikan paparan dalam Rakernas Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) IV di Jakarta kemarin.

Wisman, katanya, cende rung akan kembali ke sebuah destinasi jika mendapatkan pelayanan akomodasiyangbaik. Apalagi jika ditunjang pengalaman berwisata kuliner yang berkesan. Ketua Umum PHRI sekali - gus Ketua Umum Program Visit Wonderful Indonesia Haryadi B Sukamdani mengatakan, sepan jang 2018 jumlah wisman yang berkunjung ke Indonesia sekitar 15,8 juta orang dan pergerakan wisatawan Nusan - tara sebanyak 265 juta. Karena itu, lanjutnya, target 20 juta wisman pada 2019 harus disukseskan dengan strategi yang tepat.

“Tahun ini kami men dukung pemerintah de ngan membuat program-program untuk meningkatkan okupansi di bidang hotel atau restoran,” kata Haryadi. Tidak hanya itu, pihaknya juga membuat strategi untuk produk hot deals yang belum mak simal. Di samping kerja sama business to business dengan maskapai dan travel online besar. “Kami meyakini itu menjadi strategi yang ampuh untuk menggapai target 20 juta wisman,” katanya.

Sudarsono/ant