Edisi 12-02-2019
Ekspor Produk Industri Kecil dan Menengah Ditargetkan Naik 10%


JAKARTA –Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan ekspor produk industri kecil-menengah (IKM) bisa tum buh 10%. Produk IKM tersebut diharapkan bisa me nyasar pasar Amerika Serikat dan Eropa.

“Targetnya, kami ingin menyasar pasar Amerika dan Eropa karena perekonomian mereka secara fundamental lebih man tap,” ujar Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawa ningsih di Jakarta, kemarin. Menurut dia, produk IKM memiliki segmentasi pasar yang spesifik karena pasar dari kedua negara tersebut bisa menerima - nya. “Untuk IKM yang produk - nya segmented, pasar Amerika dan Eropa yang bisa menerima produk lebih spesifik khususnya yang craft,” ungkapnya. Selain produk-produk kera - jin an, produk IKM lain yang di - dorong melakukan ekspor antara lain IKM makanan dan minum an, IKM elektronika, IKM kom pon en automotif, serta IKM teks til dan produk tekstil.

Sebelumnya, nilai ekspor kerajinan tahun 2017 mencapai USD776 juta. Angka ini naik 3,8% dari tahun 2016 sebesar USD747 juta. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tahun 2015 ada sekitar 695.000 industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur), barang anyaman dari rotan, bambu, serta sejenisnya. Setiap tahun nilai tambah IKM ini terus melonjak naik. Bila pada 2014 nilai tambah sekitar Rp25,356 triliun, pada 2015 naik menjadi Rp26,743 triliun. Dalam mendukung pening - kat an ekspor produk industri digital dan kreatif, Kemenperin membuka kesempatan go inter - national melalui program Asia Entrepreneurship Training Program(AETP) untukmem bina perusahaan rintisan (startup).

Seiring dengan peta jalan Making Indonesia4.0, pro grampelatihan itru ber tujuan mendorong per - usahaan rintisan di Tanah Air untuk bisa bersaing di dunia bisnis global. “Kami ingin startup Indonesia mendunia serta mem perkuat brand Indonesia sebagai negara industri kreatif dan digital,” kata Gati. Gati mengatakan, startup yang terpilih mengikuti pelatih - an adalah mereka menjadi juara dan finalis pada acara Semarak Industri Kecil Menengah (IKM) 2018 yang digelar Kemenperin. Startup yang ikut serta dalam pelatihan terdiri dari berbagai bidangantaralainfesyen, digital, dan kosmetik.

Dalam kesempatan ini, juga dilakukan soft launching Swiss- Indonesian Acceleration Startup Program merupakan kegiatan akselerasi startup yang memungkinkan terbukanya akses eko sis - tem startup antara Swiss dan Indonesia. Program itu dilaksanakan paralel di Swiss dan Indonesia dengan waktu bersamaan untuk peserta program di Swiss dan Indonesia. Tujuannya agar mereka bisa saling berinteraksi dan membuka peluang bagi para startup di Tanah Air untuk memperluas jaringan. “Kegiatan seperti ini bisa membuka cakrawala startup Indonesia untuk mengetahui perkembangan dunia bisnis global,” tutur Gati.

Oktiani endarwati